STOP PRESS! Diduga Terlibat Plagiasi, Rektor UNJ Diberhentikan Sementara

Telegram, Makin Populer (Dianggap) Makin Mengkhawatirkan

Telegram, Makin Populer (Dianggap) Makin Mengkhawatirkan
Ilustrasi aplikasi Telegram. FOTO/GettyImage
15 Juli, 2017 dibaca normal 3:30 menit
Telegram akan diblokir karena dianggap oleh pemerintah Indonesia "membantu penyebaran radikalisme." Padahal tak semua konten di Telegram berbahaya. Banyak kelompok diskusi bermanfaat di layanan pesan tersebut.
tirto.id - Rencana pemblokiran Telegram langsung memicu keramaian. Pemerintah Indonesia berdalih Telegram dimanfaatkan untuk radikalisme. Padahal, tidak semua konten di Telegram berbahaya, bahkan menguntungkan banyak orang karena keunggulan layanannya.

"Iya betul (Telegram) ditutup karena mengandung konten radikalisme seperti mengajarkan orang cara membuat bom," ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara kepada Tirto.

Pengumuman tersebut langsung memicu aksi protes. Warga dunia maya langsung membanjiri Twitter dengan tanda pagar #telegram. Banyak warganet yang menyuarakan kekecewaan terhadap keputusan Kominfo menutup Telegram.

Pavel Durov, pengusaha Rusia yang mendirikan dan CEO Telegram, bahkan menyampaikan respons keterkejutannya dalam salah satu cuitan segera setelah Kominfo menutup Telegram.

"Kami tak pernah menerima permintaan atau pengaduan dari pemerintah Indonesia," tulis Durov. "Kami akan menyelidiki dan bikin pernyataan sikap."


Bagi sebagian warganet, Telegram cukup membantu pekerjaan mereka karena layanan pesan itu dapat memuat lebih banyak anggota dari aplikasi mengobrol lain.

“Bisa mengirim data kapasitas besar, bisa dibuka di beberapa device dengan mudah tanpa hilang data chat atau file,” kata Pasti Putih, pengguna Telegram, kepada ANTARA News.

Layanan Telegram banyak dimanfaatkan untuk grup-grup diskusi. Ini karena Telegram bisa menampung ribuan anggota. Misalnya, grup "Teman Trader" yang memiliki sekitar 4.000 anggota. Telegram telah membantu grup ini untuk menggerakkan trading dan investasi retail di bursa saham dengan memberikan informasi faktual soal bursa.

Ada pula grup "telesejarah" yang sudah beranggotakan sekitar 2.100 anggota. Lantip, anggota grup "telesejarah", mengungkapkan ia sudah bergabung dalam grup tersebut sejak tiga tahun lalu. Selama kurun itu, Lantip merasakan banyak manfaat penting. “Di 'telesejarah' mendiskusikan semua sejarah baik nasional maupun internasional. Masalah kesehatan, politik,” katanya.

Ia menyayangkan langkah Kominfo memblokir situs-situs milik Telegram. Menurutnya, "bukan jadi alasan" bagi pemerintah menutup situs Telegram dengan dalih bahwa aplikasi pesan itu dituduh "menyebarkan paham radikalisme dan terorisme".

“Itu alasan tidak masuk akal untuk memblokir. (Jangan) karena ada satu, tidak sesuai, kemudian semua disalahkan,” kata Lantip.

Pertumbuhan Pengguna Telegram

Telegram adalah sebuah layanan baru. Ia dibuat oleh Pavel Durov pada 2013. Layanan ini dengan cepat mencapai popularitas. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun setelah diluncurkan, pengguna aktifnya mencapai 60 juta.

Menurut data Statista, pengguna aktif Telegram per Januari 2017 sudah mencapai 100 juta. Telegram berada di peringkat ke-10 dalam daftar mobile message apps paling populer di dunia.

Selain keanggotaannya yang bisa mencapai ribuan orang, Telegram juga diklaim memiliki keunggulan dari sisi keamanan. Telegram menyediakan enkripsi bagi penggunanya. Artinya, pesan dalam teks biasa yang dikirim akan diubah menjadi kode-kode enkripsi dan hanya bisa dibaca atau didekripsi (decrypt) oleh akun yang dituju. Ketika data akan disadap, pesan tak bisa dibuka karena file telah berubah format. 

Enkripsi Telegram ini sangat sulit untuk ditembus peretas. Pada 2014, Telegram membuat kontes berhadiah 300 ribu dolar AS, menantang para peretas untuk membongkar enskripsi. Kontes ini nihil pemenang. 


Kelebihan lain Telegram adalah sistem self-destruct, yakni pesan bisa hancur sendiri sesuai yang kita mau. Pesan akan terhapus sendirinya, baik pesan yang tersimpan di server ataupun perangkat kita. 

Dalam soal privasi, pengguna tidak perlu khawatir jika pesan Anda di-screenshot. Telegram akan memberikan notifikasi begitu ada user lain yang mengambil tangkapan layar hasil percakapan. 

Telegram juga memudahkan pemakai bertukar informasi dalam bentuk file apa pun, tak cuma pada foto, video, audio, atau lokasi. Beragam file mulai dari .gif, .zip, .doc, .pdf dan beragam format lain bisa tetap dikirim. Ini membuat peran telegram mirip seperti email. Kelebihan lain adalah batas maksimal ukuran file yang dikirim bisa mencapai 1,5 gigabyte— lebih besar ketimbang email. 

Sebagai seorang pemrogram, Lantip melihat Telegram memiliki sejumlah keunggulan dibanding aplikasi komunikasi lain. Para pengguna, misalnya, bisa membuat program yang otomatis bekerja dalam sistem komputer (bot).

“Kepakai banget sebagai layanan messenger yang enteng. Mudah dipakai. Kemudian, karena developer yang friendly, kami programmer bisa bikin bot yang bisa rekam diskusi. Kalau di WhatsApp tidak dibuka,” ujar Lantip.

Kekhawatiran Pemerintah

Keunggulan Telegram itulah yang justru menjadi kekhawatiran pemerintah Indonesia. Ia menjadi sulit ditembus dan bisa dimanfaatkan, sebagaimana tudingan pemerintah, "mengajarkan radikalisme."

Rudiantara berkata memiliki bukti bahwa Telegram dimanfaatkan untuk menyebarkan radikalisme.

“Kami punya buktinya, 17 halaman soal radikalisme,” kata Rudiantara.

Ia menegaskan pihaknya terpaksa memblokir karena "tidak ingin mengorbankan banyak masyarakat" lantaran terpapar konten radikalisme.

“Jangan korbankan masyarakat yang manfaatkan [situasi] untuk kepentingan dengan memberi konten negatif,” ungkapnya.

Rudiantara mengklaim pihaknya sudah berkali-kali berkomunikasi dengan pihak Telegram untuk meminta penjelasan ini.

“Saya kejar CEO-nya, saya kirim Dirjen bicara, tapi Telegram susah. Telegram kalau komunikasi harus lewat web mereka,” ujar Rudiantara.


Tidak hanya grup-grup diskusi, grup-grup teror memang ada di pelbagai layanan pesan, termasuk Telegram. Di internet, konten-konten radikalisme juga mudah diakses. Dalam beberapa kasus, para pelaku teror mengaku mempelajari cara membuat bom melalui internet.

Coba saja ketik “cara membuat bom” di mesin pencari seperti Google. Ratusan artikel dengan mudah ditemukan. Apakah ini berarti pemerintah harus menutup Google?

Tentu saja tidak bisa dilakukan. Yang bisa dilakukan pemerintah adalah melakukan pemantauan dan pembersihan jagat maya dari konten-konten radikalisme.

Rudiantara mengatakan, pihaknya memang akan meminta agar Telegram membuat standar operasional prosedur (SOP) penanganan konten-konten radikalisme. 

"Yang kami minta kepada Telegram adalah membuat SOP itu, untuk melakukan self-filtering terhadap konten-konten radikalisme," katanya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika meminta Internet Service Provider (ISP) memblokir 11 situs yang dinilai mengandung konten ilegal. Permintaan itu tertuang dalam rilis elektronik bersubjek “271. [Sangat Segera] Penambahan Database TRUST+ Positif 14 Juli 2017”. Dalam rilis itu Kominfo meminta para ISP segera menambahkan daftar ke-11 situs tersebut ke dalam sistem filter mereka.

Adapun ke-11 situs yang diminta diblokir itu adalah situs-situs yang berhubungan dengan Telegram, aplikasi pesan instan selayaknya WhatsApp. Mereka adalah t.me, telegram.me, telegram.org, core.telegram.org, desktop.telegram.org, macos.telegram.org, web.telegram.org, venus.web.telegram.org, pluto.web.telegram.org, flora.web.telegram.org, flora-1.web.telegram.org.

Program pemblokiran ini masuk dalam sistem mekanisme bernama TRUST+ Positif. TRUST+ Positif ialah mekanisme server terpusat yang jadi acuan informasi-informasi yang dapat ataupun tidak diakses oleh masyarakat. Dalam laman resmi TRUST+ Positif, mekanisme ini dipakai untuk "menciptakan internet aman dan sehat, melindungi masyarakat terhadap nilai atau norma yang tidak sesuai bangsa Indonesia, serta melakukan penghematan terhadap pemborosan penggunaan akses internet."

Baca juga artikel terkait TELEGRAM atau tulisan menarik lainnya Nurul Qomariyah Pramisti
(tirto.id - nqm/nqm)

Keyword