Mengapa Timnas Senior Melempem Prestasi?

Sejumlah pesepak bola timnas U-19 Indonesia berlatih di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Senin (30/9/2019). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya.
Oleh: Renalto Setiawan - 1 Oktober 2019
Dibaca Normal 5 menit
Dalam satu dekade terakhir, timnas senior Indonesia mentok hanya menjadi runner-up Piala AFF 2010 dan 2016. Sementara itu, timnas-timnas di kelompok umur terus-terusan menghasilkan prestasi membanggakan.
tirto.id - Sama-sama berdiri di kompleks Gelora Bung Karno dan berjarak hanya sepelemparan batu, stadion Gelora Bung Karno dan stadion Madya menjadi saksi bisu perbedaan prestasi yang mencolok antara tim nasional senior dan kelompok umur.

Di stadion GBK, timnas senior yang diasuh Simon McMenemy dua kali menderita pil pahit: kalah 2-3 dari Malaysia dan 0-3 dari Thailand dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2022. Permainan mereka butut: sonder rencana, kelewat memacu gas sejak awal tapi memble belakangan.

Alhasil, setelah sempat mengimbangi permainan lawan-lawannya di paruh pertama laga, lini belakang Indonesia dibombardir di sepanjang babak kedua. Total lima gol bersarang ke gawang Andritany Ardhiyasa, sementara timnas sendiri hanya mampu melesakkan dua gol.

Di Stadion Madya, suasana terang benderang: timnas U-16 berhasil memastikan satu tiket ke putaran final Piala AFC U-16 yang akan digelar di Bahrain pada tahun 2020.

Tampil dalam 4 laga, timnas U-16 memang 3 kali dan 1 kali meraih hasil imbang. Skor yang dicetak Marcelino Ferdinan dan kawan-kawan pun luar biasa besar: Kepulauan Mariana Utara (15-1), Brunei (8-0), dan Filipina (4-0). Dan, meskipun hanya mampu bermain imbang 0-0 di laga akhir, timnas U-16 juga sama sekali tak merasa inferior di hadapan China.

Perbedaan prestasi antara timnas senior dan timnas U-16 di Stadion GBK dan Stadion Madya tersebut lantas memperpanjang catatan buruk: prestasi timnas senior selalu kalah mentereng dibanding adik-adiknya. Hal ini setidaknya terlihat jelas dalam satu dekade belakangan.

Timnas kelompok umur -- dari U-16, U-18, hingga U-23 -- sudah tiga kali jadi juara Piala AFF, tiga kali lolos ke putaran final Piala Asia, dan dua kali meraih medali perak SEA Games. Sementara itu, prestasi timnas senior seperti tong kosong berbunyi nyaring: mereka hanya mentok dua kali menjadi finalis Piala AFF. Selebihnya adalah kegagalan, kegagalan, dan kegagalan.

Bagaimana bisa?



Pemahaman Taktik

Menjelang pertandingan antara Indonesia melawan Malaysia pada 5 September 2019, Jacksen F. Tiago, pelatih Persipura, menilai pemain-pemain Indonesia mempunyai kualitas individu di atas pemain-pemain Malaysia. Namun, Jacksen tak yakin Indonesia bakal menang. Dalam wawancara bersama bersama Beritagar itu, Jacksen pun tak kaget seandainya pertandingan akhirnya menjadi milik Malaysia.

Menurut Jacksen, keunggulan pemain-pemain Malaysia dibanding Indonesia dalam memahami taktik bisa menjadi penentu kemenangan dalam laga tersebut. Malaysia, kata Jacksen, sempurna dalam penerapan text-book. Selain itu, “Malaysia itu lebih fleksibel dalam perubahan, karena mereka terbiasa sejak muda untuk memahami taktik,” tambah Jacksen.

Di sisi lain, berdasarkan pengalaman melatihnya, Jacksen menganggap pemain-pemain Indonesia sering kali menolak masukan pelatih, apa lagi bila ada perubahan taktik di tengah-tengah pertandingan.

Perkiraan Jacksen tepat sasaran. Dalam laga itu, Malaysia, yang sempat tertinggal 2-1 dari Indonesia, berhasil unggul 2-3 setelah melakukan perubahan taktik di paruh kedua laga. Sementara itu, alih-alih merespons perubahan taktik Malaysia, pemain-pemain Indonesia tetap bermain semaunya.

Yang menarik, Rochmat Setiawan, mantan analis timnas U-19, menilai bahwa lemahnya pemahaman taktik pemain-pemain Indonesia tak lepas dari tujuan pembinaan yang dilakukan terhadap pemain-pemain timnas kelompok umur. Menurutnya, daripada fokus terhadap pengembangan, timnas kelompok umur sering kali dituntut untuk lebih berprestasi. Siasatnya, karena taktik di level kelompok umur belum begitu kompleks, latihan fisik pun jadi yang utama.

Padahal, “Kelebihan fisik ini tak akan begitu tampak di level senior, di mana pemain di level ini umumnya bermain rutin di liga negara masing-masing. Bahkan bukan tidak mungkin kita akan kalah baik secara fisik jika jadwal kompetisi di negara lain ideal,” tutur Rochmat kepada Tirto.

Keberhasilan timnas U-16 dalam laga kualifikasi Piala Asia U-16 2020 bisa menjadi contoh. Dalam laga menghadapi China, karena mempunyai kemampuan fisik yang bagus, pemain-pemain timnas U-16 Indonesia dapat bermain dengan intensitas tinggi di sepanjang pertandingan. Alhasil, meski tak sampai memang, anak asuh Bima Sakti tersebut mampu membuat China keteteran.

Dan, kata Rochmat, “situasi tersebut ternyata hampir selalu terjadi setiap kali timnas junior bertanding.”

Masih menurut Rochmat, metode latihan tersebut akhirnya memberikan dampak yang cukup besar saat pemain-pemain muda menginjak level senior, yang mempunyai pendekatan taktik lebih kompleks.

Pada level ini, pemahaman permainan lebih kaya, bahkan para pemain kadang-kadang dituntut untuk menyesuaikan dengan situasi dan mempunyai solusi di tengah-tengah pertandingan. Maka, apabila pemahaman taktik para pemain di bawah rata-rata, sebagaimana penjelasan Jacksen, itu bisa menjadi penentu sebuah prestasi.

Yang menarik, selain masalah tujuan pembinaan, jalannya kompetisi di Indonesia pun ikut-ikutan memperkeruh suasana. Klub-klub Indonesia terkesan sangat pragmatis. Mereka terbiasa ingin meraih prestasi secara instan, sehingga sering kali memperlakukan para pelatih layaknya barang dagangan murahan.

Hingga Agustus 2019 saja, seperti diwartakan Detik Sport, klub-klub Liga 1 2019 sudah memecat 9 pelatih. Akibatnya, saat belum benar-benar mampu menyerap pemahaman taktik dari pelatih, para pemain harus melakukan adaptasi di tengah jalan.


Masalah Selain Taktik

Prestasi gemilang timnas Indonesia di kelompok umur bermula dari target muluk PSSI terhadap Indra Sjafri pada tahun 2011.

Kala itu, usai diberi mandat melatih timnas U-16, Indra dituntut untuk membawa timnas U-16 lolos ke Piala AFC 2011. Namun, target tersebut gagal terpenuhi. Penyebabnya, “Indra tak diberi keleluasaan memilih pemain. Di atas mejanya ia sudah disodori nama-nama pilihan PSSI,” tulis Tempo dalam Anak-anak Pedalaman Berseragam Garuda.

Indra, yang kemudian diberi tugas melatih timnas U-19, tentu tak mau kejadian itu terulang. Pada tahun 2012, Indra lantas membentuk tim pencari bakat yang terdiri dari dirinya, Nur Saelan (pelatih fisik), Guntur Cahyo Utomo (pelatih mental), serta Jarot Supriadi (pelatih kiper), untuk menyeleksi pemain. Tim ini pun menyusun peta tempat-tempat yang dinilai mempunyai pemain-pemain berbakat.

Yang menarik, sebagian besar tempat yang menjadi sasaran tim Indra ternyata daerah-daerah terpencil. Sebabnya, data ilmiah yang menjadi pegangan Indra menunjukkan bahwa “anak-anak dari pedalaman biasanya mempunyai VO2max (kapasitas maksimum tubuh untuk menyalurkan dan menggunakan oksigen selama berolahraga) lebih tinggi dari anak-anak kota.”

“Seperti tangki bensin,” kata Indra, “makin besar ukurannya makin banyak bensin yang bisa ditampung, makin jauh pula mobil itu bisa berjalan.” Dan, tentu saja mental, skill, dan tingkat kecerdasan di atas rata-rata juga menjadi pertimbangan lain.

Maka mereka pun pergi ke Aceh, Jawa Timur, Alor, sampai akhirnya berhasil menemukan bakat-bakat seperti Zulfiandi, Yabes Roni, Evan Dimas, dan lain-lain.

Setelah pemain-pemain itu terkumpul, Indra pun memperlakukan pemain-pemain tersebut layaknya pemain profesional: menu latihan, menu makanan, dan pengkondisian fisik pemain diatur sedemikan rupa. Soal menu makanan, misalnya, Indra pasrah kepada Alfan Nur Asyhar, dokter timnas U-19.

Tempo, dalam “Dapur Sibuk Timnas U-19”, menulis: “Buat sarapan, ia (Alfan) menyediakan susu campur madu plus roti. Untuk santap siang, ia memilih makanan yang mengandung karbohidrat tinggi, seperti nasi dan kentang, ditambah sayur dan ikan. Menu makan malam pun tak jauh bebeda dengan makan siang.”

Sementara itu, daftar hitamnya ialah sambal, gorengan, dan penyedap rasa. Soal mengapa penyedap rasa dilarang, menurut Alfan, ialah karena bisa memperlambat impuls otak yang mengakibatkan respons pemain jadi berkurang.

Singkat kata, perjalanan panjang Indra Sjafri untuk mengepul sekaligus memoles timnas U-19 tersebut akhirnya membuahkan prestasi dahsyat pada tahun 2013.

Dalam gelaran Piala AFF U-19 2013, Evan Dimas dan kawan—kawan berhasil menjadi juara, memecahkan dahaga prestasi sepakbola Indonesia di level internasional sejak tahun 1991 silam. Beberapa saat setelahnya, timnas U-19 juga berhasil lolos ke Piala Asia U-20 2014 dengan gagah: menghajar Korea Selatan 3-2 di Stadion GBK.

Namun, kesuksesan itu juga memperlihatkan borok.

Dalam sebuah wawancaranya dengan Tempo setelah membawa timnas menjadi runner-up Piala AFF 2016, Alfred Reild menilai bahwa ketika mulai menginjak level senior, pemain-pemain Indonesia mulai bertindak semaunya. Mereka tak lagi disiplin sekaligus tak mau menjaga asupan gizinya.

“Pemain tak peduli tak peduli dengan nutrisi [...] Setiap atlet seharusnya punya kepedulian tinggi soal itu. Bayangkan, pemain kita makan kerupuk atau kentang goreng, yang jelas-jelas tak bergizi,” kata Reidl.

Soal kedisiplinan, tanpa bermaksud bersikap rasialis, Reidl memberikan contoh pemain-pemain asal Papua. “Mereka sering minum alkohol berlebihan. Minum sampai mabuk, tak bisa ditoleransi. Saya selalu mendapatinya dan itu sepertinya tak pernah berakhir,” tandas Reidl.

Selain itu, saat Indra Sjafri harus sampai blusukan ke daerah-daerah pedalaman untuk mencari pemain terbaik, Riedl juga menyebut buruknya prestasi timnas senior Indonesia ialah hasil dari minimnya pembinaan di usia dini dan usia muda.

Pada tahun 2018 lalu, dalam tulisannya di Esquire yang berjudul “The Rise of Vietnam Football:...”, Duncan Forgan menjabarkan: kesuksesan Vietnam U-23 di Piala Asia 2018 (runner-up) serta kesuksesan timnas senior di Piala AFF 2018 (juara) tak lepas dari peran Arsenal JMG Academy, salah satu akedemi sepakbola terbesar di Asia.

Arsenal JMG Academy, yang berdiri pada tahun 2007, adalah hasil kolaborasi antara Arsenal (klub sepakbola asal Inggris), JMG Acedemy (sekolah sepakbola asal Prancis), serta Hoang Anh Giang Lai, salah seorang konglomerat asal Vietnam. Akademi ini memiliki fasilitas yang sangat memadai: dari mes para pemain, lapangan latihan, hingga area penunjang latihan. Dan akademi ini tak sembarangan dalam memilih pemain.

Menurut Duncan, Arsenal JMG Acedemy terbiasa didatangi ribuan calon pemain saat melakukan perekrutan. Namun, dalam setiap angkatan, mereka biasanya hanya menetapkan 30 pemain anyar. Syaratnya rumit: pemain-pemain itu harus benar-benar berbakat, pekerja keras, cerdas, serta disiplin. Alhasil, akademi ini pun menghasilkan banyak pemain bintang.

“Ketika timnas U-23 Vietnam mengalahkan Malaysia 3-0 pada tahun 2017, sembilan dari pemain Vietnam – setengah dari skuat Vietnam -- merupakan jebolan Arsenal JMG Academy. Pemain-pemain muda yang jadi inti kekuatan timnas senior seperti Nguyen Chong Phuong – yang dikenal sebagai Messi Vietnam --, Vu Van Thanh, dan Luang Xuan Truong juga jebolan akademi,” tulis Duncan.

Dari sana Arsenal JMG Academy lantas menjadi obor di Vietnam. Akademi-akademi lain, yang tak kalah kualitasnya, banyak berdiri, dan timnas Vietnam pun nyaris tak pernah kekurangan pemain-pemain bintang.



Bagaimana dengan di Indonesia?

Meskipun saat ini pengembangan pemain muda mulai digalakkan, akademi di Indonesia masih banyak yang memiliki kualitas rendah. Penyebabnya macam-macam: kurangnya fasilitas memadai, pelatih-pelatih berkualitas, hingga adanya praktik kolusi serta nepotisme dalam pemilihan pemain.

Dan masalah kemudian semakin rumit ketika tak banyak pihak yang bersedia mengelola pembinaan usia dini secara sungguh-sungguh.

Setidaknya masalah ini sudah menjadi perhatian Alfred Reidl sejak tahun 2011 lalu. Masih dalam wawancaranya dengan Tempo, ia mengatakan:

"Sepakbola usia dini tak populer karena tidak menghasilkan uang. Di sisi lain, PSSI juga tidak punya kekuatan dan uang untuk melakukan pembinaan usia dini yang berjenjang. Hanya idealisme yang mendorong pelatih dan pengurus klub untuk melatih bocah."

Dan alih-alih timnas dapat mendapatkan asupan pemain-pemain berkualitas, Indra Sjafri juga pernah mengatakan, “kesulitan semua pelatih timnas adalah masih mengajarkan ketrampilan dasar pemain, seperti sentuhan pertama, kontrol bola, dan taktik individu. Itu seharusnya tak boleh terjadi di level timnas.”

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight