tirto.id - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) berharap program pemerintah, seperti proyek 3 juta rumah dan Giant Seawall, akan menjadi katalis utama penyerapan kelebihan kapasitas atau oversupply semen di pasar domestik pada 2026.
Direktur Keuangan dan Risk Management SIG, Sigit Prastowo, menjelaskan kapasitas terpasang industri semen nasional mencapai 120 juta ton, sementara realisasi permintaan pada 2024 hanya sekitar 65 juta ton.
“Ini menyebabkan utilisasi pabrik secara umum cukup rendah dan persaingan juga tetap ketat di pasar domestik,” katanya dalam public expose, Jumat (12/9/2025).
Di tengah persaingan yang ketat di pasar yang semakin menyempit ini, ia berharap angin segar datang di tahun depan. Pasalnya, pemerintah telah menganggarkan Rp57,7 triliun sebagai stimulus untuk 770 ribu unit rumah di 2025, di luar program 3 juta rumah.
“Pada 2026, terdapat anggaran kurang lebih Rp 57,7 triliun untuk program perumahan nasional, seperti bantuan stimulus program swadaya sejumlah 374 ribu unit, pengembangan KPR subsidi untuk rumah MBR sebesar 350 ribu unit, serta insentif fiskal untuk sekitar 40 ribu unit rumah,” jelas Sigit.
Di sisi infrastruktur, proyek strategis nasional seperti Giant Seawall atau Tanggul Laut Raksasa juga diprediksi akan ikut mendongkrak konsumsi semen. “Anggaran infrastruktur yang masih tinggi di tahun 2025 dan juga beberapa proyek seperti Giant Seawall ini akan diteruskan di tahun 2026,” tambahnya.

Sigit juga memaparkan ketidakseimbangan geografis antara suplai dan demand semen. Pulau Jawa menjadi pusat produksi dengan 66 persen dari total kapasitas nasional yang sebesar 80,6 juta ton, tetapi hanya menyumbang 52,4 persen terhadap permintaan.
Sementara wilayah seperti Sumatra dan Indonesia Timur justru menunjukkan pertumbuhan permintaan yang positif, masing-masing sebesar 4,9 persen dan 5 persen.
“Sementara distribusi semen dari pabrik membutuhkan biaya yang besar sehingga kapabilitas logistik menjadi hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh produsen semen di dalam memenuhi kebutuhan semen di Tanah Air,” ucapnya.
Sementara itu, untuk menyiasati tekanan di pasar domestik, SIG secara agresif membidik pasar ekspor untuk meningkatkan volume penjualan.
“Kami lebih agresif di beberapa pasar. Saat ini kami sudah ada di Australia, ke depan akan menjajaki Bangladesh, Maladewa, Timor Leste, Taiwan, Mozambique, dan Filipina,” tuturnya.
Negara-negara baru seperti di Afrika dan Arab Saudi juga sedang dijajaki, mengingat adanya sejumlah mega proyek di Arab. Yang paling potensial adalah rencana ekspor ke Amerika Serikat (AS) yang ditargetkan bisa terealisasi pada kuartal IV-2025, yang akan didukung oleh produksi semen dari pabrik Tuban.
“Kami sudah memiliki partner di sana (AS) Namun saat ini masih menunggu penyelesaian JT di Tuban sehingga kami bisa mulai mengirimkan semen ke Amerika,” imbuhnya.

SIG tidak hanya mengekspor semen konvensional. Perusahaan juga melihat peluang besar untuk semen hijau (green cement) di pasar global, khususnya Eropa, yang permintaannya sangat tinggi.
“Kami melihat ada prospek juga mungkin di Eropa. Karena di Eropa kebutuhan untuk green cement itu sudah sangat-sangat besar. Kita mencoba untuk mencari peluang jika bisa masuk juga ke pasar di Eropa dengan green cement kita terutama,” jelas Sigit.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































