Sejarah Partai Amanat Nasional (PAN) dan Hasrat Politik Amien Rais

Oleh: Iswara N Raditya - 26 Desember 2018
Dibaca Normal 2 menit
Amien Rais menjadi salah satu pendiri PAN pada 1998 setelah usulan agar Muhammadiyah terjun ke politik praktis ditolak.
tirto.id - Partai Amanat Nasional (PAN) adalah salah satu anak sulung reformasi yang terus eksis dengan segala dinamikanya. Sejarah mencatat, hanya tiga bulan setelah Orde Baru bubar seiring lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, Amien Rais dan sejumlah tokoh lainnya mendeklarasikan PAN pada 23 Agustus 1998.

Kelahiran PAN berawal dari Majelis Amanat Rakyat (MARA) yang dibentuk tanggal 14 Mei 1998 atau hanya beberapa hari sebelum Soeharto lengser. Digagas oleh beberapa tokoh nasional, termasuk Amien Rais, MARA diharapkan bisa menjadi motor perjuangan bagi keadilan dan demokrasi di Indonesia.

Berakhirnya Orde Baru melahirkan kembali dinamika perpolitikan di tubuh Muhammadiyah. Dalam Sidang Tanwir di Semarang pada 5-7 Juli 1998 yang dihadiri seluruh jajaran pimpinan dari tingkat pusat hingga provinsi, menguat desakan agar Muhammadiyah tampil di panggung politik, atau setidaknya membidani lahirnya sebuah partai politik.

Hasil Sidang Tanwir itu menegaskan, Muhammadiyah tetap tidak akan berpolitik praktis sesuai dengan keputusan Muktamar 1971 di Makassar. Namun, Muhammadiyah membebaskan anggotanya untuk menentukan pilihan dan berpartisipasi dalam setiap perhelatan politik di tanah air.



Dari sinilah, PAN lantas digagas sebagai salah satu pilihan wadah aspirasi politik warga Muhammadiyah kendati terbuka pula untuk semua kalangan. PAN tampaknya sekaligus menjadi puncak hasrat politik Amien Rais yang pada 1998 itu juga masih menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Eksistensi PAN & Amien Rais

Selain Amien Rais yang tampil sebagai salah satu tokoh reformasi paling populer pada 1998, pembentukan PAN juga digawangi oleh beberapa sosok nasional lainnya, seperti Faisal Basri, A.M. Fatwa, Hatta Rajasa, Rizal Ramli, Emil Salim, Zoemrotin, Alvin Lie, hingga Toety Heraty, Albert Hasibuan, Abdillah Toha, serta Goenawan Mohamad.

PAN pun terus beredar di belantika politik tanah air. Debutnya pada Pemilu 1999, PAN meraup 7,1 persen suara dan memperoleh 34 kursi di DPR. Sedangkan di Pemilu 2004, parpol berlambang matahari putih bersinar ini mendapatkan 6,4 persen suara dan 53 kursi di parlemen.

Di Pemilu 2004 itu, Amien Rais maju sebagai calon presiden berpasangan dengan Siswono Yudohusodo. Namun, pasangan ini hanya berada di urutan ke-4 dari 5 pasangan kandidat dengan mengumpulkan 14,66 persen suara. Pemenangnya adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK).



SBY terpilih kembali sebagai presiden pada Pemilu 2009, yang kali ini berpasangan dengan Boediono selaku wakil presiden. Sementara PAN menjadi parpol di peringkat ke-5 dengan meraih 6,0 persen suara dan 43 kursi di DPR.

Selanjutnya, pada Pemilu 2014, Ketua Umum PAN saat itu, Hatta Rajasa, maju sebagai cawapres berpasangan dengan capres Prabowo Subianto dari Gerindra dan mendapat dukungan dari partai-partai besar waktu itu. Namun, yang menang adalah pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla. Kendati begitu, perolehan suara PAN mengalami kenaikan dengan meraup 7,6 persen dan 48 kursi di DPR.

Diminta Mundur dari Politik

Pasca-Pemilu 2014 hingga menjelang Pemilu 2019 seolah menjadi masa kebangkitan Amien Rais yang sempat menyepi dari hingar-bingar perpolitikan nasional. Amien Rais dan PAN telah memastikan dukungan terhadap pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang akan berhadapan dengan Jokowi dan K.H. Ma’ruf Amin.

Politikus kawakan ini berulangkali melontarkan kritikan keras terhadap pemerintahan Jokowi, bahkan lagi-lagi ingin mendorong Muhammadiyah untuk terjun langsung ke ranah politik praktis, termasuk pernyataannya yang akan "menjewer" Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Natshir jika tidak berperan aktif di Pilpres 2019 nanti.

Sepak-terjang Amien Rais kerap menggemparkan dan tak jarang memantik kegaduhan publik. Inilah yang membuat sejumlah pendiri PAN menulis surat terbuka tertanggal 26 Desember 2018. Surat yang ditulis atas nama Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Goenawan Mohamad, Toeti Heraty, dan Zoemrotin ini bahkan menuntut Amien Rais mundur dari PAN dan meninggalkan panggung politik nasional.



Apakah Amien Rais bersedia menerima masukan dari rekan-rekan seperjuangan yang dulu bersama-sama melahirkan PAN itu? Jika melihat atmosfer politik kekinian, Amien Rais barangkali akan tetap mempertahankan hasrat politiknya bersama PAN saat ini, setidaknya hingga Pilpres 2019 nanti. Namun, apapun bisa saja terjadi karena politik praktis senantiasa dinamis.

Baca juga artikel terkait PAN atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Politik)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight