Terpuruk pada 2018, Reksa Dana Masih Layak Dikoleksi Tahun Ini?

Oleh: Ringkang Gumiwang - 14 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Kinerja IHSG 2018 yang tak secerah tahun sebelumnya turut membuat imbal hasil reksa dana negatif. Hanya reksa dana pasar uang yang berkinerja positif.
tirto.id - Sepanjang 2018, kinerja pasar modal Indonesia memang tak secerah tahun sebelumnya. Nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan 2,54 persen menjadi 6.194, jauh dari capaian akhir 2017 sebesar 6.355. Torehan akhir 2017 menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Pada Januari-Februari 2018, IHSG sempat bergerak positif seiring dengan penguatan rupiah, bahkan sempat menembus rekor baru di level 6.660. Namun, pada Maret, IHSG mulai berguncang. Kala itu, Bank Sentral AS atau The Fed menaikkan suku bunga 0,25 basis poin dari 1,5 persen menjadi 1,75 persen. Sampai Desember, The Fed menaikkan suku bunga sebanyak empat kali, hingga menjadi 2,5 persen.

Pada saat bersamaan, IHSG kian tertekan ketika isu perang dagang antara AS dan Cina ikut mencuat. Ditambah lagi, muncul juga krisis nilai tukar di negara-negara berkembang seperti Turki dan Venezuela.

“Turbulensi yang kuat dari faktor eksternal menjadi penyebab utama IHSG minus. Apalagi nilai tukar rupiah juga terdepresiasi cukup dalam,” kata Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan kepada Tirto.

Pergerakan rupiah sepanjang 2018 mengalami penurunan dari sebelumnya Rp13.542 per dolar AS menjadi Rp14.481 per dolar AS atau turun 6,9 persen. Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang penurunan IHSG.


Kinerja IHSG berdampak pada sektor investasi reksa dana. Gara-gara pasar modal lesu, imbal hasil reksa dana sepanjang 2018 ikut-ikutan minus. Investasi di reksa dana salah satu pilihan masyarakat perkotaan. Dengan reksa dana, investor tidak perlu bingung ketika ingin menempatkan uang di pasar modal karena sudah ditentukan oleh Manajer Investasi (MI).

Di pasar modal, pilihan untuk menempatkan dana cukup beragam, di antaranya seperti pasar uang, saham, obligasi dan lain sebagainya. MI akan mengatur porsi penempatan di ketiga pasar itu sesuai dengan keinginan investor. Varian reksa dana saat ini cukup beragam. Namun yang paling umum, adalah reksa dana saham, reksa dana campuran, reksa dana pendapatan tetap, dan reksa dana pasar uang.

Berdasarkan data dari Infovesta Utama, tiga dari empat reksa dana mencatatkan kinerja yang negatif. Hanya produk-produk reksa dana pasar uang yang sanggup menjaga kinerja positif dengan rata-rata imbal hasil tumbuh 4,52 persen dari total sebanyak 107 produk.

Reksa dana saham menjadi reksa dana dengan kinerja terburuk ketimbang reksa dana lainnya. Dari total produk reksa dana saham sebanyak 238 produk, sebanyak 178 produk di antaranya tercatat negatif. Alhasil, rerata kinerja imbal hasil reksa dana saham minus 3,78 persen.


Jenis reksa dana dengan kinerja negatif lainnya adalah reksa dana pendapatan tetap. Dari total produk reksa dana pendapatan tetap sebanyak 242 produk, sebanyak 175 produk di antaranya negatif. Rerata kinerja pun menjadi minus 2,25 persen.

Terakhir, adalah reksa dana campuran. Rerata kinerja reksa dana campuran tercatat minus 1 persen. Dari total produk reksa dana campuran sebanyak 143 produk, sebanyak 90 produk di antaranya berkinerja negatif.

“Pasar modal yang melempem membuat kinerja obligasi dan pasar ikut menurun. Sementara reksa dana pasar uang positif lantaran porsinya banyak di deposito,” kata Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana kepada Tirto.

Reksa dana pasar uang memiliki kebijakan untuk berinvestasi 100 persen pada instrumen pasar uang. Yang dimaksud dengan instrumen pasar uang adalah surat berharga yang jatuh temponya tidak lebih dari 1 tahun, termasuk deposito di bank.

Di lain pihak, porsi reksa dana saham paling banyak ditempatkan di pasar saham, minimal 80 persen dari total nilai aktiva bersihnya. Konsekuensi banyak ditempatkan di saham, reksa dana saham memiliki risiko paling tinggi ketimbang reksa dana lainnya. Sementara reksa dana pendapatan tetap, porsi dana yang ditempatkan pada instrumen obligasi dengan jatuh tempo di atas 1 tahun, minimal mencapai 80 persen. Secara teori, kenaikan suku bunga, membuat harga obligasi menjadi turun.


Infografik Kinerja Reksa dana 2018
Infografik Kinerja Reksa dana 2018


Peluang Reksa Dana 2019


Minat masyarakat untuk berinvestasi di reksa dana memang makin tumbuh meski kinerjanya secara keseluruhan sedang loyo tahun lalu. Hal itu bisa dilihat dari total dan kelolaan industri reksa dana yang sudah menembus Rp507,26 triliun per Desember 2018, naik 11 persen dari Desember 2017.

Jumlah produk yang ditawarkan para perusahaan MI juga terus bertambah. Hingga saat ini, total produk reksa dana sudah mencapai 2.106 produk atau naik 49 persen dari sebelumnya akhir 2016 sebanyak 1.414 produk.

Melihat kinerja reksa dana yang melempem sepanjang 2018 tentu membuat investor berpikir ulang, dan mencari peluang untuk menimbun dana di investasi lainnya, seperti deposito, emas dan lainnya yang justru mencatatkan kinerja yang positif.


Simpanan berjangka (deposito) 12 bulan di bank umum misalnya menawarkan rata-rata imbal hasil sebesar 6,5 persen (PDF) sepanjang Januari-Oktober 2018. Begitu juga emas yang harganya naik sebesar 4,2 persen.

Namun investor juga jangan tergesa-gesa menggeser dananya. Hal itu dikarenakan, menurut Wawan, kinerja reksa dana pada Tahun Babi Tanah ini besar kemungkinan akan lebih baik ketimbang tahun lalu.

Ada dua hal yang membuat kinerja reksa dana membaik di tahun ini. Pertama, Bank Sentral AS memberikan sinyal untuk mengerem rencana kenaikan suku bunga. Kedua, secara statistik, IHSG saat Pilpres belum pernah sekalipun negatif.

“Target kami untuk reksa dana pendapatan tetap bisa tumbuh 5-6 persen. Reksa dana saham 9-10 persen, reksa dana campuran 7 persen dan reksa dana pasar uang sebesar 6 persen,” kata Wawan.

Apakah masih akan tetap menaruh keranjang investasi di reksa dana pada tahun ini?

Baca juga artikel terkait REKSA DANA atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Suhendra