V BTS dan Fakta Wajah Tampan Laki-Laki Menurut Penelitian

Oleh: Yulaika Ramadhani, Febriansyah - 7 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Tiga karakter yang mempengaruhi daya tarik terhadap wajah seseorang: bentuk simetri wajah, keberagaman, dan karakteristik seksual sekunder.
tirto.id - Personil idol group BTS Kim Taehyung atau yang kerap dipanggil V dinobatkan sebagai laki-laki berwajah paling tampan di dunia versi laman hhiburan AS Famous Star 101 pada tahun 2018 kemarin.

V BTS berada di peringkat pertama mengalahkan sejumlah artis laki-laki seperti Justin Bieber, Shawn Mendes, dan Harry Styles.

Itu bukan kali pertama V BTS terpilih sebagai pria tertampan. Laki-laki kelahiran 30 Desember 1995 ini juga dinobatkan sebagai Most Handsome Faces of 2017 oleh TC Calendar.

Ia juga mendapat #1 for Most Charismatic Men of Asia 2018 versi Star Momenter, dan pemenang pertama Most Beautiful Men in the World versi Dama.bg.

Namun, apakah wajah terlalu tampan itu benar-benar ada?

Penelitian yang dipublikasikan oleh Philosophical Transactions Biology mejelaskan bahwa seleksi seksual tampaknya telah membentuk anatomi wajah yang menarik.

Dalam ulasan penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa tiga karakter secara konsisten mempengaruhi daya tarik terhadap wajah seseorang. Tiga karakter itu di antaranya simetri, keberagaman, dan karakteristik seksual sekunder.

Dalam penelitian itu preferensi untuk wajah simetris mencerminkan, setidaknya sebagian, sebagai pilihan atau yang menarik dari pengalaman beberapa pasangan.

Lalu karakter wajah keberagaman atau averageness adalah wajah yang dipilih karena memiliki karakter yang biasa saja secara umum, dan “karakteristik seksual sekunder” adalah ciri-ciri fisik yang membedakan antara pria dan wanita yang tidak ada hubungannya dengan reproduksi.


Penelitian ini setidaknya menjelaskan bagaimana pengaruh ketertarikan kita pada wajah seseorang.

Dulu, di Hollywood laki-laki tampan diidentikkan dengan ciri-ciri tinggi, 'gelap', dan tampan. Hal itu ditengarai beberapa novel fiksi yang memengaruhi budaya pop tahun 1900-an. 'Gelap' adalah istilah untuk laki-laki yang nakal.

Pada 1941 muncul film berjudul Tall, Dark, and Hadsome yang bercerita tentang pusat gangster Chicago.

Beberapa anggotanya adalah lelaki dengan perawakan tinggi dan tampan yang dilengkapi dengan rambut licin mereka, yang saat itu sangat menarik bagi wanita-wanita. Karena film ini lahirlah aktor-aktor yang identik dengan perawakan itu, macam Clark Gable dan Cary Grant.

Tetapi untuk melihat apakah karakter wajah yang dimiliki oleh aktor-aktor itu menarik bagi wanita, itu mungkin hal yang rumit.

Dilansir Inverse, David Puts, antropolog di Pennsylvania State University yang mempelajari dasar evolusi seksualitas manusia mengatakan bahwa "tinggi, gelap, dan tampan" sebenarnya hanyalah termasuk dalam jenis.

"Wanita heteroseksual tampaknya lebih menyukai pria yang beragam atau lebih maskulin. Karena hal ini sebenarnya banyak dipengaruhi oleh budaya. Seperti misalnya, mereka lebih suka pria tinggi, tetapi tidak terlalu tinggi, dan mereka lebih memilih pria dengan nada suara yang lebih rendah dari rata-rata pria, tetapi nada yang terlalu rendah umumnya dinilai kurang menarik. Namun demikian, ada beberapa kebenaran pada kiasan,” kata Puts.


Menurut Puts, menentukan apa yang menurut manusia menarik sulit dipelajari. Karena itu adalah bidang sains yang rumit, baik dalam biologi maupun sosiologi dan hal itu juga terbatas pada fokusnya yang lazim pada orang heteroseksual dan budaya Barat.

Sementara masyarakat terus mencoba mengakui perbedaan individu dan lintas-budaya dalam hasrat percakapan mereka seputar standar kecantikan. Tetapi memang tidak dapat dipungkiri bahwa ciri-ciri manusia tertentu secara konsisten dinilai menarik di masyarakat.

Puts menjelaskan juga bahwa wajah, tubuh, dan otak kita adalah produk dari rantai panjang seleksi seksual. Tentang ketertarikan kita terhadap wajah tertentu, bahkan manusia purba memiliki selera yang berbeda secara fisiologis dan psikologis pada pasangan mereka, dan pilihan pasangan mereka tercermin dalam susunan genetik kita hari ini.

"Beberapa orang akan memiliki preferensi yang lebih kuat untuk pasangan yang baik, murah hati, pengumpul yang kompeten, protektif, dengan gen yang baik yang akan membuat anak-anak sehat," kata Puts.

“Orang-orang yang memiliki preferensi ini cenderung meninggalkan hal itu pada anak mereka. Keturunan ini akan mewarisi gen yang mendasari preferensi pasangan orang tua mereka," tambah Puts


Sulit untuk mengatakan kualitas fisik apa yang dicari leluhur hominid awal kita. Perilaku, kata Puts, tidak meninggalkan jejak fosil, dan lingkungan sosial manusia, terus memengaruhi sifat-sifat seperti apa yang kita diinginkan, dan itu berubah seiring waktu. Tetapi mereka mungkin memiliki gagasan serupa tentang daya tarik seperti manusia modern yang bermigrasi keluar dari Afrika lebih dari satu milenium yang lalu .

"Mengingat kesamaan lintas budaya di antara manusia modern, kita mungkin dapat berasumsi bahwa manusia modern lebih suka kualitas fisik yang serupa pada pasangan selama 100.000 tahun terakhir. Kita mungkin tidak memiliki preferensi yang persis sama untuk ciri-ciri fisik yang dimiliki oleh nenek moyang kita 100.000 tahun yang lalu, tetapi mereka cenderung dekat," kata Puts.

Karakter ketampanan setiap orang berbeda-beda, hal ini bisa dipengaruhi oleh faktor internal seperti hormon atau juga faktor eksternal seperti pengaruh dari anggapan masyarakat kebanyakan.

Baca juga artikel terkait K-POP atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani & Febriansyah
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Yulaika Ramadhani & Febriansyah
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight