tirto.id - Kapendam Jaya, Kolonel Czi Anto Indriyanto, membenarkan adanya aksi penurunan bendera One Piece di daerah Pondok Labu, Jakarta. Namun, aksi penurunan bendera itu bukan berdasarkan arahan Kodam Jaya sebagai bagian dari TNI.
Hal itu menanggapi beredar video viral di media sosial penurunan bendera One Piece di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan lewat akun Aghni Jacker Aziz.
"Anggota babinsa juga melakukan kegiatan tersebut dalam rangka mendampingi aparat kelurahan dan melaksanakan pengecekan di lapangan. Namun, tidak ada instruksi dari Kodam untuk melaksanakan itu," ucap Anto saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (12/8/2025).
Dia menerangkan, kehadiran Babinsa di sana juga setelah adanya permintaan dari masyarakat. Warga setempat menyatakan bahwa pengibaran bendera One Piece itu meresahkan.
"Bahwa benar ada anggota babinsa yang memeriksa pengibaran bendera one piece. Hal tersebut adalah permintaan dari masyarakat /warga setempat karena sudah meresahkan masyarakat," tutur dia.
Diketahui, masyarakat Indonesia di beberapa daerah memasang bendera One Piece berwarna hitam dengan simbol tengkorak dan topi jerami, alih-alih bendera merah putih sebelum HUT ke-80 RI pada 17 Agustus 2025.
Dari berbagai foto dan video yang beredar di media sosial, tampak bendera One Piece Berkibar di depan rumah, kendaraan pribadi, hingga truk. Fenomena ini pun semakin ramai di media sosial hingga telah mendapatkan respons dari pemerintah.
Dalam bendera One Piece yang berkibar di Indonesia, simbol yang terlihat adalah tengkorak dan topi jerami. Setiap kru sering kali memodelkan Jolly Roger mereka agar menyerupai kepribadian kapten mereka, karena Jolly Roger berfungsi sebagai identitas kru mana pun.
Contohnya seperti Jolly Roger dengan Topi Jerami, sesuai dengan identitas Luffy yang mengenakan topi jerami. Desain ini mewujudkan kebebasan Luffy dan apa yang ia inginkan dalam mengejar keinginan menjadi Raja Bajak Laut.
Pengibaran bendera One Piece pun dimaknai sebagai kritik terhadap pemerintah. Selain menggambarkan kegelisahan atas berbagai persoalan bangsa, aksi ini sekaligus menyuarakan harapan akan hadirnya keadilan dan perubahan.
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id





























