Menuju konten utama

Sri Mulyani Was-Was Harga Pangan Gerus Pendapatan Orang Miskin

Indonesia mengalami lonjakan inflasi pangan atau volatile food hingga 8,5 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada Maret 2024.

Sri Mulyani Was-Was Harga Pangan Gerus Pendapatan Orang Miskin
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (tengah) berbincang dengan Wakil Ketua Komisi XI DPR Dolfie (kiri) sebelum mengikuti rapat kerja Kemenkeu dengan komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/3/2024). Rapat kerja tersebut membahas evaluasi fisikal pada triwulan I. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/tom.

tirto.id - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyebutkan bahwa Indonesia mengalami lonjakan inflasi pangan atau volatile food hingga 8,5 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada Maret 2024. Menurut dia, kenaikan inflasi akibat harga pangan itu, menggerus pendapatan kelompok masyarakat miskin.

“Harus mewaspadai terhadap komponen inflasi yang berasal dari pangan, yang pasti akan menggerus terutama kelompok paling miskin,” ucap Sri Mulyani dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Jakarta, Selasa (19/3/2024).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu juga membeberkan bahwa faktor musim seperti adanya perubahan iklim El Nino, dibarengi dengan permintaan atau demand yang tinggi mempengaruhi harga pangan hingga berimbas ke inflasi.

“Kita antisipasi karena harga makanan akan sangat menentukan sekali terhadap kemiskinan dan pemerintah ingin mencapai kemiskinan ekstrem 0 persen pada akhir 2024, jadi ini menjadi salah satu tantangan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, dia juga menyoroti kondisi adanya lonjakan harga pada komoditas beras. Bahkan, dalam hal ini, dirinya mengaku baru merapatkan kondisi tersebut bersama Presiden Joko Widodo.

“Harga beras yang meningkat ini telah menjadi perhatian dan bahkan tadi juga sedang dirapatkan oleh Bapak Presiden yang menggambarkan juga bahwa kenaikan dari harga beras,” ucap Sri Mulyani.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi, menyebut bahwa kenaikan harga beras sudah terendus sejak Desember 2023. Kala itu, kata dia, harga gabah sudah naik dan petani berpikir ulang dalam menjual berasnya.

Stok beras disinyalir banyak ditahan ditingkat petani, maka dari itu kelangkaan terjadi dan kenaikan harga tidak terbendung.

“Pada akhir 2023, harga gabah naik, harga beras mulai naik maka petani mulai berpikir menjual berasnya, atau gabahnya pada waktu itu, maka dia akan membayangkan harus membeli beras dengan harga mahal,” ucap Bayu dalam acara Bicara BUMN, Bicara Kondisi Stok dan Harga Beras Terkini, Jakarta, Senin (18/3/2024).

“Maka cukup banyak petani menyimpan, atau dengan kata lain petani lebih banyak menyimpan hasilnya, dibandingkan periode sebelumnya,” imbuhnya.

Baca juga artikel terkait KENAIKAN HARGA PANGAN atau tulisan lainnya dari Faesal Mubarok

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Faesal Mubarok
Penulis: Faesal Mubarok
Editor: Anggun P Situmorang