Tanaman Khat: Bisnis Menguntungkan, tapi Bisa Berbahaya

Dua pria membawa tanaman Khat di Harar. Khat (Catha edulis) mengandung alkaloid yang disebut cathinone, stimulan dan amfetamin di Etiopia.FOTO/iStockphoto
Oleh: Widia Primastika - 26 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Bisnis khat mampu meraup keuntungan besar di Ethiopia meski dilarang beberapa negara.
tirto.id - Tim gabungan Bea dan Cukai Bandara Kualanamu, PT Pos Indonesia Wilayah Tanjung Morawa, dan Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara menggagalkan pengiriman 10,6 kg daun khat yang berasal dari Ethiopia pada 18 Juli 2019.

Seperti diberitakan Antara, Wakil Direktur Narkoba Polda Sumatera Utara, AKBP Frenky Yusandhy menyampaikan, daun tersebut dikirim menggunakan kargo bandara dan dibungkus dalam dua kotak.

“Dan di sana [di Ethiopia], ini tidak dilarang, tidak masuk dalam kategori narkotika, sehingga dalam melakukan pendalaman, dia mengatakan, ini enggak dilarang di negara asalnya, ini hanya green tea, dia bilang gitu,” ujar Frenky kepada Antara.

Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN), daun khat, yang memiliki ilmiah nama Catha edulis, termasuk jenis narkotika golongan I. Tanaman ini memiliki kandungan zat katinon, yaitu zat yang memiliki struktur kimia dan efek mirip dengan amfetamin dan kokain.


Konsumsi Daun Khat di Afrika dan Semenanjung Arab


Tanaman khat/Qat memang populer di kawasan Afrika Timur dan Tengah, serta Semenanjung Arab. Tanaman ini biasa dikonsumsi dengan diminum sebagai teh Arab, dikunyah seperti daun sirih, atau diisap.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, tanaman ini tumbuh di dataran tinggi, dan dipetik saat subuh, agar di siang harinya bisa dikonsumsi oleh para pembelinya. Orang-orang di Ethiopia, Yaman, Somalia, dan Kenya, biasa memakan khat sebelum berumur 48 jam setelah panen. Karena jika lebih dari durasi itu, maka sifat alami dari khat akan hilang. Beberapa efek mengonsumsi khat, antara lain, adalah perasaan euforia yang diikuti oleh meningkatnya denyut jantung.



Bagian tanaman khat yang mampu merangsang pemakainya adalah daun muda dan batangnya. Ayman El-Menyar dkk, melalui makalah “Khat Use: History and Heart Failure” yang dimuat di Oman Medical Journal (PDF, 2015) menulis bahwa daun khat yang dikeringkan akan dikonsumsi dengan cara diseduh. Sedangkan bubuk khat biasanya dimakan sebagai pasta dengan madu.

“Hampir 90 persen pria dewasa [di Yaman] mengunyah khat dengan durasi antara tiga sampai empat jam per hari. Kebiasaan tersebut juga dilakukan oleh sekitar 50 persen perempuan,” tulis El-Menyar, dkk.

Tradisi mengonsumsi khat ini sudah berlangsung ribuan tahun. Ini pernah ditulis Hussein M.A. Ageely dalam artikelnya (PDF, 2008) yang merujuk naskah Arab di Bibliotheque National, Paris. Awalnya penduduk Afrika dan Timur Tengah mengonsumsi tanaman ini untuk meringankan kegelisahan dan mendinginkan perut serta hati. Pada abad ke-13, khat digunakan oleh dokter untuk mengobati para tentara yang kelelahan, kemudian dibawa oleh para pedagang sebagai makanan untuk menuntaskan rasa bosan.

Larangan Peredaran khat di Berbagai Negara


Menurut The New York Times, penduduk miskin yang tinggal di negara tempat tanaman khat banyak tumbuh, akan menghabiskan sekitar 50 persen dari penghasilan mereka untuk membeli tanaman ini. Namun dari sisi petani, pendapatan tanaman khat ini bisa lima kali lebih besar ketimbang kopi, dan 25 kali lebih tinggi dari tanaman serealia seperti jagung.

Peredaran khat memang menjadi bisnis yang menggiurkan di Ethiopia. Seperti diberitakan Deutsche Welle, bisnis tanaman khat terus berkembang di sana, dengan keuntungan yang tak mungkin mengalami penurunan.

“Diperkirakan ada perputaran uang [penjualan tanaman khat] sebesar 80 juta dolar (71 juta euro) di pasar setiap hari,” tulis Deutsche Welle.

Jarra Teklay Yohannes, salah seorang pedagang khat mengatakan kepada Deutsche Welle bahwa para pedagang biasanya mulai berjualan sejak pukul tujuh malam hingga dini hari. Di musim-musim tertentu, mereka mampu meraup keuntungan lebih besar dari bisnis ini, yakni dengan mengekspor ke negara tetangga, seperti Djibouti atau Somalia. Bahkan bisnis penjualan daun khat di Ethiopia dianggap sebagai bisnis yang menguntungkan pemerintah.

“Tadi malam, saya menyetor 40.600 birr [1.266 Euro, atau sekitar 1.420 dolar] dari penghasilan [menjual khat] ke bea cukai. Untuk eksportir terbesar, setoran itu bisa mencapai 91.000 dolar setiap hari. Tapi itu persentase yang sangat kecil dari total pendapatan,” ujar Jarra.

Namun, efek kesehatan yang ditimbulkan dari konsumsi khat ini membuat ia dilarang beredar di berbagai negara, seperti beberapa negara Eropa –seperti Jerman, Prancis, dan Belanda–, Amerika Serikat, dan Kanada. Di Inggris Raya, tanaman ini diklasifikasikan ke dalam narkotika kelas C.

Di Indonesia, penggagalan pengiriman daun khat dari Ethiopia yang terjadi pada 18 Juli 2019 merupakan upaya kali kedua. Sebelum ini, tepatnya di bulan Mei 2019, petugas Bea Cukai Bandara Internasional Kualanamu juga melakukan aksi serupa.




Dampak Kesehatan Konsumsi Khat

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tak menganggap khat sebagai tanaman yang memunculkan kecanduan serius. Meski begitu, konsumennya akan mengalami euforia dan bisa berlanjut dengan depresi.

A.A. Gunaid dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Sana’a, Yaman, mencatat ada banyak kasus halusinasi berkelanjutan yang dialami oleh para konsumen khat. Tak hanya itu, khat juga berpengaruh terhadap kebiasaan tidur seseorang, serta membuat konsumennya mengalami penurunan produktivitas.

Pernyataan Gunaid ini sejalan dengan riset Heather Douglas, Merali Boyle, dan Nicholas Lintzeris, yang mencari dampak kesehatan dari konsumsi khat (2011, PDF) terhadap responden yang berada di Komunitas Somalia di Brisbane, Sydney, Melbourne, dan Perth.

Ada 114 partisipan dalam riset ini, mereka terdiri dari 79 pria dan 35 perempuan, dengan usia antara 18 sampai 78 tahun, baik menikah maupun belum menikah. Responden dibagi menjadi dua, yaitu konsumen daun khat dan yang tidak.

Hasil riset menyebut ada efek psikostimulan yang muncul dari konsumsi khat, seperti peningkatan energi, peningkatan mood, serta pengurangan nafsu makan dan durasi tidur.

“Banyak pengguna melaporkan efek penghentian seperti kelesuan, gangguan tidur dan masalah suasana hati setelah sesi penggunaan khat yang berat, dan beberapa melaporkan pengobatan sendiri dengan alkohol untuk mengatasi masalah tersebut,” ujar Boyle, dkk.

Padahal menurut studi yang dilakukan Dilshad Manzar bersama lima orang rekannya (PDF, 2018), penggunaan khat dan alkohol lebih berbahaya bagi kesehatan. Melalui penelitiannya, Manzar, dkk mengulik dampak penggunaan alkohol, khat, dan rokok tembakau terhadap kualitas hidup sekitar 339 orang dewasa di Ethiopia.

Ternyata hasil dari penelitian tersebut ditemukan bahwa responden yang mengonsumsi alkohol dan khat secara bersamaan, serta mengonsumsi alkohol, khat, dan rokok secara bersamaan lebih berpotensi mengalami kualitas tidur yang buruk, dibandingkan mereka yang hanya mengonsumsi salah satu di antaranya.

Baca juga artikel terkait NARKOTIKA atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Widia Primastika
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight