Sejarah Keluarga Walangitang: Tragedi Perang Dua Benjamin

Benjamin Walangitang senior. tirto.id/Sabit
Oleh: Petrik Matanasi - 6 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Benjamin Walangitang senior tewas di Perang Pasifik. Benjamin Walangitang junior gugur di Perang Vietnam.
tirto.id - Menaiki pesawat Pan American Airways, Benjamin Thomas Walangitang berangkat dari Amsterdam menuju Amerika Serikat. Dia bisa terbang ke AS berkat Pelayanan Gereja Dunia dan berhasil masuk negeri Paman Sam lewat New York pada 26 September 1960 dengan paspor Belanda.

Pada awal November Bennie berada di Auburn, Indiana. Di situlah dia ditampung sementara oleh Arie van Straten bersama istrinya. Seperti Bennie, Arie juga berkewarganegaraan Belanda. Koran lokal Indiana, Garrett Clipper, edisi 3 November 1960, memberitakan kehadiran Bennie. Dilaporkan bahwa saat itu Bennie butuh pekerjaan untuk bertahan hidup di AS.

Tahun berikutnya Bennie mendapat pekerjaan. Dia masuk Angkatan Udara pada awal tahun, meski belum berstatus sebagai warga negara AS. Bennie ditempatkan di bagian pemeliharaan Wing Taktis Tempur ke-336 Angkatan Udara AS. Dia tinggal di Dayton, Ohio. Di angkatan udara, Bennie berhasil mencapai pangkat sersan.

Bennie bukan Belanda asli. Wajahnya terlihat seperti orang Asia Timur (Jepang atau Cina). Dari nama belakangnya, Walangitang, jelas dia bukan orang Belanda. Marga Walangitang adalah marga dari daerah Minahasa, Sulawesi Utara. Menurut sejarawan Minahasa Bode Talumewo, kakek Bennie berasal dari suku Tombolu dan kemungkinan ayahnya berdarah campuran Toulour.

Ayah Bennie Terbunuh di Muko-muko

Ayah Bennie bernama sama dengan Bennie, Benjamin Thomas Walangitang. Benjamin senior—kelahiran Kakas, 11 November 1890—sudah lama meninggal dunia. Dia juga seorang tentara di Tentara Kerajaan Hindia Belanda alias KNIL. Walangitang masih kerabat dengan Alexander Herman Hermanus Kawilarang, ayah dari pendiri Kopassus Alex Evert Kawilarang.


Beberapa tokoh Minahasa terpandang memang biasanya punya hubungan darah. “Orang terkenal di Minahasa tempo dulu biasanya anak para pejabat pemerintah. Di antara keluarga pejabat tersebut ada hubungan saling nikah/menjodohkan dalam rangka kawin politik," ungkap Bode Talumewo ketika dihubungi Tirto lewat pesan WhatsApp, Kamis (24/1/2019).

Menurut sejarawan lain, Adrianus Kojongian, ayah dari Benjamin senior adalah Willem Walangitang, yang pernah jadi Hukum Kedua di Kakas dan Kakaskasen, lalu Hukum Besar di Tanawangko. Seorang Hukum Besar, yang kira-kira seperti wedana di Jawa, disebut pula sebagai majoor (mayor). Alexander Herman Hermanus Kawilarang juga anak seorang Hukum Besar.

Jika orang tua Alexander Herman Hermanus Kawilarang dan Benjamin Thomas Walangitang senior adalah para mayor pemimpin masyarakat sipil, maka anak mereka berdua juga berpangkat terakhir mayor di KNIL. Menurut Rohmah Soemohardjo-Soebroto dalam Oerip Soemohardjo: Letnan Jenderal TNI (1973: 38), Walangitang [senior] dan [Alexander Hermanus] Kawilarang adalah senior Oerip di KNIL dan mereka semua adalah lulusan sekolah perwira di Jatinegara (dulu disebut Meester Cornelis).


Ibu Bennie, Wilhelmina Mamahit, juga dari Minahasa. Pernikahan Wilhelmina Mamahit dengan Benjamin Thomas Walangitang senior itu melahirkan beberapa anak, yaitu Willem Lucas Walangitang (1920); Helena Elisabeth Walangitang (1922); Thomas Lodlrijk Walangitang (1925); Nicoline Walangitang (1926); dan terakhir adalah Bennie, yang hari ulang tahunnya selisih sehari dengan ayahnya. Bennie lahir pada 10 November 1934 di Banjarmasin.

Keluarga Bennie harusnya bisa hidup enak di zaman kolonial. Ayahnya, menurut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD (1989: 5), dapat pangkat mayor pada 1933, tapi pensiun pada 1935. Di masa itu pangkat kapten dan letnan satu biasanya disandang sekitar 10 tahun, tak hanya untuk perwira pribumi tapi juga Belanda. Kenaikan pangkat memang tidak seperti TNI masa kini, tapi mereka lebih sejahtera. Di zaman itu seorang mayor, yang puluhan tahun dinas di KNIL, bisa beli mobil dan punya rumah yang lumayan mewah.

Zaman normal itu harus berakhir karena serangan balatentara Jepang. Walangitang pun diaktifkan kembali sebelum akhirnya jadi tawanan perang Jepang. Keluarga perwira KNIL banyak hidup susah di zaman Jepang.


Bennie mengaku keluarganya pernah tinggal di kamp tawanan Jepang. Namun mereka terpencar-pencar. Sudah pasti studi Bennie di ELS berantakan. Kamp tawanan Jepang sangat kejam, apalagi Bennie punya dua kakak perempuan. Tentara fasis Jepang terkenal sangat beringas kepada tawanan perempuan muda.

Sang ayah kemudian dinaikkan di sebuah kapal bernama Junyo Maru. Di kapal itu ikut juga bekas mayor KNIL Kawilarang dan kadet KNIL berdarah Minahasa bernama Henri Mantiri. Mereka bertiga diangkut bersama tawanan lain yang berjumlah 6.000-an.

Kapal itu semula hendak membawa tawanan ke Burma. Namun ketika baru sampai Muko-muko, sebelah barat Bengkulu, Junyo Maru dikaramkan oleh torpedo kapal selam Inggris HMS Tradewind. Ketika tenggelam, seperti dicatat H. Hovinga dalam The Sumatra Railroad: Final Destination Pakan Baroe, 1943-1945 (2014), serdadu-serdadu tua menyanyikan lagu "Wilhelmus van Nassau" dan "Haroekoe Saparoea" (hlm. 53-55).


Bekas mayor KNIL Benjamin Thomas Walangitang, bersama Kawilarang dan Mantiri, tewas ketika Junyo Maru tenggelam pada 19 September 1944 di lautan Muko-muko, Bengkulu, di bibir Samudra Hindia. Berita kematian mereka telat sampai ke keluarga masing-masing.

Setelah Jepang kalah dan keluarga Benjamin Thomas Walangitang terbebas dari militer fasis Jepang, maka Wilhelmina jadi semacam kepala keluarga. Bersama anak-anak yang tersisa, termasuk si bungsu Bennie, mereka cari selamat dan hidup di Belanda sebagai pengungsi. Waktu itu dua kakak Bennie masih hilang karena perang.


Bennie Terbunuh di Vietnam

Di Belanda, Wilhelmina Mamahit bekerja sebagai juru tulis di pelayanan pos dan transfer milik pemerintah Belanda. Kakak laki-laki Bennie yang ikut ke Belanda tidak kalah menyedihkan. Dia tidak bisa bekerja normal karena penganiayaan serdadu Jepang. Bennie tidak semalang kakak-kakaknya, kemungkinan karena dia masih terlalu kecil untuk diberi siksaan berat oleh militer fasis Jepang. Bennie akhirnya pergi ke AS demi penghidupan keluarga yang lebih baik.

Bennie pun harus merasakan seperti yang dulu dirasakan ayahnya. Bennie dikirim militer AS ke Perang Vietnam pada 11 September 1968. Ia ditempatkan di Quang Nam, Vietnam Selatan.

Vietnam adalah negeri kedua yang dipijaknya di Asia. Di kedua negeri itu dia merasakan perang. Bennie tak pernah pulang dari Vietnam. Serangan roket pada 22 Agustus 1969 menghancurkan barak nomor 933, tempat Bennie berada. Di situlah Sersan Angkatan Udara Benjamin Thomas Walangitang terbunuh.

Jenazah Bennie lalu dimakamkan di Arlington National Cemetery, Virginia di Sektor 51 Situs 2966. Sebagai korban Perang Vietnam, namanya tercantum di dinding Vietnam Veterans Memorial Wall, di panel 19W baris 99. Bagaimana pun Bennie dianggap pahlawan perang AS karena gugur ketika melawan komunis Vietnam.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight