Jatuhnya Singapura

Serbuan Jepang ke Singapura Disambut Bendera Putih Sekutu

Ilustrasi Mozaik Pertempuran Singapura. tirto.id/Nauval
Oleh: Petrik Matanasi - 15 Februari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Singapura disikat Jepang setelah Malaya diduduki. Meski kalah jumlah, tentara Jepang bergerak cepat.
tirto.id - Ketika Jepang mengamuk di Asia sebelum 1937, Tan Malaka memutuskan berkelana lagi ke arah tenggara Asia dan membiarkan dirinya terdampar di Singapura. “Di sini saya menyamar sebagai Tan Ho Seng jadi guru bahasa Inggris,” aku Tan Malaka dalam pengantar Madilog (1943).

Penghasilannya tidak banyak. Di sini Tan Malaka sulit menjalin hubungan dengan orang-orang politik dari Indonesia. Meski hidupnya sulit, Tan Ho Seng, yang mengaku Tionghoa tapi aslinya Minangkabau itu, masih terobsesi menyusun buku. Dari Perpustakaan Raffles Tan Ho Seng sempat pinjam Das Capital karya Karl Marx pada 1942.

“Tetapi armada udara Jepang tak berhenti datangnya hari-hari. Sebentar-sebentar saya mesti lari sembunyi. Cuma dalam lubang perlindungan saya bisa baca Capital,” kata Tan.

Akhir 1941 Singapura sudah dalam bahaya. Dalam Singapore: A Pictorial History, 1819-2000 (2001:250), Gretchen Liu mencatat serangan udara pertama militer Jepang atas Singapura terjadi pada 8 Desember 1941. Sebanyak 60 orang terbunuh dan 700 terluka.

Pada 10 Desember 1941, kapal perang Inggris, Prince of Wales dan Repulse, berhasil ditenggelamkan Jepang di utara Singapura. Inggris sendiri sudah kehilangan daratan Malaya dan hanya bisa bertahan di Pulau Singapura pada awal 1942.

Dari Istana Bukit Serena dan Istana Sultan Johor, di Johor—daratan Malaya yang berseberangan dengan Pulau Singapura—Jenderal Tomoyuki Yamashita memimpin penyerangan armada Jepang ke Singapura.

Pada 1942, kendaraan beroda sudah bisa menyeberang ke Woodland (Singapura) dari Johor Baru (Malaya) dengan melintasi Causeway yang sudah dibangun pada 1924. Pihak Inggris tahu Jepang berusaha memanfaatkannya untuk menyeberangkan pasukan dan kendaraan-kendaraan militer. Akhir Januari 1942 militer Inggris bertahan di Causeway. Atas perintah dari Letnan Jenderal Percival, jembatan itu hancur dibombardir pada 31 Januari 1942, demi menghambat laju pasukan Jepang.

Letnan Jenderal Arthur Ernest Percival paham kelemahan pihaknya. Di bawahnya ada 85 ribu orang yang terdiri dari dari militer Inggris, Australia, India-Inggris dan orang-orang Melayu. Sir John George Smyth dalam Percival and the Tragedy of Singapore (1971:227) menyebut dari 85 ribu itu, 15 ribu di antaranya bukan pasukan tempur. Sementara Yamashita hanya punya sepertiga dari yang dimiliki Percival.

“Saya memiliki 30.000 orang dan lebih dari tiga banding satu. Saya tahu bahwa jika saya harus berjuang lama untuk Singapura, saya akan digebuk,” aku Yamashita, seperti dikutip James Leasor dalam Singapore: The Battle That Changed the World (2001:224).

Sadar akan hal itu, Yamashita merasa harus bergerak cepat dengan pasukan yang terbatas. Terlalu lama bertempur tentu sangat berbahaya baginya.

Pada 8 Februari 1942, Jenderal Tomoyuki Yamashita mengerahkan pasukannya untuk menerobos Singapura. Selama berhari-hari militer Sekutu harus bertahan di negeri tersebut. Armada udara Sekutu, di antaranya Angkatan Udara Inggris, diungsikan ke Hindia Belanda pada hari berikutnya.

Jenderal Archibald Wavell, komandan ABDACOM (Komando Amerika-Inggris-Belanda-Australia) sempat berkunjung pada hari-hari itu dengan pesawat terbang dari Jawa. Gempuran Jenderal Yamashita begitu kuat menuju jantung pertahanan Singapura. Sisi barat daya pasukan Sekutu berhasil dijebol tentara Jepang.

“Rabu, 12 Februari, dibuka dengan serangan Jepang yang kuat dengan tank menduduki jalan Bukit Timah. Aku pergi melihat apa yang terjadi dan sampai pada kesimpulan ini sangat berbahaya ketika musuh akan menembus muka kota Singapura,” aku Percival dalam The War in Malaya (1949:281).

Percival sadar tidak punya cukup armada untuk menahan laju pasukan Jepang. Kekalahan pun membayangi Percival. Namun dia tak bisa begitu saja menyerah. Pukul 08.30 malam, Percival memerintahkan agar wilayah Changi diledakkan.


Jumat, 14 Februari 1942, pihak Sekutu panik karena pasokan air bermasalah. Gubernur Singapura, kata Percival (1949:289), juga mengkhawatirkan bahaya yang akan terjadi jika penduduk Singapura yang berjumlah besar tiba-tiba kehilangan suplai air. Sekutu pun terjepit dan bendera putih mau tidak mau harus dibentangkan. Percival harus hadir dalam acara penyerahan di hadapan Yamashita.

“Perlawanan akhirnya berhenti pada pukul 08.30 malam 15 Februari 1942 Waktu Inggris,” aku Percival (1949:292). Ia dan pasukan yang tersisa—baik Inggris, Inggris-India, Australia dan Melayu—akhirnya jadi tawanan perang. Percival menyebut jatuhnya Singapura sebagai pukulan besar bagi pihak Inggris.

Tan Ho Seng alias Tan Malaka masih bisa membaca buku Das Kapital yang hingga 15 Februari 1942 atau tepat hari ini 78 tahun lalu, sulit dikembalikan ke Perpustakaan Raffles. Selama masa menegangkan itu, Tan Malaka sering mencatat apa yang dipikirkannya. Tan Ho Seng, buku Das Kapital, dan lembar-lembar coretannya hari itu jadi saksi keoknya imperalis besar macam Inggris di Singapura.

“Semua penduduk laki-perempuan, tua-muda dihalaukan dengan pedang terhunus kiri-kanan, dengan ancaman tak putus-putusnya menuju ke satu lapangan. Di sini ratusan penduduk Tionghoa ditahan satu hari buat diperiksa,” tulis Tan sesudah kejatuhan Singapura.

Di tengah ancaman senapan mesin serdadu Jepang, karya besar Marx itu berhasil disembunyikan di sebuah empang depan rumah Tan Kin Tjan.


Tan Malaka sempat mendengar desas-desus bahwa orang-orang Tionghoa di Singapura hendak dihabisi Jepang. Kabar itu tak terbukti. Dua atau tiga minggu kemudian, Tan Malaka berusaha pulang ke Indonesia, tanah yang dicita-citakannya sebagai republik.

Baca juga artikel terkait PERANG DUNIA II atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Windu Jusuf
DarkLight