Tielman Brothers, Anak Band Belanda Keturunan Indonesia

Reporter: Petrik Matanasi, tirto.id - 25 Jul 2017 11:30 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Anak-anak Kapten KNIL berdarah Timor itu tak dikenal di Indonesia, tapi kariernya cemerlang di Negeri Belanda. Tielman Brothers dianggap sebagai pelopor Indo-rock.
tirto.id - Pangkat Herman Dirk Tielman sudah kapten saat Tentara Kerajaan Hindia Belanda alias Koninklijke Nederlandsch Indische Leger (KNIL) bubar pada 27 Juli 1950. Kapten adalah pangkat mentereng bagi laki-laki berdarah Indo yang usianya hampir 46 tahun.

Menurut lembaran-lembaran registrasi tawanan perang Jepang koleksi Arsip Nasional Belanda, Herman lahir di Kampung Baru, Manado, Sulawesi Utara, 2 September 1904. Dia adalah anak pegawai kotapraja Surabaya, Willem Adrian Tielman, orang asli Bonipoi, Kupang, Timor.

Sebelum Perang Dunia II, Herman sempat kawin dan punya lima anak dari Flora Laurentine Hess, perempuan Indo-Jerman kelahiran Madiun, 1901. Sebelum perang, anak-anak mereka—Reginald (Reggy), Ponthon, Andy, Laurance (Lou Lou) dan Janette Loraine—masih kecil. Sebelum kawin dengan Herman, Flora pernah kawin dengan Louis Napoleon Uchtmann dan punya empat anak.

Pada 1942, di awal pendudukan Jepang, Herman ditawan balatentara Jepang. Sebelum ditawan, dia berdinas di Surabaya. Maka, Flora sendirian membesarkan anak-anaknya di rumah. Empat anak laki-laki pertama Tielman masih bisa mengingat masa pendudukan Jepang yang kejam itu—yang oleh orang non-Indonesia biasa disebut zaman perang.

“Ketika perang datang, dunia hancur. Seluruh dunia saya berantakan," ingat Andy, seperti dikatakannya pada majalah Hello (25/02/2010).


Setelah Oktober 1945, ketika Tentara Sekutu Inggris masuk ke Surabaya dan kota-kota lain di Indonesia, Herman bebas. Keluarga Tielman pun berkumpul kembali. Sentimen anti-Belanda, termasuk kaum Indo, membuat keluarga ini tidak aman dan harus mengamankan diri di bawah lindungan pasukan sekutu. Setelah KNIL bubar, dia tak bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Baca:

Herman punya anak-anak yang doyan berkesenian. Di bawah bimbingan Herman, mereka membentuk The Timor Rhythm Brothers. Di antara anak-anaknya itu, Andy dikenal paling jago memainkan gitar. Sekitar 1947-1948, dia sudah belajar main gitar. Mereka memainkan lagu-lagu populer di masa kecilnya dari berbagai genre: keroncong, langgam, country, dan jazz.

“Waktu itu umur saya sekitar 11-12 tahun. Pertama kali memainkan lagu Keroncong Morisko dan Bengawan Solo,” kata Andy kepada majalah Rolling Stone (11/11/2011).

“Saat itu tahun 1949 dan musik rock & roll belum lahir tentunya,” Andy melanjutkan. "Kami hanya memainkan musik country yang dipercepat dan dibuat sedikit lebih keras, upbeat. Tiga atau empat tahun setelahnya kami baru mengenal apa itu rock & roll.”

Menurut Denny Sakrie dalam 100 Tahun Musik Indonesia (2015), The Timor Rhythm Brothers adalah salah satu fenomena band bocah yang sudah muncul pada dekade 1940an. Denny Sakrie menulis, “awalnya mereka bermain di hadapan keluarga dan kerabat sang ayah di rumah. Namun, akhirnya The Timor Rhythm Brothers mulai bermain musik di berbagai jenis pentas pertunjukan.”

“Mereka sempat tampil di depan presiden pertama Indonesia, Ir. Sukarno, namun bukan dalam konsep band, hanya menari di Istana Negara untuk merayakan kemerdekaan Indonesia,” tulis Dhahana Adi dalam Surabaya Punya Cerita (2014).

Sebelum 1956, kehidupan orang-orang Belanda maupun Indo di Indonesia masih baik-baik saja. Namun, setelah kemarahan Sukarno dan Indonesia karena Belanda tak kunjung menyerahkan Papua, kehidupan orang-orang Belanda di Indonesia jadi tak menyenangkan. Banyak perusahaan Belanda diambil alih. Orang-orang Belanda yang tak mau menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) banyak yang dideportasi, perayaan Sinterklas Hitam tiap 5 Desember juga kena larangan.

Tak hanya orang-orang Belanda macam keluarga Wieteke van Doort yang merasa susah tinggal di Indonesia. Keluarga Indo macam Tielman pun juga angkat kaki dari Indonesia pada 1957. Mereka sempat tinggal di Breda, Belanda dan anak-anak Herman itu jadi salah satu bekas warga Hindia Belanda yang sukses di blantika musik di Belanda, bahkan di sekitar Eropa dan dunia. Selain anak-anak Tielman, orang kenal suara renyah dan lagu-lagu karangan Daniel Sahuleka.

Baca:


Infografik tielmans Brother


Tak sia-sia mereka meninggalkan Indonesia dan naik kapal berhari-hari ke Negeri Belanda. Karier musik anak-anak Herman berkembang. The Timor Rhythm Brothers ganti nama Tielman Brothers. Seperti kecenderungan banyak band keluarga di tahun 1950an, di belakang nama mereka diembeli kata Brother atau Bros.

Mereka tak hanya tampil dari panggung ke panggung, tapi juga di televisi Belanda. Menurut George Lipsitz dalam American Studies in a Moment Danger (2001), Tielman Brothers bermain atraktif dan “liar” dalam sebuah festival di Brusel. Jatah bermain mereka hanya lima belas menit, tetapi mereka bermain lebih dari itu.

Band ini juga dikenal di Eropa secara umum. Ketika para personel The Beatles masih mengamen di Jerman, band keluarga yang tidak bocah lagi ini sudah masuk televisi. Lipsitz menulis, konon, George Harison sang gitaris Beatles menjuluki Andy sebagai Andy: The Indo Man. Bentuk gitar bass yang dipakai, Ponthon, konon mempengaruhi bentuk gitar bass yang dipakai Paul McCartney di The Beatles.


Kiprah anak-anak Herman ini, meski kurang dikenal di Indonesia, tapi sangat populer di Belanda. Lagu mereka "Rock Little Baby of Mine" diakui pemerintah Kerajaan Belanda sebagai lagu rock & roll pertama di Negeri Belanda.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani

DarkLight