Situasi Perang Rusia: Ukraina Rebut Kembali Desa Bilohorivka?

Penulis: Alexander Haryanto, tirto.id - 21 Sep 2022 17:58 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Berita perang Rusia-Ukraina hari ini, Rabu, 21 September 2022, berikut situasi terkininya.
tirto.id - Perang Rusia dan Ukraina masih terus berlanjut sampai hari ini, Rabu, 21 September 2022, atau sudah memasuki hari ke-210. Lantas peristiwa apa saja yang terjadi?

Al Jazeera melaporkan, sejak invasi Februari lalu, wilayah Kherson adalah satu-satunya kota besar yang sejauh ini direbut Rusia secara utuh. Oleh sebab itu, Ukraina melancarkan serangan balasan secara besar-besaran di sana.

Selain itu, Gubernur Serhiy Haidai mengatakan, angkatan bersenjata Ukraina berhasil merebut kembali Desa Bilohorivka. Mereka juga berusaha merebut kembali semua provinsi di Luhansk.

Desa Bilohorivka terletak 10 km dari kota Lysychansk yang jatuh ke tangan Rusia setelah berminggu-minggu pertempuran sengit di bulan Juli.




Situasi Perang Rusia-Ukraina Hari ke-210

The Guardian melaporkan, Presiden Rusia, Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi parsial di Rusia. Dia juga mengancam akan menggunakan senjata nuklir karena Rusia punya "banyak senjata untuk membalas."

Menurut dia, hal itu sebagai tanggapan langsung terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh barat, yang "ingin menghancurkan negara kita", dan mengklaim barat telah mencoba "mengubah rakyat Ukraina menjadi umpan meriam."

Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu , mengatakan 300.000 orang Rusia “dengan pengalaman militer ” akan dipanggil. Kontrak tentara yang bertempur di Ukraina juga akan diperpanjang hingga akhir periode mobilisasi parsial.

Kantor berita Rusia, TASS, melaporkan, Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmitry Kuleba mengatakan referendum yang direncanakan di DPR, LPR, Zaporozhye, dan Kherson tidak akan mengubah posisi Kyiv dan Ukraina akan melanjutkan permusuhan.

Hal itu Kuleba sampaikan di Twitter. Dia mengatakan, "Ukraina memiliki hak untuk membebaskan wilayahnya dan akan terus membebaskan mereka apa pun yang dikatakan Rusia."

Sementara itu, Andrey Yermak, kepala kantor kepresidenan Ukraina, menyebut rencana referendum itu sebagai "pemerasan".



Baca juga artikel terkait PERANG RUSIA VS UKRAINA atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Politik)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight