Timnas Memang Ambyar, tapi Haruskah #SimonOut?

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 16 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Ada banyak alasan kenapa timnas begitu melempem. Warganet menyalahkan pelatih, tapi sebenarnya bukan hanya dia yang patut disalahkan.
tirto.id - Kali terakhir berpartisipasi dalam kualifikasi Piala Dunia 2011/2012 lalu, Timnas Indonesia yang saat itu diasuh Wim Rijsbergen dan lantas Aji Santoso tak berkutik. Tak ada satu pun poin mereka raih dalam enam kali pertandingan. Garuda resmi jadi juru kunci klasemen akhir Grup E putaran ketiga.

Nestapa timnas semakin genap karena mereka hanya mencetak tiga gol dan kebobolan 26 kali.

Aji Santoso, yang pada laga terakhir harus menyaksikan skuat racikannya dihajar 10-0 oleh Bahrain, tak mau publik menyalahkan pemain. “Semua ini tanggung jawab saya,” katanya. Aji lantas memutuskan mengundurkan diri.

Delapan tahun telah berlalu sejak lakon tragis itu. Indonesia kini ada di fase serupa: berpartisipasi dalam kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022.

Namun, alih-alih menampilkan permainan lebih menjanjikan, timnas yang saat ini diasuh Simon McMenemy seperti jalan di tempat.


Tergabung di Grup G putaran kedua bersama sebagian besar tim wakil ASEAN Football Federation (AFF), Indonesia lagi-lagi jadi juru kunci. Empat kali mereka telah main—tiga di antaranya di kandang—dan hasilnya selalu sama: kalah.

Terakhir, dalam laga di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Selasa (15/10/2019) kemarin, Evan Dimas dan kolega dipukul mundur Vietnam. Satu gol Irfan Bachdim tidak ada artinya lantaran skuat asuhan Park Hang-seo sudah unggul tiga gol lebih dulu yang dicetak Đỗ Duy Mạnh, Quế Ngọc Hải, dan Nguyễn Tiến Linh.

Sepanjang pertandingan, spanduk dan yel-yel yang menyuarakan ‘SimonOut’ terdengar di dalam stadion. Warganet, lewat media sosial Twitter, juga ikut bergerak menggaungkan tagar #SimonOut dan jadi trending topic.

Mereka ingin Simon segera angkat kaki sejauh mungkin dari kamp latihan Timnas Indonesia.

Permainan Berantakan

Menimbang performa timnas di atas lapangan, desakan agar pelatih diganti logis belaka. Sepanjang empat pertandingan, permainan timnas jauh dari kata bagus, apalagi menghibur.

Saat melawan Vietnam misalnya. Skema 4-3-3 Simon tidak dibarengi dengan dekatnya jarak antarpemain dan antarlini. Mereka bermain sangat renggang.

Kerenggangan ini memungkinkan para pemain Vietnam—yang tampil dengan struktur lebih padat—menusuk lewat umpan-umpan terobosan dan memanfaatkan setiap jengkal ruang menjadi peluang.

José Mourinho sebagai pandit pernah berkelakar kalau bermain dengan struktur renggang adalah dosa besar. Mou mencontohkan rontoknya Chelsea dengan skor 4-0 di tangan klub semenjana, Manchester United, beberapa bulan lalu.


Makin nahas lagi karena keteledoran ini diperparah dengan kebiasaan pemain salah umpan atau mengumpan panjang tapi sama sekali tak akurat. Fakta bahwa Vietnam mendominasi permainan baik secara penguasaan bola maupun tembakan adalah buah yang memang sudah selayaknya dipanen.

Tapi, benarkah keteledoran ini sepenuhnya salah Simon?

Jika mengacu dari penuturan para mantan pelatih yang pernah mengarsiteki timnas, jawabannya belum tentu demikian. Bisa ya, bisa juga tidak.

Dalam wawancara dengan Beritagar September 2019 lalu, mantan pelatih timnas yang kini mengampu Persipura, Jacksen F Tiago, sempat berujar kegagalan taktik di timnas tak selamanya dosa pelatih. Terkadang taktik tidak berjalan lancar karena para pemain membelot.

“Pemain Indonesia itu sering menolak masukan pelatih, apalagi jika taktik itu berubah di tengah pertandingan,” tutur Jacksen.

Tapi pernyataan Jacksen tidak lantas bisa dijadikan pembenaran untuk menyalahkan pemain. Sebab tidak sinergisnya instruksi pelatih dan yang dipraktikkan para pemain bisa dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya adalah pemahaman para pemain sendiri terhadap taktik.

Dan tanggung jawab memberikan pemahaman terhadap pemain bukan cuma diemban kepala pelatih. Faktanya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) bahkan ikut campur perkara penerapan gaya bermain dalam buku pedoman Filosofi Sepak Bola Indonesia (Filanesia).

Filanesia Tak Tampak

Filanesia adalah panduan yang dirumuskan PSSI untuk merancang ‘gaya sepakbola khas Indonesia’. Panduan ini melingkupi penjenjangan latihan berdasarkan usia, pengembangan teknik pemain, sampai sosialisasi perihal skema 4-3-3 yang ditargetkan menjadi landasan bermain timnas.


Filosofi ini pertama kali diresmikan saat Danurwindo naik ke tampuk kepemimpinan Direktur Teknik Timnas Indonesia pada 2017 lalu, nyaris bertepatan dengan kedatangan Luis Milla sebagai kepala pelatih Timnas Indonesia senior.

Masalahnya, sepeninggal Milla, timnas senior seperti kehilangan identitas ‘gaya bermain khas Indonesia’ itu. Termasuk sepanjang empat laga awal kualifikasi Piala Dunia 2022.

“Filanesia itu, kan, proaktif, selalu menguasai bola. Konstruktif, bangun serangan dari lini ke lini. Dan progresif, operan-operannya ke depan. Enggak cuma main di belakang,” kata pengamat sepakbola sekaligus Managing Editor Panditfootball, Defary Glenniza, kepada reporter Tirto, Rabu (16/10/2019).

Pria yang akrab disapa Dex itu lantas menilai ada beberapa alasan kenapa Filanesia gagal diterapkan. Salah satu yang terpenting, menurutnya, adalah perkara stamina pemain yang buruk.

“Kenapa stamina cupu? Jawabannya karena kelelahan. Kompetisi domestik terlalu padat,” imbuhnya.

Kenyataannya para pemain memang dicekoki jadwal yang begitu melelahkan. Shopee Liga 1 2019 diliburkan pada hari timnas bermain, tapi ini tidak membantu lantaran jarak antara libur dan bermain untuk timnas relatif pendek.

Simon sendiri pernah mengeluhkan perkara ini berkali-kali. Bahkan sejak pertandingan kedua kualifikasi melawan Thailand. Jadwal yang padat ini bikin timnas kesulitan pula menggelar uji coba dengan tim-tim di luar Asia Tengara.

Perlu Identitas Sendiri

Kegagalan Simon menerapkan permainan proaktif khas Filanesia, ditambah keluhannya soal jadwal, menjadi ironi tambahan mengingat juru taktik asal Skotlandia ini sebenarnya dilabeli PSSI sebagai ‘Duta Filanesia’.


Pengamat sepakbola Ardy Nurhadi Shufi menilai pelabelan ini sebenarnya tidak relevan. Alasannya sederhana: Simon sendiri kesulitan mengaplikasikannya.

“Filanesia ini, kan, baru dibuat 2017. Itu artinya ini baru banget dipelajari, dan itu buat generasi muda. Jadi artinya pemain-pemain timnas senior emang enggak harus dan enggak bisa pakai Filanesia karena dasar sepakbola mereka bukan Filanesia,” tutur Ardy.

Alih-alih stagnan dan terkungkung dengan kegagalan skema 4-3-3 ala Filanesia, menurut Ardy, Simon harus punya visi yang jelas untuk timnya. Sebab permasalahan timnas senior saat ini bukan sekadar perkara salah formasi atau pemain, tapi soal bagaimana tujuan bermain mereka.

"Kalau zaman [Alfred] Riedl jelas, dia mengandalkan dua pemain sayap dan umpan panjang cepat. Zaman Milla dia mau main umpan pendek cepat, makanya pilih pemain yang sesuai dengan skemanya. Simon belum tahu dia mau main kayak bagaimana. Mungkin itu yang jadi faktor kenapa dia bongkar pasang pemain," tandasnya.

Baca juga artikel terkait TIMNAS INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Rio Apinino
DarkLight