Usai Gempa Lombok 7 SR, Sejumlah RS Dinyatakan Aman untuk Digunakan

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 14 Agustus 2018
Dibaca Normal 1 menit
Pasien dan tenaga medis masih enggan untuk masuk ke rumah sakit usai gempa berturut-turut yang mengguncang Lombok.
tirto.id - Gempa berkekuatan 7 SR yang mengguncang Lombok pada Minggu 5 Agustus lalu menyebabkan trauma bagi pasien dan tenaga medis di sejumlah rumah sakit. Mereka belum mau masuk rumah sakit meski tim gabungan para peneliti memastikan sejumlah rumah sakit aman untuk digunakan.

Hal itu disampaikan Dosen Departemen Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM), Ashar Saputra yang telah memeriksa bangunan rumah sakit bersama tim gabungan pada Senin (6/8/2018) sampai Kamis (9/8/2018).

Ashar bersama tim telah memeriksa enam rumah sakit, yaitu RS Kota Mataram, RSUD NTB, RS Akademik Universitas Mataram, RSJ Mataram, RS Bhayangkara, dan RS Angkatan Darat. Berdasarkan pemeriksaan, enam rumah sakit itu dinyatakan dalam kondisi baik dan bisa digunakan.

“Masing-masing RS secara umum, 75-80 persen bisa difungsikan. Untuk RS Kota Mataram atau rujukan paling akhir di provinsi, bangunan pelayanan bisa 100 persen. Sebab, bangunan cukup baik, kualitasnya cukup baik, dijumpai retak-retak tapi bisa dikatakan itu kerusakan minor,” ujar Ashar di Yogyakarta, Selasa (14/8/2018).


Meski kondisi rumah sakit dinyatakan baik, namun pasien dan tenaga medis belum mau untuk masuk ke dalam bangunan karena trauma. Hal ini yang menurut Ashar menjadi perhatian tim peneliti yang dikirim ke Lombok. Sebab, pasien yang dirawat di tenda rawan terkena infeksi, apalagi pasien yang telah menjalani operasi ortopedi.

"Ini memang persoalan yang sulit karena berhubungan dengan trauma. Kalau tidak kita usahakan, ada risiko lain yaitu ketika korban yang sudah dioperasi, ortopedi terutama, kemudian dirawat di tenda, dengan kadar sterilisasi dan peluang infeksi tinggi, ada risiko infeksi dan tetanus," ujar Ashar.

Ashar melanjutkan, hingga kejadian gempa susulan sebesar 6,2 SR, mayoritas bangunan rumah sakit masih dinyatakan baik untuk digunakan. "Cuma, sekali lagi terkait trauma dan ketakutan memang tidak bisa dihilangkan dengan cepat," ujarnya.


Oleh karena itu, saat ini pemerintah daerah dan dinas kesehatan setempat direkomendasikan untuk menjaga kebersihan tenda agar tetap steril dan aman bagi pasien.

Ashar juga menjelaskan, bangunan rumah yang rusak di Lombok utara banyak disebabkan karena teknik pembangunan serta bahan-bahan yang di bawah standar. Bangunan yang hancur total disebabkan karena pasangan batu bata yang tidak ditopang oleh beton bertulang.

"Selain itu, saya menjumpai tembokan rumah sudah ada balok dan kolom tapi tulangannya tidak saling terikat, sehingga kalau ada goncangan tidak saling berpegangan, rontoklah dia," ujar Ashar.

Ia berharap, usai kejadian ini tidak ada lagi rumah yang dibuat tanpa memenuhi standar keamanan, terutama fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit.

"Seharusnya, bangunan RS jadi yang paling aman dan tidak rusak dalam kondisi seperti ini. Rumah sakit harus jadi bangunan dengan tingkat keamanan paling tinggi," pungkasnya.

Gempa bumi berkekuatan 7 SR mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu (5/8/2018) malam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Senin (13/8/2018), gempa menyebabkan 436 orang meninggal dunia, 1.353 korban luka-luka, dan kerusakan serta kerugian mencapai lebih dari Rp5,04 triliun.

Dampak gempa yang diikuti ratusan gempa susulan, juga membuat banyak rumah sakit tidak lagi layak pakai. Menurut Gubernur NTB, TGB Zainul Majdi, banyak rumah sakit rujukan maupun sarana kesehatan sekunder di daerahnya, terutama di Lombok Utara, telah hancur. Padahal, kata dia, sarana kesehatan di Lombok Utara merupakan salah satu jangkar utama pelayanan medis.


Baca juga artikel terkait GEMPA NTB atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Dipna Videlia Putsanra
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Dipna Videlia Putsanra