26 November 2006

S.M. Ardan, Sastrawan Pemotret Kehidupan & Kegetiran Orang Betawi

S.M. Ardan. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Irfan Teguh - 26 November 2019
Dibaca Normal 4 menit
Menurut Boejoeng Saleh, Ardan memotret sepahit-pahitnya realitas kehidupan orang Betawi.
tirto.id - Beberapa hari sebelum wafat, sastrawan S.M. Ardan ditabrak sepeda motor yang pelakunya kemudian melarikan diri. Peristiwa itu terjadi di jalan dekat rumahnya di Rawabelong, Jakarta. Kepalanya mengalami pendarahan, sementara kaki kanannya patah. Setelah beberapa hari koma, Ardan akhirnya meninggal dunia pada 26 November 2006, tepat hari ini 13 tahun lalu.

Penulis yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang Betawi itu lahir di Medan, 2 Februari 1932. Nama aslinya Sahmardan, sebagian sumber menulisnya Syahmardan. Menurut Ajip Rosidi dalam catatan pendeknya bertajuk "Ardan Orang Betawi" dan "Ardan Pembina Seni Betawi", ibunya berasal dari Cigombong, Bogor, sementara ayahnya orang Betawi.

Ketika usianya baru enam bulan, Ardan dibawa pulang ke Jakarta. Di kota inilah ia melanjutkan hidup: bersekolah, bekerja, dan berkeluarga sampai akhir hayatnya.

“Dia sendiri lebih merasa sebagai orang Betawi daripada sebagai orang Sunda, walau di lingkungan keluarganya waktu masih tinggal bersama ibu dan abangnya hidup di Gang Ajudan (kemudian jalan Kramat II akhirnya jadi Jalan Kembang III), Kwitang, dia kadang-kadang berbahasa Sunda,” tulis Ajip.


Semasa sekolah di Taman Madya Siswa, Jakarta—seperti kebanyakan pelajar pada masa itu—Ardan pun banyak terlibat dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Maka, tak heran jika kemudian ia sudah memublikasikan sejumlah puisinya ketika masih duduk di bangku sekolah.

Setelah lulus, menurut Maman S. Mahayana dalam Kitab Kritik Sastra, Ardan memilih dunia menulis dan profesi kepengarangan sebagai jalan hidup. Karya-karyanya, baik puisi, cerpen, maupun esai mulai banyak menghiasi rubrik kesusastraan berbagai media massa.

Pada dekade 1950-an, ketika penerbitan majalah dan surat kabar begitu semarak, ia bersama Ajip Rosidi dan Sukanto S.A menjadi redaktur majalah Arus (1954). Kemudian, pada 1955-1956, bersama Sobron Aidit ia ikut menangani Genta, rubrik kebudayaan mingguan Merdeka.

Lalu, pada 1958 Ardan menerbitkan majalah Trio bersama Trisnojuwono. Memasuki zaman Orde Baru, tepatnya tahun 1966, Ardan ikut pula mendirikan majalah Abad Muslimin. Ketika perfilman Indonesia mencapai masa keemasannya, ia menerbitkan majalah Citra Film (1981-1982). Ardan juga pernah menjadi pemimpin grup drama “Kuncup Harapan” di Jakarta pada 1963-1965.

Karyanya yang paling menonjol dan paling diingat terkait dengan kecintaannya kepada Betawi dan masyarakat Jakarta adalah Terang Bulan Terang di Kali. Kumpulan cerpen yang diterbitkan Pustaka Jaya (1974) dan diterbitkan ulang oleh Masup Jakarta (2007) ini berhasil memotret keseharian masyarakat Betawi yang hidup di ibu kota lengkap dengan segala persoalannya.

H.B. Jassin, seperti dikutip di laman Ensiklopedia Sastra Indonesia, mengungkapkan, “Meskipun nama kumpulan itu diambil dari satu pantun romantis, kehidupan yang dilukiskan adalah kenyataan sehari-hari yang keras, avontur manusia tak punya, yang didekati dengan pengertian yang mesra meresap dan penyerahan yang menyatu. Pemakaian dialek Jakarta dalam kumpulan cerpen itu menciptakan suasana yang wajar dan tidak terlalu mengganggu karena disertai sekadar keterangan dalam bahasa Indonesia.”


Sementara itu, Ajip Rosidi, meski pendapatnya sama, namun secara teknis menilai bahwa Terang Bulan Terang di Kali bukanlah kumpulan cerpen, melainkan kumpulan sketsa. Menurut Ajip, istilah “cerita” kurang tepat, karena—kecuali dalam satu-dua judul—tidak ada cerita sama sekali.

“Ardan tidak menjalin ‘cerita’, dia hanya membuat potret suasana saja,” ujarnya.

Ya, dalam Terang Bulan Terang di Kali—seperti ditulis Ajip, Ardan memang banyak melukiskan suasana kehidupan masyarakat bawah ibu kota: tukang becak, gelandangan, buruh kecil di percetakan, penari doger, dan semacamnya. Yang dilukiskan juga pengalaman sehari-hari seperti membawa anak ke rumah sakit, gelandangan yang mencari emper toko untuk tidur, penganggur melamar kerja, atau gadis yang uang gajinya dicopet waktu naik trem.

Kisah-kisah ini ia ambil dari lingkungan sehari-harinya. Ketika tinggal di Jalan Ajudan, Kwitang, rumah Ardan terletak hampir di ujung barat jalan, berbatasan dengan kali Ciliwung. Rumahnya berdempetan dengan rumah-rumah lain yang secara sepintas saja kelihatan bahwa mereka tidak termasuk orang berada. Ketika kecil, belum banyak pendatang yang tinggal di sekitarnya, sehingga lingkungan itu relatif merupakan lingkungan masyarakat Betawi.

Dengan menggunakan dialek Betawi yang kental, dalam kumpulan cerpennya itu, Ardan membingkai cerita yang sederhana untuk melukiskan masyarakat yang dikenalnya dengan penuh kecintaan. Hal ini berlanjut ketika ia menikah. Ardan dan istrinya sempat tinggal di Rawamangun, tetapi kemudian pindah dan menetap di Rawabelong, Sukabumi Ilir. Meski di Rawabelong kemudian mulai banyak pendatang, suasana masyarakat Betawi kelas bawah masih terasa kental.

“Ardan seakan tidak mau keluar dari kepompongnya: lingkungan masyarakat Betawi. Mungkin dia tidak betah lama tinggal di Rawamangun juga karena di sana suasana Betawinya sudah pudar,” tambah Ajip.

Sementara menurut Boejoeng Saleh (mantan redaktur majalah Kebudayaan Indonesia), Ardan adalah seorang penulis insider. Ia berakar pada masyarakat Jakarta, khususnya Kwitang tempat ia bertempat tinggal. Seperti menggunakan kamera berlensa tajam, Ardan tidak hanya menangkap hal-hal yang eksotis dan romantis pada kehidupan rakyat Jakarta, tetapi juga realitas pahitnya.

“Senda gurau dan humor adalah senjata rakyat. Di dalam realitas hidup yang penuh dengan penderitaan dan kegetiran, rakyat tidak tenggelam ke dalam pesimisme ataupun spekulasi filsafat yang bersifat absurd. Mereka tetap optimis sekalipun tidak menemukan jalan keluar,” tambahnya.

Kiprahnya sebagai sastrawan dimulai lewat penulisan puisi. Dua puisinya yang berjudul "Dengan Tengkorak" dan "Skets" pertama kali dimuat di majalah Pujangga Baru, No. 4, Oktober 1950. Setelah puisinya banyak dimuat berbagai majalah, Ardan kemudian mulai menulis cerita pendek. Cerpen awalnya yang berjudul "Adik, Tetangga, dan Asni" dimuat di majalah Nasional, No. 49, Th. III, 1952.

Beberapa media yang memuat buah karya S.M. Ardan waktu itu, di antaranya majalah Pujangga Baru, Siasat, Kisah, Zenith, Duta Suasana, Mimbar Indonesia, Merdeka, dan Djaja. Total, cerpen Ardan yang tercecer di berbagai media massa itu berjumlah sekitar 40-an cerpen. (Maman S. Mahayana, Kitab Kritik Sastra).



Selain aktif di berbagai media massa dan menulis karya sastra, Ardan juga dikenal sebagai tokoh Betawi yang peduli dengan kesenian tradisionalnya. Kebangkitan lenong, topeng Betawi, dll, tidak lepas dari perannya.

“Sejak tahun 1969, ia aktif membina kesenian Betawi, khususnya Lenong. Dari sana pula, ia ‘terpaksa’ menulis sejumlah naskah lenong. Sayangnya, naskah-naskah lenong yang dihasilkannya masih tercecer dan belum dipublikasikan dalam bentuk buku,” tulis Maman S. Mahayana.

Sejak tahun 1985, Ardan tercatat sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta. Ketika usianya memasuki kepala tujuh, selain mengurus pekerjaan rutinnya di Pusat Perfilman Usmar Ismail, ia juga mencurahkan sebagian waktunya dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Betawi.


Semasa hidupnya, Ardan melahirkan beberapa karya yang terdiri dari kumpulan cerpen: "Terang Bulan Terang di Kali" (1955) dan "Cerita dari Sekeliling Jakarta" (2006). Juga kumpulan sajak Ketemu di Djalan (bersama Ajip Rosidi dan Sobron Aidit, 1956), naskah sandiwara tiga babak Nyai Dasima (1965), dan skenario film Di Balik Dinding (1956), Si Pitung (1970), Si Gondrong (1971), Pendekar Sumur Tujuh (1971), Berandal-berandal Metropolitan (1971), Pembalasan Si Pitung (1977), Rahasia Wisma Mega (1978).

Ketika seorang pengendara motor menghantamnya di jalan, usia Ardan belum genap 75 tahun. Di Rawabelong, Sukabumi Ilir, tempat tinggalnya di lingkungan masyarakat Betawi kelas bawah yang dicintainya, ia terkapar menuju tempat peristirahatannya yang terakhir.

Ardan yang ditinggal kabur oleh penabraknya, seperti tokoh-tokohnya yang ia ceritakan dalam Terang Bulan Terang di Kali, harus menghadapi kenyataan yang getir. Atau, seperti frasa dari Boejoeng Saleh, “realitas yang sepahit-pahitnya.”

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 3 Desember 2017 dengan judul "S.M. Ardan, Sastrawan Pemotret Kehidupan Orang Betawi". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait SASTRAWAN atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight