Menuju konten utama
Pemilu Serentak 2024

Sudirman Said Sebut Ada Skenario Ambil Semua Partai di Parlemen

Sudirman Said meyakini bahwa gerbang terakhir penjaga Indonesia saat ini berada di masyarakat sipil.

Sudirman Said Sebut Ada Skenario Ambil Semua Partai di Parlemen
Talkshow Rethinking Indonesia. tirto.id/Adrian pratama Taher

tirto.id - Ketua Institut Harkat Negeri (IHN), Sudirman Said, menyebut ada skenario upaya mengambil semua partai menjadi bagian pemerintah. Ia khawatir situasi tersebut akan membuat persoalan yang terjadi di Indonesia sulit diperbaiki karena tidak ada kontrol di parlemen.

“Katanya nih bisik-bisik di luar sudah ada yang membuat skenario bahwa keadaan ini akan berlangsung selama 20 sampai 25 tahun, bahkan sudah mulai ada bisik-bisik seluruh partai dimasukkan saja dalam koalisi besar, permanen, jangka panjang tinggal 1 atau 2 ditinggalkan di luar,” kata Sudirman di acara yang digelar Desantara Foundation dengan tema ‘Rethinking Indonesia: Pemilu Terburuk dalam Sejarah Indonesia, Akankah Kita Terpuruk’ di Jakarta, Sabtu (2/3/2024).

Menurut Sudirman, hal itu menjadi satu iktikad yang sangat buruk. “Akan membuat kita makin terjerembab, yang saya sebut tadi bisa masuk kategori unfixable,” kata Sudirman.

Sudirman mengatakan, Indonesia saat ini sudah dalam kondisi mencemaskan. Ia beralasan, Indonesia berjalan tanpa rem dalam kurun waktu 9-10 tahun terakhir. Ia mencontohkan parlemen tidak berfungsi dalam pengawasan, BPK mulai bersifat politis, KPK yang sudah dipreteli hingga Mahkamah Konstitusi sebagai guardian of the constitution Indonesia sudah dilumpuhkan.

“Jadi ibaratnya sedang menyetir mobil itu, kita jalan ngebut luar biasa, tapi seluruh instrumen pengendali instrumen kontrol dipreteli, dilumpuhkan, speedometer dimatikan, rem dicopot. Kalau kita tidak hati-hati melewati ini semua, kita bisa masuk dalam tahap satu kerusakan yang bisa disebut unfixable, tidak bisa lagi diperbaiki atau kalaupun bisa diperbaiki akan perlu waktu lama sekali," kata Sudirman Said.

Mantan Menteri ESDM ini mengutip teori 20 tahun yang disampaikan almarhum Cak Nur. Ia mencontohkan, Indonesia dalam 1908 punya kesadaran kebangkitan bangsa. Kemudian 1928 muncul gerakan sumpah pemuda. 1945 mulai ada gerakan kemerdekaan dengan nama negara Indonesia. Pada 1965 muncul gerakan pembangunan. Terakhir adalah 1998 berkaitan kesadaran demokrasi.

“Sebetulnya secara siklus kita sedang mengalami sesuatu yang baik, tapi di tangan orang yang masuk ke dalam kekuasaan yang disebut sebagai orang biasa masuk ke dalam demokrasi memperoleh posisi paling tinggi, ini kelihatannya seperti tidak tahan barangkali karena biasanya sehingga tidak paham bahwa amanah kekuasaan itu bukan hanya soal diskresi, tapi juga tanggung jawab," kata Sudirman.

Sudirman khawatir, situasi saat ini akan memasuki siklus 20 tahunan yang justru mundur ke masa lalu atau kerusakan akan semakin besar dan tidak bisa diperbaiki.

Oleh karena itu, Sudirman Said meyakini bahwa gerbang terakhir penjaga Indonesia saat ini berada di masyarakat sipil. Ia menilai, perlu upaya mengkonsolidasikan kekuatan bersama karena situasi saat ini kebijakan mulai tidak lagi menggunakan pendekatan sains atau etik.

“Makanya itu waktunya barangkali kita memetakan kembali. Memang akan perlu waktu lama, tapi bila kita tidak melakukannya maka kerusakan akan semakin dalam dan tadi sampai pada tahap mungkin sulit diperbaiki," kata Sudirman Said.

Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan lainnya dari Andrian Pratama Taher

tirto.id - Politik
Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz