Piala Dunia 2018

Terbuang oleh Perang, Dipisahkan El Clasico, Disatukan oleh Timnas

Oleh: Eddward S Kennedy - 14 Juli 2018
Dibaca Normal 5 menit
Masa kecil keduanya dibentuk oleh perang, masa dewasanya dipertemukan oleh sepakbola: sebagai lawan dan kawan.
tirto.id - Usai mengetahui kakeknya ditembak mati sekelompok preman Serbia, hidup Luka Modric sudah tidak pernah sama lagi. Usianya masih enam tahun saat itu: 18 Desember 1991.

Kejadian tersebut berlangsung di Modrici, sebuah dusun terpencil yang terletak di lereng gunung Velebit, Dalmatia utara. Di sanalah Modric dan keluarganya tinggal. Ketika Perang Balkan mulai berkecamuk, area tersebut dikuasai Srpska Autonomna Oblast Krajina (SAO Krajina), pasukan pemberontak Serbia yang salah satu misinya adalah mengusir dan menghabisi orang-orang Kroasia.

Menyusul keadaan yang semakin gawat, keluarga Modric pergi mencari bantuan di kota Zandar, sekitar 45 kilometer dari Modrici. Mereka menetap sementara di sebuah hotel yang jamak ditempati para pengungsi lain: Hotel Iz. Tak ada aliran listrik sama sekali kala itu dan pasokan air pun juga amat terbatas. Dentuman granat, desing peluru, dan ancaman ranjau darat adalah hal normal yang biasa ditemui Modric kecil.


Keluarga Modric sejatinya cukup berada. Ayahnya, Stipe Modric, berprofesi sebagai aeromekanik dan terdaftar sebagai tentara Kroasia. Sementara ibunya, Rodojka, bekerja di sebuah pabrik tekstil. Maka dari itu, kendati tengah dilanda perang, orang tua Modric masih sanggup membiayai pendidikan untuk anak-anaknya. Modric kecil bahkan didaftarkan ikut akademi sepakbola. Adiknya, Lukina, juga tetap dapat bersekolah di Zandar. Namun, tentu saja kondisi finansial keluarga itu tidak lagi sama sejak perang dimulai.

“Ketika perang berlangsung, kami sekeluarga menjadi pengungsi. Itu adalah saat-saat tersulit. Saya masih berusia enam tahun. Saya masih sangat ingat dengan jelas tapi itu semua bukan sesuatu yang ingin Anda kenang atau semacamnya. Kami tinggal di hotel selama beberapa tahun dan berusaha mati-matian untuk bertahan hidup,” ungkap Modric, dikutip dari The Independent.

Hidup di dalam kondisi peperangan tentu tak menyenangkan, terlebih bagi bocah laki-laki yang menggemari sepakbola. Untuk mengatasi ketakutan sekaligus membunuh rasa bosan, tiap hari Modric kecil selalu bermain bola sendirian di tempat parkir hotel.

“(Walau keadaannya sulit), saya selalu mencintai sepakbola. Saya ingat dulu pelindung tulang kering pertama saya bergambar wajah Ronaldo. Saya sangat menyukainya.”

Kebiasaan Modric bermain bola sendirian di tempat parkir tersebut kemudian diketahui oleh Josip Bajlo, pemilik klub NK Zadar. Bajlo mengaku terkesan dengan kemampuan Modric kala itu, kendati ia tak pernah mengira jika kelak bocah tersebut akan tumbuh menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia seperti hari ini.


“Dia kurus dan sangat kecil untuk usianya, tapi Anda bisa langsung bahwa anak itu memiliki sesuatu yang istimewa di dalam dirinya. Hanya saja, tidak seorang pun yang bermimpi bahwa suatu hari dia akan menjadi pemain seperti sekarang,” ujar Bajlo kepada The Guardian.

Pada usia ke-16, Modric mulai menapaki karier sepakbola dengan bergabung bersama tim junior Dinamo Zagreb. Tapi di sana nasibnya tak mulus, hingga ia sempat dipinjamkan ke klub Bosnia Herzegovina, Zrinjski Monstar, dan Inter Zapresic, yang berkompetisi di Divisi Satu Liga Kroasia. Baru pada musim 2005/2006 ia teken kontrak profesional dengan Zagreb dan berhasil mempersembahkan tiga gelar Liga Kroasia secara beruntun.

Karier Modric kian menanjak setelah Tottenham Hotspur kepincut meminangnya pada 2008. Selama empat musim memperkuat The Lilywhites, Modric bermain reguler di tim inti sebanyak 127 kali dan mencetak 13 gol. Kendati demikian, hidup Modric bukannya sepi masalah. Justru ketika berkarier di Inggris, pemain kelahiran 9 September 1985 itu sempat menjadi public enemy rakyat Kroasia.

Pangkal persoalannya adalah relasi Modric dengan Zdravko Mamic. Di Kroasia, Mamic bukan orang sembarangan. Mantan Direktur Eksekutif Dinamo Zagreb ini dapat dikatakan sebagai “broker” raksasa yang mengatur bursa transfer para pemain berbakat di Kroasia. Wabilkhusus mereka yang memperkuat Dinamo Zagreb.

Jika si pemain akan dibeli suatu klub, maka Mamic akan mendapat imbalan. Modric pun mengalami hal tersebut ketika ia dibeli Hotspur dari Zagreb. Dari biaya transfer sebesar 16,8 juta euro, Mamic mendapatkan sekitar 80%-nya. Masalah mulai muncul ketika ia dituduh telah melakukan penggelapan pajak dengan cara memalsukan segala dokumen terkait penjualan beberapa pemain. Ia pun dijatuhi hukuman enam setengah tahun penjara.

Pada Juni 2017, Modric yang menjadi salah satu saksi di pengadilan Mamic dianggap telah memberi keterangan palsu dengan mengatakan “tidak mengingat kejadian tersebut”. Ia juga menyebut klausul kontrak sudah ada sebelum penjualannya ke Spurs.


Akibat sikapnya itu, mayoritas publik Kroasia, terutama suporter Dinamo Zagreb, merasa geram dengan Modric. Ia dianggap sebagai kawanannya Mamic. Kesaksian Modric, yang terkesan melindungi Mamic, membuat kesal banyak orang yang menginginkan perubahan dalam tata kelola sepakola di Kroasia. Mamic adalah penghalang terbesar perubahan itu, karena dia mencengkeram sangat kuat bukan hanya di Dinamo, tetapi juga federasi sepakbola Kroasia.

Hal tersebut turut dibenarkan oleh salah seorang jurnalis Kroasia, Bernard Jurisic. Kepada Skysports, ia mengatakan: "Kasus pengadilan Mamic diikuti dengan serius di Kroasia, dan kenyataan bahwa Modric terlibat dalam keseluruhan cerita tersebut tidak diragukan lagi telah merusak reputasinya.”

Infografik Luka Modric

Cinta yang Bersemi di Sebuah Bar

Januari 2011. Ivan Rakitic baru tiba di Spanyol pada malam hari. Ia datang dari Jerman untuk menyelesaikan tes medis dan tanda tangan kontrak bersama Sevilla yang telah mendatangkannya dari Schalke 04. Tapi Rakitic tidak bisa tidur kendati malam sudah larut. Ia pun mengajak Dejan, saudara laki-lakinya, untuk pergi ke bar hotel.

“Ayo nongkrong dulu baru setelahnya kita tidur,” katanya.

Sesampainya di bar tersebut dan memesan minuman, Rakitic dan Dejan terlibat obrolan santai. Ketika itu Dejan juga sempat mendapat telepon dari perwakilan salah satu klub besar di Eropa. Mereka membicarakan kemungkinan apakah Rakitic bersedia pindah ke klub mereka. Jika tawaran tersebut disetujui, klub tersebut akan mengirimkan pesawat pribadi untuk menjemput Rakitic malam itu juga. Gelandang yang kini berusia 30 tahun itu kemudian menolak tawaran tersebut, karena ia sudah mengatakan “ya” kepada Presiden Sevilla.

Tetapi bukan itu hal yang mengejutkan Rakitic pada malam tersebut, melainkan kecantikan salah seorang pramusaji wanita di bar tersebut. Kepada Dejan, ia bahkan sempat berkata: “Kamu lihat pramusaji perempuan itu? Saya akan bermain untuk Sevilla dan akan menikahi perempuan tersebut.”

Dejan hanya tertawa: “Terserah apa katamu saja.”


Pada mulanya, Rakitic kesulitan mendekati perempuan tersebut karena kendala bahasa. Ia sebetulnya menguasai berbagai bahasa pokok di Eropa seperti Perancis, Inggris, Jerman, Italia, dan bahasa ibunya, Serbo-Croatian, namun ia tak bisa berbahasa Spanyol. Maka ketika tiap pagi datang ke bar tersebut, Rakitic hanya mampu menyapa si pramusaji dengan kalimat yang sama selama berminggu-minggu: “Buenos días, Raquel. Un café y un Fanta naranja.”

“Selamat pagi, Raquel. Kopi dan fanta oranye, ya.”

Kurang lebih dua tahun lamanya Rakitic menjajaki hubungan dengan Raquel, pada April 2013 ia pun menikahi perempuan tersebut. Dua bulan setelahnya, putri pertama mereka lahir dan diberi nama Althea. Tiga tahun berikutnya, pasangan tersebut dianugerahi putri kedua: Adara. Ia menepati omongannya kepada Dejan.

Rakitic menceritakan seluruh kisah pertemuannya dengan Raquel di tulisannya, "A Croatian Guy Walks into a Bar", yang tayang di Players Tribune pada September 2017 lalu. Namun demikian, hingga tahun kelima mereka bersama, Rakitic masih belum dapat memahami apa yang sebetulnya terjadi dalam kisah yang mirip film Hollywood tersebut.

“Saya tak tahu bagaimana menjelaskannya. Terkadang, Anda bertemu seseorang dan tiba-tiba muncul perasaan yang berbeda dari biasanya. Setiap saya melihatnya, saya merasa ada bom di dalam diri saya. Saya belajar tiap kata (dalam bahasa Spanyol) secara perlahan, minggu demi minggu, dan jika saya kepayahan, saya akan menggunakan tangan saya untuk menjelaskan kepadanya apa yang ingin saya katakan.”


Berbicara soal bom, pada 2017 lalu ketika Barcelona mendapat serangan teroris, Rakitic dan keluarganya yang kala itu hendak pergi ke pusat kota, nyaris saja tertimpa musibah jika Raquel tidak meminta sang suami mengubah tujuan. Dilansir Marca, Rakitic sempat mengungkapkan hal tersebut.

"Saya sangat dekat dengan kejadian serangan teroris baru-baru ini di Barcelona. Saya pergi ke pusat kota dengan keluarga saya dan kami akan pergi ke tempat di mana serangan itu terjadi. Tetapi hari itu sangat cerah dan istri saya mengatakan sebaiknya kami membiarkan anak-anak bermain di taman dekat rumah. Puji Tuhan saya mendengarkannya. Kami hanya berjarak tiga atau empat menit saja dari lokasi kejadian. Begitu orang-orang mendengar berita serangan tersebut, teman-teman dan keluarga saya segera menghubungi untuk mengetahui keadaan kami."

Rakitic lahir dan besar di Swiss. Seperti Luka Modric, perang mengubah dan membelokkan jalan hidupnya. Keluarganya mengungsi ke Swiss dan di sana pula ia mengenal dan meniti karier sepakbola. Jika bukan karena Slaven Bilic, seperti dipaparkannya dalam artikel yang tayang di situsweb Player Tribune, ia sangat mungkin akan bermain untuk Swiss, bukan Kroasia.

Andai itu terjadi, pasti ia tak akan bermain di final Piala Dunia, bahu membahu dengan Modric mengawal lini tengah Kroasia.

Bertarung di El Clasico, Bersatu Demi Piala Dunia

Modric pindah ke Madrid dua tahun lebih dulu (2012) daripada Rakitic hjrah ke Barcelona (2014). Berkali-kali bertemu, berkali-kali pula keduanya saling melemparkan guyonan. Rakitic, misalnya, sering meledek Modric dengan bilang bahwa ia lebih “Cules” (sebutan untuk pendukung Barcelona) daripada dirinya.

“Beberapa kali saya meledeknya, memintanya agar jangan marah, sebab ia lebih ‘cule’ daripada saya. Ketika kami masih muda, kami semua punya klub favorit. Dan sudah bukan rahasia jika Luka begitu mencintai seragam berwarna merah dan biru itu,” ujar Rakitic.

Ia melanjutkan: “Kadang ketika kami bertanding, saya juga kerap mengejeknya setelah laga usai dan kami bertukar seragam. Saya bilang kepadanya: ‘Sekarang kamu bisa membawa pulang jersey yang sangat kamu cintai ini.’ Memalukan karena dia tidak jadi bermain di Camp Nou, tetapi sebuah kehormatan juga untuk bertanding dengannya di La Liga atau Liga Champions.”
Rakitic tak asal bercanda. Pada 2008, koran Spanyol, Mundo Deportivo, pernah merilis foto Modric tengah memamerkan jersey Barcelona bernomor 14 yang tertulis namanya. Pada tahun yang sama pula, Modric sejatinya dapat hijrah ke Barca, namun urung terjadi karena Blaugrana hanya bersedia meminangnya untuk jangka pendek. Hal ini sempat diungkapkan Bojan Krkic Sr., ayah dari bekas pemain Barca, Borjan Krkic, yang bekerja sebagai salah satu agen klub tersebut.

“Saya melihatnya dengan sangat jelas, begitu pula dengan kasus (Franck) Ribery di mana kami sudah nyaris mendapatkannya. Modric adalah pemain dengan mental pemenang, tapi klub tidak memikirkan masa depannya, mereka hanya bersedia menawarkan short-to-medium-term,” ujarnya.

Apapun yang terjadi, kedua kompatriot tersebut telah membuat sejarahnya masing-masing di kedua klub yang saling bermusuhan. Namun esok, 15 Juli 2018, Rakitic dan Modric akan saling berjuang sekuat tenaga untuk meraih Piala Dunia pertama bagi Kroasia.

Khusus Rakitic, ia bahkan siap mengorbankan kariernya asal Kroasia menjadi juara.

“Akan ada 4,5 juta orang (Kroasia) di lapangan. Kami akan saling mendukung satu sama lain. Ini adalah pertandingan terbesar dalam hidup kami dan kami ingin pulang dengan kepala tegak. Saya akan melepaskan karier saya jika itu adalah harga yang harus dibayar untuk membawa negara saya menang, untuk memenangkan Kroasia,” katanya dikutip dari The Telegraph.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Zen RS