Menuju konten utama
Misbar

Teluh Darah: Sejarah Kelam dan Evolusi Santet

Serial supranatural ini, digawangi oleh Kimo Stamboel yang menayangkan dua episode pertamanya pada gelaran JAFF Desember lalu.

Teluh Darah: Sejarah Kelam dan Evolusi Santet
Film Teluh Darah. FOTO/Disney+ hotstar

tirto.id - Beberapa bulan sebelum Kerusuhan Mei 1998 merebak, sebuah radiogram meluncur dari Komisaris Besar (Purn.) HT Purnomo Sidik, Bupati Banyuwangi. Ia menginstruksikan seluruh jajaran aparat pemerintahan guna mendata dan mengamankan warga yang diduga memiliki kemampuan supranatural atau mendalami ajaran kebatinan.

Isi radiogram tersebut kemudian ditengarai memicu serangkaian peristiwa pembantaian terhadap orang-orang yang disinyalir mempraktikkan ilmu hitam, khususnya santet dan tenung. Rangkaian kejadian itu berlangsung pada kurun waktu Februari hingga September 1998.

Ragam intimidasi yang terjadi pun kerap ditandai oleh kemunculan sekumpulan sosok seperti ninja. Sosok-sosok liyan itu beroperasi menggunakan handy-talky dan selalu bergerak secara sistematis guna menghabisi sasarannya. Keseluruhan tragedi kemanusiaan itu kemudian dikenal publik sebagai Geger Santet Banyuwangi.

Dewasa ini karya audio visual yang mengangkat latar sejarah kelam dimaksud semakin banyak mengisi layar lebar. Di ranah film panjang terdapat Khanzab, film horor besutan Anggy Umbara yang mengambil setting tragedi serupa pada bulan Mei 1998.

Pada kategori serial, kita bakal mendapati Teluh Darah. Serial supranatural ini, yang digawangi oleh Kimo Stamboel yang tengah naik daun, menayangkan dua episode pertamanya pada gelaran Jogja NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke 17 bulan Desember lalu, sebelum merilis lengkap 10 episode di kanal streaming Disney+ Hotstar.

Saya menggarisbawahi beberapa elemen inovatif dalam narasi Teluh Darah. Elemen-elemen tersebut tentu semakin menahbiskan kepiawaian Kimo sebagai calon maestro horor tanah air, sembari mewarnai catatan riwayat gelap yang tetap misterius hingga kini.

Stigma Historis

Dalam buku Negara vs Santet (Nicholas Herriman, 2013) terdapat sebuah jargon yang pasti langsung menarik perhatian siapapun yang membacanya. Jargon itu mengatakan bahwa dengan modal goceng (lima ribu rupiah) anda sudah bisa memesan santet di Banyuwangi.

Selaku kabupaten yang berlokasi di ujung timur Pulau Jawa, Banyuwangi sesungguhnya mempunyai beberapa julukan yang lebih positif: The Sunrise of Java, Bumi Blambangan, Kota Gandrung, hingga Kota Osing.

Apa daya, narasi yang mengidentikkan Banyuwangi sebagai Kota Santet lebih kuat membekas dalam ingatan kolektif masyarakat kita. Maka tak heran bila unsur klenik sedemikian rupa kerap dimanfaatkan demi menyulut kemarahan massal penduduk setempat.

Belum lagi kepercayaan kuno Jawa yang lazim disebut kejawen kerap menganggap bagian paling timur dari suatu wilayah merupakan tempat berkumpulnya energi negatif, pintu bagi kutuk dan nasib sial yang bersiap menyerang. Posisi geografis Banyuwangi tak pelak mengokohkan stigma buruk dimaksud.

Masa kepemimpinan Abdullah Azwar Anas selama satu dekade (2009-2019) memang terbukti mampu mengubah image Kabupaten Banyuwangi menjadi destinasi pariwisata kelas wahid. Prestasi beliau kini menjadi tolok ukur pencapaian bagi banyak kepala daerah lainnya.

Namun tetap saja, selubung misteri yang menghalangi pengungkapan tragedi pembantaian setidaknya 100 orang terduga dukun santet dalam rentang masa delapan bulan itu begitu tebal. Banyak korban salah sasaran, bahkan berasal dari kalangan santri serta kiai lokal.

Situasi politik nasional yang tidak menentu kala itu dianggap secara luas berperan penting dalam mengakselerasi aksi teror. Akibat turut menyasar santri, peristiwa pembantaian ini kerap dilabeli dengan sandi Operasi Naga Hijau.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia telah menyatakan rentetan pembunuhan tersebut sebagai kasus pelanggaran HAM berat. Jejak kekerasan bernuansa politis dan trauma berkepanjangan yang tersisa kemudian dibingkai ulang dalam tatanan cerita kekinian.

Teluh Darah secara khusus menyandarkan konstruksi naratifnya pada peristiwa pembantaian terduga dukun santet tersebut. Serial itu mengeksplorasi penggunaan ilmu hitam yang telah menjadi ciri khas dalam negeri sebagai alat penuntasan dendam.

Elemen inovatif pertama yang menonjol dalam serial ini adalah progresi pilihan-pilihan estetik Kimo tatkala ia memvisualisasikan tanda-tanda teluh yang menyerang. Saya akan membahas perihal itu secara mendalam pada bagian berikutnya.

Infografik Misbar Teluh Darah

Infografik Misbar Teluh Darah. tirto.id/Fuad

Evolusi Santet

Pada salah satu episode, penonton akan menyaksikan Harun (Hingka Moedra) bergumul melawan Ridho (Kiki Narendra), ayah Atik (Shenina Cinnamon). Menggunakan tenaga terakhirnya, Harun menggigit salah satu telinga sampai putus lantas memantrai potongan telinga itu.

Tak lama berselang, Harun melemparkan potongan telinga itu ke dalam akuarium. Hanya dalam sepersekian detik, Ridho mendadak megap-megap kehabisan nafas. Bola matanya memutih lantas mulutnya memuntahkan sejumlah banyak air tanpa henti. Ridho kemudian tewas dengan kondisi tak ubahnya orang yang tenggelam di dasar danau/laut.

Rasanya belum ada penggambaran cara kerja teluh yang memakai medium cairan sedemikian rupa yang mampu tampil begitu mengejutkan dan sensasional dalam khasanah film horor tanah air sejauh ini.

Bagi saya, parade visual seperti ini kelak akan sama legendarisnya dengan adegan sepatu boot tentara di dalam mangkuk bakso dalam film Benyamin Tukang Ngibul (Nawi Ismail, 1975), atau arang yang dipatahkan Asrul Sani guna mewakili idiom “patah arang”.

Pada episode-episode awal, Kimo konsisten memakai imaji umum mengenai santet: rambut panjang khas kuntilanak, kelabang, ulat, kecoa, bagian tubuh binatang yang ditanam di rumah target, benda-benda pribadi target yang raib, serta tak lupa medium boneka jerami.

Namun begitu durasi serial rampung setengah jalan, keputusan kreatif sang sineas mulai mengambil alih. Perhatikan bagaimana teknik rogo sukmo yang ketahuan menyusup ke lokasi sang dukun kemudian berbalik menjadi siksaan meregang nyawa hanya dalam tempo singkat.

Kejutan belum berhenti di situ. Menjelang klimaks, kita akan melihat inovasi lain yang lebih tajam: tak ada medium boneka, manusia hidup pun jadi. Nasib orang yang hendak ditolong justru terpaut dengan nasib sang medium yang ingin dimusnahkan.

Seorang pengamat film senior pernah mengutarakan bahwa Kimo adalah dokter sinema horor kontemporer tanah air. Bagi saya, sejatinya Kimo sudah melewati tahapan itu. Ia sedang merangsek naik ke jajaran tertinggi pembuat film lokal dengan ragam interpretasi estetisnya.

Tanpa mengurangi rasa salut pada kapabilitas sang sutradara dalam merancang ekosistem horor yang bersih dari penampakan hantu murahan, menjaga tempo ketegangan, sampai meledakkan plot twist yang benar-benar membahana di pengujung serial, Kimo telah membuka pintu evolusi anyar terhadap pencitraan santet secara kreatif.

Teluh Darah mengandung semua faktor yang berpeluang besar membuat sebuah serial layak dikenang hingga bertahun-tahun ke depan. Motif balas dendam puluhan tahun yang menunggang sebuah episode sejarah kelam menjelang era reformasi, imaji segar santet atau tenung, maupun metode bercerita yang menabung rasa penasaran di setiap episode.

Kimo menyimpan senjata pamungkasnya untuk menu penutup. Petualangan Wulan (Mikha Tambayong) dengan Esa (Deva Mahenra) menemui konklusi yang sangat memuaskan, sebab dampak hubungan mereka menyempurnakan lingkaran setan yang bermula dari Banyuwangi 1998.

Ending yang mengemuka pun menyisakan ruang eksplorasi baru. Saya tentu tak keberatan menyambut musim anyar dari teluh-teluh darah yang siap menerjang Wulan dan Wisnu (Justin Adiwinata) selaku penyintas yang tersisa.

Baca juga artikel terkait MISBAR TIRTO atau tulisan lainnya dari Jonathan Manullang

tirto.id - Film
Kontributor: Jonathan Manullang
Penulis: Jonathan Manullang
Editor: Lilin Rosa Santi