Sejarah Makna Ramadhan sebagai "Bulan Pembakaran" & Keistimewaannya

Oleh: Abdul Hadi - 7 Mei 2021
Dibaca Normal 1 menit
Dalam Kamus Bahasa Arab Mu'jam Al-Wasith (2011), arti asal Ramadan adalah panas membakar (ramidha - yarmadhu).
tirto.id - Ramadan merupakan bulan suci yang penuh rahmat dan ampunan Allah SWT. Pada Ramadan, Allah membuka pintu-pintu surga, membelenggu setan, serta memberi ampunan pada orang-orang yang beriman kepada-Nya.

Pada sepertiga akhir Ramadan juga, terdapat malam Lailatulqadar yang keutamaannya lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang salat dan memohon ampun pada malam Lailatulqadar akan diampuni dosa-dosanya.

Rahmat dan ampunan itu sesuai dengan makna Ramadan sendiri. Dalam Kamus Bahasa Arab Mu'jam Al-Wasith (2011), arti asal Ramadan adalah panas membakar (ramidha - yarmadhu). Ramadan bermakna simbolik bahwa Allah SWT akan membakar dosa-dosa hamba-Nya yang beriman dan taat pada perintah-Nya.

Dikisahkan juga bahwa di masa silam, orang-orang Arab memberi nama bulan komariah berdasarkan keadaan di bulan tersebut. Karena Ramadan selalu bertepatan dengan masa panas dan terik matahari, terutama bagi pejalan kaki di padang pasir, maka orang Arab menamakan bulan itu sebagai Ramadan.

Isyarat bahwa Ramadan sebagai bulan pembakaran dosa ini tergambar dalam sabda Nabi Muhammad SAW: "Barangsiapa berpuasa Ramadan dan menjaga segala batas-batasnya, serta memelihara diri dari segala yang baik dipelihara diri darinya, niscaya puasanya itu menutupi dosa-dosanya yang telah lalu,” (H.R. Ahmad dan Baihaqi).

Selain itu, orang yang meraih malam Lailatulqadar, lalu kemudian salat pada malam tersebut, maka dosa-dosanya juga akan dibakar dan diampuni oleh Allah SWT, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

"Dosa-dosa manusia yang sudah dilakukan terdahulu pun bisa diampuni ketika ia menjalankan salat malam pada malam Lailatulqadar."

Lalu, keutamaannya juga diterangkan: "Barang siapa salat pada saat malam Lailatulqadar karena iman dan mengharapkan pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lampau," (H.R. Bukhari).

Untuk meraih keutamaan agar dosa-dosa dan kesalahan diampuni Allah, maka seorang muslim harus menghindari lima perkara yang merusak ibadah puasa dan menggerus pahalanya, sesuai sabda Nabi Muhammad SAW:

"Ada 5 perkara yang membatalkan pahala orang yang berpuasa, yaitu (1) berdusta; (2) berghibah; (3) mengadu domba; (4) bersumpah palsu; (5) memandang dengan syahwat," (H.R. Dailami).

Jangan sampai sudah lelah dan capai menahan lapar dan haus, namun tidak memperoleh apa-apa dari aktivitas puasanya tersebut.

Hal inilah yang diingatkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya: "Betapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga," (H.R. Thabrani).


Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2021 atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight