Sebuah Nama di Balik Kesuksesan The Beatles

The Beatles dan Brian Epstein (tengah). Foto/popdose.com/Harry Benson
Oleh: Alexander Haryanto - 21 September 2016
Dibaca Normal 3 menit
Di balik teriakan para penggemar, hingar bingar suara panggung, kelap kelip sorotan lampu serta album yang terjual hingga jutaan kopi, ada satu hal yang selalu dilupakan mengenai kesuksesan The Beatles, yakni peran Brian Epstein sebagai seorang manajer.
tirto.id - “Jika ada orang kelima Beatles, itu adalah Brian.”

Itulah ungkapan Paul McCartney kepada BBC ketika mengenang kiprah sang manajer Brian Epstein dalam membesarkan grupnya, The Beatles. Di tangan Brian, band asal Liverpool ini berhasil menjadi grup paling populer di dunia.

Brian menjadi tokoh kunci dalam membesarkan The Beatles, terutama pada awal karier mereka. Ia bekerja tanpa lelah, terus bergerilya mencari peluang berpromosi, baik itu di radio maupun televisi.

Mengenai kerja keras itu, Pattie Boyd, mantan istri dari mendiang George Harrison bahkan mengatakan motif utama Brian bukanlah uang. Semangatnya adalah untuk memastikan bahwa Beatles dapat memenuhi potensi kreatif mereka secara luas.

“Dia tidak termotivasi oleh uang tetapi oleh keinginan untuk membuat impian seniman dan sahabatnya menjadi kenyataan” dikutip dari Huffington Post.

Selain itu, Brian juga menjadi satu-satunya orang yang yakin akan potensi The Beatles. Pada awal 1962 ia bahkan pernah membuat sebuah statemen yang cukup mengejutkan. Ia mengatakan bahwa suatu saat The Beatles akan lebih besar dari Elvis.

Hal itu terdengar menggelikan, mengingat Elvis Presley adalah bintang pop terbesar dan ikon idola remaja pada saat itu. Yang lebih penting lagi, Elvis adalah orang Amerika. Sementara Beatles hanyalah empat pemuda dari Liverpool, dan saat itu tidak ada musisi Inggris yang sukses di Amerika.

Ide-idenya liar, bahkan melampau zaman. Ketika salah satu perusahaan rekaman terbesar di Amerika Serikat, Capitol Records menolak The Beatles sebanyak empat kali, Brian tidak menyerah, ia menyusun rencana brilian. Pada November 1963, ia terbang ke New York dan mengadakan pertemuan dengan acara legendaris The Ed Sullivan Show. Ia melobi The Beatles untuk tampil di sana.

Meskipun Beatles tidak mempunyai kontrak rekaman di AS, ia berhasil membujuk Sullivan agar mau menampilkan grup binaannya itu. Munculnya The Beatles dalam acara itu mengejutkan banyak pihak. Selama acara itu digelar, 74 juta pasang mata menyaksikan pertunjukkan itu.

Melihat kesuksesan itu, presiden Capitol Records akhirnya bersedia menandatangani kontrak dan berkomitmen untuk mempromosikan The Beatles secara besar-besaran. Sejak saat itulah para pemuda menjadikan The Beatles sebagai idola mereka.

Jika Brian tidak pernah melobi The Ed Sullivan Show, mungkin telinga anak muda di Amerika saat itu tidak akan pernah mendengar keajaiban musik dan pesona John Lennon, Paul McCartney, Ringo Starr dan George Harrison.

Kedatangan The Beatles ke New York pada 7 Februari 1964 tidak hanya sekadar berdampak pada kesuksesan mereka semata. Sejumlah pihak menilai, The Beatles telah membuka pintu bagi musisi Britania lainnya ke Amerika. Warga Amerika bahkan menyebut fenomena ini dengan istilah “British Invasion”.

Istilah "British Invasion" menggambarkan periode musik di pertengahan 1960-an, ketika artis rock Inggris mendominasi chart musik Amerika. Invasi Inggris berakhir di tahun 1967, ketika psychedelic menjadi mainstream.

Seperti dikutip dari rateyourmusic.com tercatat kurang lebih 100 band atau artis asal Inggris yang eksis di Amerika. Beberapa di antaranya, The Rolling Stones, The Kinks, The Who, Yardbirds, The Animals, The Dave Clark Five, The Hollies, Dusty Springfield, Herman's Hermits, Gerry and The Pacemakers, The Searchers, dan masih banyak lagi.



Pertemuan dengan The Beatles

Sejarah besar itu dimulai ketika kabar mengenai The Beatles muncul di halaman depan majalah Mersey Beat, ditambah lagi dengan poster-poster mereka yang bertebaran di beberapa titik kota Liverpool. Hal itu memancing Brian untuk menyaksikan penampilan The Beatles di Cavern Club.

Selama pertunjukkan itu, Brian terkesima menyaksikan musik serta pesona pribadi keempat orang pemuda itu. Setelah pertunjukan berakhir, Brian langsung mendatangi mereka dibelakang panggung.

Brian berniat mengelola band itu, maka pada Januari 1962 The Beatles menandatangani kontrak dengan Epstein. Brian kemudian membentuk perusahaan manajemen artis, NEMS Enterprises. Maka pada Oktober 1962, empat hari sebelum mereka merilis “Love Me Do”, John Lennon dan Paul McCartney menandatangani kontrak selama tiga tahun di NEMS.

Inisiatif Brian memegang Beatles terbilang unik, meskipun tak berpengalaman menjadi manajer artis. Ia menerapkan beberapa aturan, seperti melarang Beatles merokok, mabuk dan berbicara kasar di atas panggung. Selain itu, Brian juga meminta mereka menggunakan jas dan dasi dalam setiap penampilan mereka.

Paul setuju akan aturan itu, sementara Lennon menolak menggunakan jas dan dasi. Namun, pada akhirnya Lennon sepakat, dengan harapan kelompok itu dapat lebih terorganisir.

Brian mulai membuat banyak perjalanan mengunjungi perusahaan rekaman di London seperti Columbia, Pye, Philips, Oriole dan yang paling terkenal Decca Record, ia juga memberikan undangan untuk menyaksikan penampilan Beatles, namun hal itu selalu ditolak.

Setelah mendapat banyak penolakan, Mike Smith dari Decca Record akhirnya menerima undangan Brian untuk menyaksikan pertunjukan Beatles di Cavern Club, hal ini sekaligus membawa Beatles pada audisi mereka di London bersama Decca.

Sebulan kemudian, audisi mereka di tolak. Pihak Decca mengatakan “The Beatles tidak memiliki masa depan di bisnis pertunjukan” kata pernyataan itu dikutip dari Legacy.com.

Brian tak putus asa, dia bekerja keras untuk mendapatkan kontrak rekaman. Akhirnya ia bertemu dan membujuk George Martin agar mau menerima mereka di Parlophone Record, sebuah label kecil milik EMI. Karena keyakinannya pada Brian, The Beatles akhirnya mendapat kontrak dengan label itu.

Pada 1962, The Beatles mendapat pengarahan dari George Martin di Studio Abbey Road EMI, London untuk merekam “Love Me Do”. Single itu dirilis pada bulan Oktober 1962 dan berhasil menduduki posisi ke 17 dari 20 besar tangga lagu di Inggris. Setelah selesai merekam singel keduanya berjudul “Please Please Me” pada bulan November, mereka mulai muncul di televisi pertama kali dalam program People and Place.

Melihat kiprahnya dalam membesarkan The Beatles, tak heran jika Paul menyebut Brian sebagai “Orang kelima Beatles”. Ia telah menjadi tulang punggung di balik gegap gempitanya kesuksesan The Beatles. Kepiawaiannya dalam mempromosikan band tak perlu diragukan lagi. Selain itu, Brian juga dinilai mampu memediasi beberapa konflik antar anggota.

Maka, tak heran jika sebagian pihak berpendapat bahwa kematian sang manajer pada 27 Agustus 1967 lalu, sekaligus menjadi penanda awal keretakan band asal Inggris yang berhasil menyihir berjuta-juta pendengar di seluruh dunia itu.

Baca juga artikel terkait MANAJER MUSIK atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Musik)

Reporter: Alexander Haryanto
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight