Menuju konten utama

Tragedi Siswa SD di NTT, Kemendikdasmen: Korban Penerima PIP

Bantuan PIP untuk siswa SD ditetapkan sebesar Rp450 ribu per tahun pada tahun ajaran 2025/2026

Tragedi Siswa SD di NTT, Kemendikdasmen: Korban Penerima PIP
Kartu Indonesia Pintar. foto/ANTARA News

tirto.id - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang ditemukan meninggal dunia merupakan penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP). Meski bantuan finansial telah disalurkan, pemerintah menekankan pentingnya penguatan pendampingan psikososial bagi anak-anak dari keluarga rentan guna mencegah terulangnya tragedi serupa.

"Mendiang murid tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar,” kata Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, melalui keterangan tertulis, Kamis (5/2/2026).

PIP merupakan bantuan tunai pendidikan dari pemerintah bagi siswa dari keluarga miskin atau rentan miskin agar tetap bersekolah.

Pada tahun ajaran 2025/2026, bantuan PIP untuk siswa SD ditetapkan sebesar Rp450 ribu per tahun.

Atip mengatakan bantuan tersebut telah disalurkan sesuai mekanisme yang berlaku. Namun, ia menegaskan pemenuhan hak dan perlindungan anak, khususnya dari keluarga rentan, tidak cukup hanya melalui dukungan finansial.

“Harus ada pendampingan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang suportif,” ujarnya.

Kemendikdasmen juga menyampaikan duka cita atas peristiwa tersebut.

Saat ini, kata Atip, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memberikan pendampingan kepada keluarga, termasuk menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya.

Atip mengajak semua pihak menyikapi informasi terkait peristiwa ini secara bijak serta menghindari penyebaran spekulasi yang dapat menambah beban psikologis keluarga korban dan komunitas sekolah.

“Kemendikdasmen menegaskan pentingnya dukungan bersama dari sekolah, keluarga, masyarakat, media, serta pemerintah pusat dan daerah dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan suportif bagi anak, sebagai bagian dari upaya pencegahan peristiwa serupa di masa mendatang,” tutur Atip.

Seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, NTT, sebelumnya ditemukan meninggal dunia pada Kamis, 29 Januari 2026. Korban ditemukan kerabatnya dalam posisi tergantung di dahan pohon cengkeh di kebun milik neneknya.

Kapolda NTT Inspektur Jenderal Rudi Darmoko mengatakan hasil penyelidikan sementara menunjukkan korban mengakhiri hidupnya akibat masalah ekonomi.

"Motif utama karena hal itu [ekonomi], namun masih didalami," kata Rudi, Rabu (4/2/2026).

Baca juga artikel terkait KASUS BUNUH DIRI atau tulisan lainnya

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Editor: Siti Fatimah