Menuju konten utama

Wagner Group: Tentara Bayaran dari Rusia yang Merajalela di Afrika

Warner Group, jaringan bisnis tentara bayaran Rusia, dimanfaatkan oleh sejumlah rezim Afrika untuk membantu meredam pemberontakan atau menindas rakyatnya.

Wagner Group: Tentara Bayaran dari Rusia yang Merajalela di Afrika
Ilustrasi Tentara Rusia. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Benua Afrika tidak satu suara dalam menyikapi invasi Rusia ke Ukraina. Hanya 28 negara yang menyatakan mengutuk tindakan tersebut dalam resolusi Majelis Umum PBB yang dikeluarkan awal Maret silam. Sebanyak 17 negara memutuskan abstain (termasuk Afrika Selatan) atau hampir sepertiga dari anggota Uni Afrika; 8 tidak memberikan suara; dan 1 menyatakan menolak (Eritrea, selama ini disorot karena memiliki riwayat represi dan penindasan HAM).

Olayinka Ajala, pengajar hubungan internasional di Leeds Beckett University, menulis di The Conversation bahwa ketergantungan terhadap Rusia di sektor keamanan, pertahanan, dan militer adalah salah satu alasan mengapa banyak negara di Afrika diam.

Stockholm International Peace Research Institute mencatat Rusia menjadi penyuplai senjata terbanyak di Afrika sepanjang 2017 hingga 2021. Kontribusinya mencapai 44 persen dari total impor senjata. Sementara kerja sama militer yang telah terjalin antara 2014 sampai 2018 sedikitnya berjumlah 19.

Selama ini kemitraan dengan Rusia sangat bermanfaat bagi banyak negara Afrika untuk meredam berbagai berbagai gerakan dan pemberontakan. Nigeria menggunakan senjata dan pelatihan dari Rusia dari kerja sama tahun lalu untuk memerangi militan islamis Boko Haram dan grup Negara Islam dari Afrika Tengah. Sementara Etiopia yang juga menjalin kerja sama tahun lalu memakainya untuk menghadapi konflik dengan pemberontak dari kawasan Tigray.

Beberapa aliansi militer Rusia-Afrika bisa dikatakan relatif mapan karena sudah dibangun sedari era Perang Dingin, persisnya sejak dekade 1960-70. Pada masa itu Uni Soviet banyak memberikan dukungan politik, senjata, sampai pelatihan militer kepada kelompok dan pemerintahan marxis di Afrika.

Proksi Kremlin: Tentara Bayaran Wagner

Relasi Rusia-Afrika tidak terbatas di level pemerintahan saja. Sejumlah rezim juga menyewa tentara bayaran milik jaringan kontraktor swasta Rusia. Salah satu yang kerap disebut adalah Wagner Group.

Meskipun terdengar seperti nama perusahaan yang valid, organisasi ini sebenarnya tidak eksis secara hukum. Pasalnya, konstitusi Rusia melarang segala bisnis yang menawarkan jasa tentara bayaran atau Private Military Company (PMC).

Wagner pertama kali beroperasi saat Rusia menganeksasi Krimea pada 2014 silam. Mereka dikirim ke Donbas, kawasan timur Ukraina, untuk mendukung kelompok separatis dalam memerangi pasukan nasional Ukraina. Wilayah tersebut kini sudah menjadi Republik Rakyat Donetsk dan Luhansk—dan tentu saja diakui Kremlin.

Setahun kemudian Wagner berekspansi ke Suriah sampai akhirnya meluber ke negara Afrika lain.

Menurut The Economist, setidaknya sepuluh ribu laki-laki pernah bekerja untuk Wagner. Mereka yang direkrut biasanya meliputi “kalangan profesional perang”, pengangguran, atau seorang romantis yang ingin mengabdi pada negara, demikian pengakuan seorang eks-tentara Wagner kepada BBC. Bayarannya bisa dibilang lumayan. Untuk misi di Afrika, misalnya, para tentara bayaran bisa mengantongi sampai 4.000 dolar AS (sekitar Rp57 juta) per bulan.

Berbagai laporan menyebut Wagner didirikan dan dipimpin oleh Dmitry Utkin, veteran Perang Chechen yang bekerja untuk GRU, unit intelijen militer Rusia, sampai 2013. Utkin diduga menamai jaringan organisasinya “Wagner” karena terinspirasi dari komponis favorit Adolf Hitler, Richard Wagner (ia juga merajam tubuhnya dengan tato simbol Nazi).

Namun, menurut tim investigasi Bellingcat, belum ada kesimpulan final bahwa Utkin memang aktor utama di balik Wagner. Mereka mengatakan tidak menutup kemungkinan Utkin sengaja dijadikan umpan atau tameng oleh pihak lain yang lebih berkuasa di pemerintahan.

Utkin terakhir kali terlihat di publik pada 2016 ketika menerima penghargaan Order of Courage berkat perannya di timur Ukraina dan Suriah. Kehadiran Utkin dan wakilnya, Andrei Troshev, dilaporkan oleh jurnalis Novaya Gazeta Denis Korotkov.

Korotkov adalah orang yang sejak 2020 menghadapi tuntutan dari otoritas Rusia karena dituding ikut gerakan Negara Islam. Disinyalir itu hanya kriminalisasi karena dia dikenal luas tengah berupaya menelusuri kaitan antara Wagner dengan miliuner pengusaha katering yang dekat dengan Kremlin dan mantan kriminal-rampok, Yevgeny Prigozhin. Prigozhin pernah mendekam di penjara selama nyaris satu dekade sebelum memutuskan berkecimpung di bisnis kuliner pada dekade 1990-an.

Restoran Prigozhin sering dikunjungi oleh Vladimir Putin pada masa awal menjabat sebagai presiden. Karena terikat kontrak katering acara-acara besar di Kremlin, Prigozhin dikenal dengan nama panggilan “kokinya Putin”.

Di samping itu, Prigozhin juga dikenal sebagai orang suruhan Putin untuk melakukan pekerjaan “kotor”. Salah satunya disebut-sebut membiayai Badan Riset Internet alias “pabrik troll” di media sosial yang ikut campur tangan dalam politik domestik Amerika Serikat, termasuk saat pemilu presiden 2016 dan pemilu interim 2018. Hal ini membuatnya dijatuhi sanksi oleh otoritas AS.

Departemen Keuangan AS menyebut Prigozhin terlibat dalam eksploitasi sumber daya alam di sektor pertambangan mineral di Sudan. Prigozhin juga dilaporkan punya hubungan dengan perusahaan tambang, keamanan, dan logistik di Republik Afrika Tengah yang segala operasionalnya dikelola oleh Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan Rusia.

Selain itu, nama Prigozhin juga disinggung dalam kesepakatan minyak dan gas antara perusahaan Rusia, Evro Polis, dan pemerintah Suriah. Kerja sama ini disepakati tak lama sebelum tentara bayaran Wagner dikirim untuk berperang melawan pasukan AS di provinsi kaya minyak dan gas, Deir ez-Zor, pada 2018.

Selain disanksi karena mengintervensi politik domestik, ia juga dihukum karena diyakini merupakan manajer sekaligus penyandang dana operasi-operasi Wagner di luar negeri sembari memupuk kekayaan dari sana.

Menurut temuan German Council on Foreign Relations, markas Wagner dikontrol oleh GRU. Beberapa operasi Wagner juga menggunakan pesawat milik Kementerian Pertahanan. Bahkan, tentara-tentara Wagner yang terluka—misalnya dalam pertempuran Deir ez-Zor di Suriah—dievakuasi di rumah sakit militer Rusia. Tak hanya itu, paspor tentara Wagner juga diterbitkan oleh kantor cabang khusus yang biasa menangani dokumen untuk orang-orang Kementerian Pertahanan.

Atas dasar itu semua, András Rácz dari German Council on Foreign Relations mengatakan alih-alih perusahaan swasta yang menyediakan jasa keamanan biasa, Wagner lebih tepat disebut sebagai “organisasi proksi” yang menyokong kepentingan pemerintah Rusia.

Sementara Candace Rondeaux dari think tank New America mengungkapkan pada The Intercept bahwa Wagner merupakan “pisau tentara Swiss serbaguna” yang bisa dipakai untuk kepentingan perang gerilya bahkan perang psikologis. Rondeaux juga menyebut tujuan sekunder Wagner tak lain untuk “menciptakan kesan bahwa Rusia bisa memproyeksikan dirinya secara militer di mana saja di penjuru dunia.”

Jangkauan Operasi Wagner

Sejak Oktober 2015, tentara bayaran Wagner mulai dikirim ke Suriah untuk mendampingi tentara resmi Rusia yang menyokong rezim Bashar al-Assad, termasuk membantu merebut kota tua Palmyra dari grup militan Negara Islam dalam pertempuran 2016-2017. Menurut penelusuran Fontanka, diperkirakan sampai 3.000 orang Rusia terikat kontrak dengan Wagner untuk misi di negara tersebut dan 73 di antaranya tak kembali hidup-hidup.

Setelah itu misi-misi Wagner mulai bergeser ke Afrika bagian utara, termasuk di “tanduk Afrika” Sudan.

Relasi Sudan-Rusia menguat sejak 2017, tepatnya ketika diktator Omar al-Bashir (berkuasa 1993-2019) menyebut negerinya, yang selama ini terisolasi karena sanksi internasional, bisa jadi “kunci” Rusia menuju Afrika. Dilansir dari studi Mattia Caniglia dan Theodore Murphy untuk European Council on Foreign Relations, semenjak itu kedua negara menjalin kerja sama keamanan dan ekonomi, termasuk konsesi pertambangan emas yang melibatkan perusahaan-perusahaan milik si koki Putin.

Awalnya tentara Wagner hanya mengurusi situs-situs eksplorasi tambang, tapi akhirnya ikut menyokong kepentingan politik dan militer rezim al-Bashir. Masih melansir riset Caniglia dan Murphy, sampai awal 2019 atau persis sebelum al-Bashir lengser, lebih dari 500 tentara bayaran dilaporkan beroperasi di Khartoum, Port Sudan, dan Darfur Selatan.

Lingkup kerja mereka bertambah luas, dari memberikan pelatihan kepada badan intelijen dan polisi tentang cara menghadapi demonstran antipemerintah, ikut merancang kampanye disinformasi untuk melemahkan para oposan, sampai terlibat langsung dalam represi terhadap gerakan protes.

Tentara Wagner mulai terdeteksi di utara Sudan, Libya, pada April 2019. Melansir investigasi BBC, mereka bergabung dengan pasukan jenderal pemberontak Khalifa Haftar setelah sang jenderal mencoba menyerang pemerintahan transisi yang didukung PBB di Tripoli. Diperkirakan antara seribu sampai dua ribu tentara Wagner pernah berperang di sisi Jenderal Haftar di Libya antara 2019-2020.

BBC juga menerima dokumen lain tentang “daftar belanjaan” Wagner, yang sangat mungkin disuplai oleh pemerintah Rusia.

Mereka juga terlibat dalam berbagai aksi kekerasan, termasuk memasang jebakan dan ranjau darat di kawasan sipil, yang membuatnya disorot mata internasional.

Wagner juga disewa oleh Presiden Republik Afrika Tengah Faustin-Archange Touadéra sejak 2018, menurut laporan dari Crisis Group. Pada tahun itu pemerintah juga memutuskan memberikan izin tambang emas dan berlian kepada perusahaan Rusia bernama Lobaye, yang sekali lagi bisa dirunut kaitannya dengan Prigozhin.

Selama satu dekade terakhir, negara ini jatuh ke dalam konflik sipil setelah pemimpin kristiani Francoise Bozize dilengserkan oleh grup-grup pemberontak muslim. Presiden Touadéra, yang sebetulnya disokong oleh pasukan PBB, hanya bisa mengontrol sebagian kecil wilayah di sekitar ibu kota Bangui. Grup-grup milisi pemberontak menguasai daerah lain dan saling berebut sumber daya alam.

Pasukan Wagner yang jumlahnya diperkirakan mencapai dua ribu dipandang berkontribusi besar dalam membantu menumpas gerakan pemberontakan.

Namun “pencapaian” tersebut diperoleh dengan cara-cara melanggar HAM, menurut laporan yang diterima PBB sejak tahun lalu. Itu termasuk pembunuhan, penyiksaan, penghilangan paksa, sampai pemerkosaan.

Meskipun pemberontak dan tentara nasional sama-sama berpartisipasi dalam pelanggaran HAM tersebut, pihak Wagner dilaporkan punya andil dalam separuh kasus yang korbannya nyaris mencapai 500 orang. Dalam hal ini Kremlin bersikeras bahwa kontraktor-kontraktor Rusia di sana hanya sebatas memberikan pelatihan militer, bukan ikut melakukan operasi lapangan.

Tahun 2019, Wagner disewa oleh pemerintah Mozambique, negara di tenggara Afrika, untuk membantu mengatasi grup pemberontak Negara Islam cabang Afrika Tengah.

Sebelum memutuskan memakai jasa Wagner, pemerintah sempat ditawari jasa serupa dari perusahaan AS yang lebih berpengalaman. Namun akhirnya mereka memilih Wagner karena biayanya lebih murah. Di samping itu, mereka mungkin juga merasa berutang budi terhadap Rusia karena bersedia menghapus 90 persen utang dan dulu (saat masih jadi bagian Uni Soviet) ikut membantu perjuangan mereka sampai merdeka. Tanda terima kasih ini pun ditunjukkan dengan memberikan izin kepada perusahaan Rusia untuk mengekstraksi gas alam cair.

Infografik Wagner Group

Infografik Wagner Group. tirto.id/Sabit

Sampai sekarang masih ada saja yang pemimpin Afrika yang meminta jasa Wagner. Terbaru adalah Mali, bekas koloni Prancis di Afrika barat. Perpecahan agama dan politik membuat negara ini terjerembap dalam konflik sektarian berlarut. Prancis, yang nyaris sepuluh tahun berusaha membantu mendamaikan, akhirnya lelah juga dan memutuskan menarik mundur pasukan.

Menurut laporan yang disusun Raphael Parens untuk Foreign Policy Research Institute, pemerintahan transisi Mali setuju menyewa seribu kontraktor Wagner pada akhir 2020 “untuk memberikan pelatihan [militer], perlindungan ketat, dan operasi kontraterorisme.” Kesepakatan ini diikuti dengan menerima “donasi” dari pemerintah Rusia berupa helikopter tempur dan senjata lain.

Tak hanya itu, Maxim Shugaley, kolega Prigozhin, juga melancarkan kampanye disinformasi di Mali lewat yayasan bernama Foundation for National Values Protection (FZNC). Melalui FZNC—yang kelak dijatuhi sanksi oleh Departemen Keuangan AS—Shugaley membikin survei yang hasilnya menunjukkan dukungan tinggi rakyat terhadap keberadaan Wagner. Rekayasa ini berbuah manis. Awal tahun ini, demonstran turun ke jalan merayakan kepergian tentara Perancis sembari melambaikan bendera Rusia dan foto Putin, termasuk papan bertuliskan “I LOVE WAGNER” dan “THANK YOU WAGNER”.

Berdasarkan temuan think tank CSIS, sejak 2014, tentara bayaran Rusia sudah menyebar di 19 negara Afrika dan total di 30 negara. Wagner pernah terdeteksi di Venezuela untuk melindungi Presiden Nicolás Maduro. Hari ini, seiring invasi tentara Rusia, seribu tentara Wagner dilaporkan badan intelijen Inggris telah dikerahkan ke timur Ukraina.

Tak hanya yang berkonfrontasi langsung, pihak-pihak yang berusaha mengungkap aktivitas Wagner pun hidupnya terancam.

Di Republik Afrika Tengah, tiga jurnalis Rusia yang dikabarkan tengah mengerjakan proyek dokumenter “Tentara Bayaran Rusia” yang disponsori oleh eksil musuh Kremlin, Mikhail Khodorkovsky, meninggal karena serangan mencurigakan pada 2018. Masih pada tahun yang sama, jurnalis yang sempat menelusuri kasus kematian serdadu Wagner dalam misi di Suriah, Maxim Borodin, juga meninggal setelah jatuh dari balkon apartemennya di Yekaterinburg.

Baca juga artikel terkait TENTARA BAYARAN atau tulisan lainnya dari Sekar Kinasih

tirto.id - Politik
Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Rio Apinino