tirto.id - Dalam pojok tanya jawab Manga One Piece yang dikenal dengan istilah Shitsumon o Boshū Suru (SBS), tepatnya untuk One Piece Volume 113, Eiichiro Oda sang kreator pernah ditanya seputar sosok York, salah satu tubuh klon Vegapunk, yang punya niatan menjadi Tenryubito alias Kaum Naga Langit.
Tenryubito adalah kelompok bangsawan dunia yang berkuasa dan bertindak semena-mena dalam semesta One Piece. Jika York yang merupakan "bagian terpisah" dari Vegapunk ingin jadi Tenryubito, apakah hal itu menandakan bahwa Vegapunk sebenarnya memiliki hasrat tersembunyi untuk menjadi bagian dari kaum bangsawan dunia yang dibenci oleh masyarakat itu?
Ketika itu, Oda menjawab, "Setiap orang memiliki keserakahan atas segala hal, dan hanya ketika mereka memiliki akal sehat untuk menahan diri, barulah mereka menjadi 'manusia'. Jika kamu merasakan kebencian terhadap Tenryubito atau memiliki akal sehat bahwa kita tidak boleh membunuh manusia, mungkin saja ada sosok Tenryubito di dalam dirimu yang sedang ditahan. Jawaban sederhananya adalah mungkin (semua) manusia memang memiliki keinginan untuk menjadi Tenryubito".
Sejak awal kemunculannya di One Piece, Tenryubito memang ditampilkan sebagai penguasa yang semena-mena. Dalam Arc Sabaody, ada salah satu Tenryubito yang bernama Saint Rosward Charlos. Ia muncul sambil duduk di atas budak manusia yang ia perlakukan layaknya hewan tunggangan.
Bahkan Charlos yang tertinggal dari sang ayah dan adik, menendang kepala sang budak sembari berkata, "Ini semua gara-gara kau yang jalannya lambat, bahkan lebih lambat daripada kura-kura! Yang paling membuatku tidak nyaman, kau juga goyang-goyang terus!"
Kebusukan Charlos tidak berhenti di sana. Dia menembak seseorang yang sedang ditandu dokter hanya karena "orang-orang rendah" seharusnya tidak bergerak ketika ada Tenryubito. Tanpa rasa bersalah, Charlos berkata, "mana yang paling penting, nyawa seorang rakyat biasa atau hormat mereka kepadaku?" Ini dijawab pelayan Charlos dengan kalimat, "nyawa rakyat biasa adalah milik Tenryubito."
Puncaknya adalah saat Charlos melihat seorang perawat cantik dan detik itu pula menjadikannya sebagai istri ke-13. Dengan mudahnya pula Charlos melepas istri-istrinya yang lain.
"Aku juga sudah bosan dengan istri pertama dan kelima. Jadi, kamu bisa mengembalikan mereka sebagai rakyat biasa."
Eksploitasi Tanpa Moral dan Ilusi Kekuasaan Mutlak Tenryubito
Ucapan Saint Roswald Charlos di Chapter 499 Manga One Piece adalah cerminan bagaimana Tenryubito memandang institusi sosial, bahkan yang paling mendasar sekalipun seperti pernikahan dan pekerjaan.
Bagi Saint Charlos dan kebanyakan Tenryubito lain, seorang istri bukanlah pasangan hidup, melainkan barang koleksi yang bisa dikonsumsi, dipakai, lalu dibuang begitu saja ketika kejenuhan melanda.
Istilah "mengembalikan mereka sebagai rakyat biasa" diucapkan dengan nada yang sama santainya seperti seorang anak kecil yang bosan dengan mainan plastik lalu mencampakkannya ke dalam tong sampah.
Hal yang sama dilakukan oleh Saint Figarland Garling. Ia dengan mudahnya membunuh sang istri, Magnolia, ibu Shanks dan Shamrock. Dalam kata-kata terakhirnya untuk Magnolia, Garling menyatakan, "Lagipula, aku sudah mendapatkan calon mempelai yang cocok untukku dan dia sudah jadi pesananku. Dia akan jadi milikku asal aku menang dalam turnamen (perburuan manusia di Gods Valley)."
Di mata Tenryubito, status manusia di luar garis keturunan mereka sifatnya tidaklah penting. Hari ini seseorang bisa saja menjadi "istri bangsawan", namun detik berikutnya ia bisa langsung diputus hubungannya, dipecat dari lingkar kekuasaan. Bahkan, orang-orang "rendah itu" langsung dibuang tanpa keadilan.
Contohnya adalah Ginny, ibu Jewelry Bonney, yang dipaksa sebagai istri kedelapan seorang Tenryubito. Ia lantas dijadikan sebagai objek penelitian Saint Garcia Saturn, lantas ditelantarkan setelah terkena penyakit Sapphire Scales.
Fenomena "hobi memecat orang" ini tidak hanya terjadi dalam konteks hubungan sumi-istri yang abusif dan menguntungkan satu pihak. Hobi Tenryubito soal yang pecat-memecat ini juga berlaku bagi siapa saja yang bekerja atau berurusan dengan mereka.
Para pelayan, pengawal, hingga petinggi militer sekalipun tidak pernah aman dari kemurkaan emosional Tenryubito. Bahkan, sesama Tenryubito yang sudah tidak lagi menjadi Kaum Naga Langit pun dianggap tidak setara lagi.
Dalam kasus Donquixote Homing, ayah Donquixote Doflamingo, ia meninggalkan Mary Geoise untuk menjadi "manusia biasa". Sejak awal para Tenryubito sudah menyebut Homing sebagai pengkhianat.
Ketika keluarga Homing tidak disambut oleh rakyat biasa karena kebencian mendalam terhadap Tenryubito, sebenarnya Homing ingin istri dan anaknya kembali ke tanah suci. Namun, jawaban dari Mary Geoise adalah "Kau sendiri yang memilih kehidupan itu. Kau tak bisa mengambil kembali apa yang sudah kau lepaskan. Jadi, jangan hubungi lagi, manusia kotor."
Tindakan sewenang-wenang Tenryubito terjadi kepada siapa pun di luar lingkaran mereka. Tidak ada konsep hak asasi manusia, tidak ada kontrak kerja yang adil, dan tentu tidak ada norma hukum yang mampu mengadili perbuatan Kaum Naga Langit.
Kesewenang-wenangan Tenryubito ini bisa bertahan selama delapan abad dalam semesta One Piece. Ini tidak terlepas dari klaim historis dan struktur ekonomi-politik yang mereka kuasai. Tenryubito mendaku diri sebagai penguasa dunia karena mereka adalah keturunan langsung dari 20 Raja Pendiri yang mendirikan Pemerintah Dunia 800 tahun yang lalu setelah jatuhnya Ancient Kingdom.
Atas dasar sejarah peradaban tersebut, mereka menganggap seluruh daratan, lautan, serta nyawa manusia yang hidup di atasnya merupakan milik pribadi nenek moyang mereka yang diwariskan secara turun-temurun. Tidak adanya lawan politik yang berhadapan langsung dengan mereka membuat Tenryubito berdiri sebagai "majikan tunggal" untuk seluruh dunia.
Dalam semesta One Piece, Tenryubito bertindak sebagai pemilik absolut modal, hukum, dan angkatan militer.
Sebaliknya, rakyat biasa, di luar Tenryubito, diposisikan sebagai "penumpang" yang sewaktu-waktu bisa diabaikan jika dianggap tidak lagi berguna atau membangkang.
Di sisi lain, Angkatan Laut digunakan Tenryubito menjadi "tukang pukul" untuk melindungi kepentingan para bangsawan, bukan untuk melindungi rakyat kecil.
Ketika Saint Charlos dengan enteng memecat istri-istrinya atau menembak warga sipil di jalanan, ia sedang menampilkan manifestasi puncak kekuasaan tanpa kontrol. Ia tidak merasa perlu berargumen atau memberikan alasan logis karena sistem hukum dunia dibuat untuk melegitimasi setiap kehendak Tenryubito, kaumnya.
Namun, di kubu rakyat biasa yang terus digerus oleh kesewenang-wenangan Tenryubito, kebencian terus menguat dari abad ke abad. Peristiwa ketika keluarga Homing disalib di depan kastil dengan cacian rakyat jadi gambaran. Ketika itu, rakyat kecil berteriak, "kita akan melampiaskan dendam selama ratusan tahun ini!"
Tidak ada kalimat lain yang lebih tepat soal Tenryubito ini dibandingkan ucapan Eustass Kid di Chapter 500, "Dibandingkan dengan sucinya para 'kaum kelas atas' (Tenryubito) ini, para penjahat di dunia justru terlihat jauh lebih manusiawi. Apa kalian sadar, saat sampah menguasai dunia, maka dunia akan melahirkan sampah?"
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id


































