Sempati Air: Bisnis Militer yang Surut Bersama Soeharto

Oleh: Petrik Matanasi - 7 Maret 2018
Dibaca Normal 2 menit
Sempati Air pernah ada ketika Soeharto jadi presiden. Awalnya milik usaha yayasan Angkatan Darat, lalu sempat pula dimiliki Tommy Soeharto.
tirto.id - Sempati Air, yang tutup buku pada 1998, umurnya sama dengan masa berkuasa Presiden Soeharto. Ia kerap dikaitkan dengan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Maskapai ini berdiri dengan nama Sempati Air Transport (SAT).

Majalah Angkasa (vol. 22-23, 1974: 45) menulis, “Sempati Air Transport kami perkenalkan sebagai anak perusahaan P.T. Tri Usaha Bhakti yang didirikan bulan Desember 1968.” Jadi, ketika maskapai ini lahir, Tommy baru berusia sekitar 5 tahun. Motto Sempati Air adalah "Aman, Cepat dan Murah".



PT Tri Usaha Bhakti dimiliki Yayasan Kartika Eka Paksi—sebuah yayasan yang bernaung di bawah Angkatan Darat. Perusahaan ini sering disingkat sebagai Truba.

Sempati awalnya menyediakan pesawat carter bagi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Perusahaan yang pernah dilayani adalah perusahaan-perusahaan minyak asing seperti Caltex, Union, juga Stanvac. Masa Orde Baru, terutama pada 1970-an, memang diwarnai dengan boom minyak yang konon katanya bisa menyejahterakan rakyat Indonesia.


Armada yang dimiliki Sempati hingga 1974 baru “tiga buah pesawat yang terdiri dari sebuah Dakota DC-3 dan dua buah Fokker F-27 Friendships,” tulis Angkasa.

Fokker F-27 Friendships bisa menampung sekitar 48 penumpang. Sementara itu, DC-3—yang merupakan versi sipil dari C-47 dan sudah bisa dibilang pesawat tua—hanya bisa memuat 21 penumpang. Di masa itu ketiga-tiganya kerap beroperasi, tidak pernah nganggur. Pada 1990, Sempati punya 6 buah pesawat.

Tommy baru masuk ke perusahaan berbau militer ini pada akhir dekade 1980-an. Menurut catatan majalah Pertiwi (masalah 110-115, 1990: 117), “sejak 14 Oktober 1989 mengalami peralihan pemilikan saham, yang semula 100% di tangan Truba, menjadi Humpuss 25 persen, 35 persen Nusamba, dan 40 persen Truba.”

Humpuss adalah grup usaha yang dipimpin Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, anak ke-5 daripada Presiden Soeharto. Sementara Nusamba adalah Nusantara Ampera Bakti, grup usaha milik Mohamad Bob Hasan.

Sempati yang semula bernama Sempati Air Transport (SAT) berubah nama menjadi Sempati Air. Di dunia penerbangan, bisnis Tommy tak hanya di maskapai ini. Ia juga pernah menjadi pemilik Mandala Air dan Gatari Hutama Air Service. Mandala Air juga terkait dengan militer, yakni pasukan pemukul Angkatan Darat, Kostrad.


Surut Bersama "Bos Besar"

Pada 1993, menurut Herris B. Simandjuntak dalam The Power of Values in the Uncertain Business World (1994: 60-61), Sempati punya 17 pesawat. Sementara menurut George Junus Aditjondro dalam Korupsi Kepresidenan: Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga (2006: 121), Sempati menyewa pesawat penumpang Fokker F-100 dari Guinnes Peat Aviation (GPA), yang bermarkas di Dublin, Irlandia. Pesawat yang disewa ini dilengkapi dengan mesin Rolls-Royce.

“Sebelum ada Sempati, Garuda sudah tampil sangat 'kokoh' dengan sistem penerbangan shuttle-service- nya. Pada waktu Sempati datang, banyak orang yang meragukan kemampuan perusahaan penerbangan 'kecil' ini, walaupun didukung oleh banyak orang 'besar' di belakangnya,” tulis Hermawan Kartajaya dalam Marketing Plus: Jalur Sukses Untuk Bisnis, Jalur Bisnis untuk Sukses, Volume 1 (1992: 110).

Melawan Garuda tentu bukan perkara mudah bagi Sempati yang kalah dalam kualitas armada. Garuda bukan hanya punya DC-9, tapi juga Airbus. Jadwal terbangnya pun dianggap begitu solid. Sebelum tutup buku, Sempati belum mampu mengejar kebesaran Garuda.


Nama Sempati dalam kisah Mahabharata adalah burung raksasa saudara dari Jatayu dan anak dari Garuda. Menurut cerita, Jatayu dan Sempati suatu kali berlomba terbang untuk mencapai matahari. Namun, ketika Jatayu hampir mencapai matahari, ia hampir terbakar. Sempati pun bertindak. Sayapnya dibentangkan untuk melindungi Jatayu. Sempati jadi korban karena sayapnya terbakar habis.

Nasib tragis Sempati nyatanya tak hanya di dunia mitologi, tapi juga di dunia nyata. Maskapai ini berhenti beroperasi pada Mei 1998—bulan yang sama dengan lengsernya bos besar mereka: Soeharto.

infografik sempati air

"Sembilan Perwira Tinggi"

Sempati sering dipelesetkan sebagai singkatan dari "Sembilan Perwira Tinggi". Angka sembilan dalam mitologi Jawa kerap diartikan sebagai jumlah yang banyak, tak mesti benar-benar berjumlah sembilan.

Ketika Sempati berdiri, Angkatan Darat sedang mengalami masa transisi kepemimpinan. Jenderal Maraden Panggabean digantikan Jenderal Umar Wirahadikusumah sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Dua jenderal ini, bersama Soeharto, adalah "orang-orang besar" yang terkait secara tidak langsung dengan pendirian Sempati Air. Tentu saja ada jenderal yang terkait secara langsung—yang juga boleh disebut "orang besar".

Ketika baru berdiri, menurut buku Siapa Dia Perwira TNI-AD (1988:241) yang disusun Harsya Bachtiar, Brigadir Jenderal Rudy Pirngadie adalah Direktur Utama. Bekas pasukan artileri KNIL yang doyan menulis dan memimpin orkes keroncong Tetap Segar ini, ketika Abdul Haris Nasution jadi KSAD pada 1959, ditunjuk sebagai Kepala Penerangan Angkatan Darat.


Sebelum Presiden Sukarno lengser, Rudy dijadikan Direktur Badan Pimpinan Umum Tambang Timah Negara. Tak lama kemudian, ia menjabat Menteri Muda Pertambangan dalam Kabinet Dwikora III (27 Maret 1966-25 Juli 1966).

Selain para perwira tinggi, sejarah Sempati Air juga terkait dengan seorang mantan personel Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), pendahulu Kopassus, bernama Dolf Latumahina. Ia pernah menjadi Direktur Sempati. Pilot lulusan dari U.S. Army Aviation Center, Alabama ini adalah orang yang menerbangkan pesawat DC-3 ke daerah ladang minyak di masa-masa awal Sempati berdiri.

Baca juga artikel terkait BISNIS MILITER atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live