Menuju konten utama

Tewas Karena Membongkar Korupsi Sepak Bola

Pembongkaran kasus suap dan korupsi di tubuh federasi sepak bola Ghana melibatkan Presiden Federasi.

Tewas Karena Membongkar Korupsi Sepak Bola
Dalam foto yang diambil pada hari Jumat, 18 Januari 2019, Anas Arimiyaw Anas, jurnalis investigasi, (tengah), dengan menutupi wajahnya menghadiri pemakaman sesama jurnalis investigasi Ahmed Hussein-Suale, yang ditembak mati oleh orang-orang bersenjata dengan sepeda motor pada Rabu malam, di Accra, Ghana Kedutaan Besar AS di Accra mengutuk pembunuhan jurnalis investigasi Ghana yang membantu mengekspos pejabat tinggi di badan sepak bola dunia FIFA sebagai korup. (AP Photo)

tirto.id - 17 Januari 2019, Ghana menjadi bahan pembicaraan dunia karena hal tidak menyenangkan. Ahmed Divela, seorang jurnalis investigasi yang membantu membongkar kasus korupsi sepakbola Afrika, ditembak mati oleh orang tak dikenal. Ia ditembak dua kali, di bagian kepala dan leher, saat hendak pulang ke rumahnya yang berada di daerah Accra, ibu kota Ghana.

Kematian Divela itu tentu sangat mengagetkan. Menurut data dari Committee to Project Journalist, pembunuhan yang dilakukan terhadap Husein tersebut termasuk kasus langka di Ghana. Pasalnya, sejak tahun tahun 1992 hingga 2018 lalu, hanya ada seorang jurnalis Ghana yang mengalami kasus serupa.

Divela adalah anggota Tiger Eye Private Investigation, sebuah penyedia jasa jurnalisme investigasi yang dipimpin oleh Anas Aremeyaw Anas, jurnalis terkemuka asal Ghana. Pada Juni 2018 lalu, mereka mengeluarkan video dokumenter berjudul Number 12 yang menunjukkan bagaimana Kwesi Nyantakyi, Presiden Federasi Sepakbola Ghana (GFA), serta sekitar 100 perangkat pertandingan di Afrika melakukan praktek suap.

Setelah melakukan investigasi, informasi dalam video itu ternyata akurat dan langsung ditindaklanjuti oleh pemerintah Ghana dan FIFA. Pemerintah Ghana segera membekukan federasi sepakbola mereka. Pada akhir Oktober 2018 lalu, karena terbukti bersalah, Nyantakyi mendapatkan sanksi tegas dari FIFA: ia dilarang berkecimpung di dunia olahraga seumur hidup serta dikenai denda sebesar 50 ribu dolar.

Selain Nyantakyi, delapan wasit dan asisten wasit juga mendapatkan sanksi seumur hidup, dan 53 pejabat dikenakan sanksi selama 10 tahun.

Penyebab Divela dibunuh, diduga adalah keterlibatannya dalam pembuatan video itu. Menurut The Guardian, jauh hari sebelum tewas, Divela sebetulnya sempat melapor ke polisi karena mendapatkan ancaman dari Kennedy Agyapong, seorang politikus asal Ghana. Kala itu, dalam sebuah acara di televisi, Agyapong memperlihatkan foto Divela sambil menyuruh para pengikutnya untuk mencarinya. Tak main-main, jika para pengikutnya mampu menemukan Divel, ia bahkan bersedia memberikan imbalan.

“Bocah itu [Divela] sangat berbahaya, ia tinggal di Madina. Jika Anda bertemu dengannya, hajar saja dia,” kata Agyapong.

Dari sana, Agyapong tentu saja dituduh menjadi dalang pembunuhan Divela. Namun, ia ternyata menampik tuduhan itu. Melalui Neat FM, sebuah saluran radio lokal, Agyapong mengatakan, “Ia [Divela] tidak pernah membuat saya tersinggung. Jadi, mereka harus menyelidiki orang-orang yang dibuatnya tersinggung, buka saya. Dia dan bosnya [Anas] sudah banyak menyinggung orang di negara ini. Setan akan selalu mengikuti ke mana pun mereka pergi.”

Seperti kata Agyapong, Divela dan Anas Aremeyaw Anas memang tak hanya sekali itu membuat orang kebakaran jenggot. Pada tahun 2015 lalu, melalui film dokumenter Ghana in The Eyes of God, Divela juga pernah membantu Anas dalam membongkar borok dalam sistem pengadilan Ghana. Hasilnya: 12 hakim di pengadilan tinggi, 20 hakim di pengadilan rendah, dan 19 anggota komisi layanan yudisial dipecat karena terbukti bersalah.

Yang menarik, jika melihat bagaimana sepak terjang Anas sebelumnya, Divela mungkin bukan sasaran utama untuk dilenyapkan: ia hanya dijadikan korban untuk memberi peringatan terhadap Anas.

Siapa Anas Aremeyaw Anas?

Pada tahun 1999 silam, kegigihan Anas Aremeyaw Anas sebagai wartawan investigasi tercium oleh Kweku Baku, Pemimpin Redaksi The Crusading Guide. Penyebabnya, kala ia magang di The Crusading Guide, Anas pernah membuat laporan mengenai kasus suap yang melibatkan kepolisian Ghana.

Untuk membongkar kasus itu, Anas menyamar menjadi seorang penjual asongan, yang sebetulnya merupakan praktik ilegal di Ghana. Dari sana, ia kemudian menyadari bahwa para pedagang asongan bisa tetap berjualan secara bebas karena mereka ternyata memberikan potongan harga kepada para polisi. Anas lalu menulis kisah itu dan Baku memujinya.

“Masih muda dan bisa membuat strategi laporan seperti itu? Setelah kasus itu, saya lalu mendorongnya untuk mengurusi cabang ivestigasi di surat kabar itu.”

Jauh hari setelah kejadian itu, seiring dengan meningkatnya reputasinya serta kasus-kasus yang berhasil dibongkarnya, Vice menyebut Anas sebagai “James Bond dalam dunia jurnalisme.” Sementara itu, The Atlantic menjuluki Anas sebagai "Penyelundup, pemalsu, penulis, mata-mata". Julukan-julukan itu diberikan tentu bukan tanpa sebab.

Untuk membongkar kasus-kasus yang rumit dan berisiko, Anas memang terbiasa melakukan penyamaran. Ia bisa menjadi siapa saja: menjadi orang yang mempunyai kaitan langsung dengan kasus atau menjadi orang-orang yang terbiasa berseliweran di tempat kejadian agar tidak dicurigai.

Apa yang dilakukannya saat menyelidiki kasus yang terjadi di Rumah Sakit Jiwa Accra pada tahun 2009 lalu bisa menjadi contoh. Saat itu, melakukan penyelidikan selama hampir tujuh bulan, Anas pernah menyamar menjadi pengemudi taksi, lalu menjadi tukang roti, dan akhirnya menjadi Musa Akolgo, seseorang yang mengaku mengalami sakit jiwa. Karena penyamarannya ini, Anas sempat impoten selama beberapa minggu karena dipaksa minum obat oleh dokter di RSJ.

Infografik Anas Aremeyaw Anas

Infografik Anas Aremeyaw Anas

Usaha keras Anas membuahkan hasil. Lewat tulisannya yang berjudul "Undercover Inside Ghana’s ‘Mad House’"yang kemudian didukung oleh video dokumenter yang tayang di TV3, Anas akhirnya berhasil menguak borok yang terjadi di rumah sakit jiwa itu. Orang-orang Ghana geger dan kaget saat mengetahui kenyataan di rumah sakit itu ternyata ada transaksi jual beli obat-obatan terlarang, ada para pasien yang disiksa secara tidak manusiawi, ada pasien yang dibiarkan mencari makanan di tempat sampah, dan ada juga jasad pasien yang didiamkan selama berhari-hari.

Selain melakukan penyamaran, Anas juga terbiasa menutupi indentitasnya saat tampil di depan publik, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Biasanya, Ia akan mengenakan topi bertudung yang dilengkapi dengan penutup wajah. Soal penutupan identitas ini, Anas pernah menyampaikannya saat tampil dalam acara Ted pada 2013 lalu.

“Maafkan aku karena aku tidak dapat memperlihatkan wajahku. Karena jika aku memperlihatkannya, orang-orang jahat akan datang kepadaku,”

Sejauh ini, berdasarkan video dokumenter yang ia bikin, Anas setidaknya sudah berhasil membongkar lebih dari 40 kasus kejahatan. Selain kasus di Rumah Sakit Jiwa Accra dan kasus suap polisi di jalanan Accra, ia juga pernah bekerja sama dengan kepolisian internasional untuk membongkar perdagangan perempuan di Ghana, menyelamatkan kaum albino di Tanzania, hingga menyelamatkan nyawa anak-anak cacat dari ritual sinting di Ghana sebelah utara. Namun, di antara semua itu, kasus suap yang terjadi dalam sepakbola Ghana dan mengakibatkan kematian Husein, adalah salah satu yang terbesar.

Untuk semua itu, kepada siapa pun yang merasa tersinggung dengan perbuatannya, Anas kemudian mengatakan, “Apa pun yang akan terjadi, aku tidak akan pernah berhenti.”

Baca juga artikel terkait KASUS PENGATURAN SKOR atau tulisan lainnya dari Renalto Setiawan

tirto.id - Olahraga
Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Nuran Wibisono