Sejarah Karier Agum Gumelar: Mantu Jenderal Melawan Mantu Presiden

Infografik Agum Gumelar
Agum Gumelar. ANTARASUMBAR/Miko Elfisha
Oleh: Petrik Matanasi - 29 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Agum Gumelar termasuk jenderal yang tidak berjaya di zaman Orba. Dalam pertarungan politik terkini, dia tampil sebagai lawan daripada bekas menantu Soeharto.
tirto.id - Di tahun-tahun yang suram pergantian kekuasaan 1966-1967, Agum Gumelar masih seorang taruna Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang. Agum berhasil lulus dari sekolah pencetak perwira itu pada 1968. Ketika lulus dia termasuk lulusan yang menerima sangkur perak. Dia pun langsung masuk ke Pusat Pasukan Khusus (Puspassus).

Penugasan penting pertamanya di Kalimantan Barat, melawan Pasukan Gerilyawan Revolusioner Serawak (PGRS) atau Pasukan Rakyat Kalimantan (Paraku). Front lainnya: di Timor Timur melawan Fretilin, di Aceh melawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), juga di Papua melawan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Dalam biografinya, Agum Gumelar: Jenderal Bersenjata Nurani (2004), yang disusun Fenty Effendi dan Retno Kustiati, Agum disebut sebagai perwira baret merah yang persuasif. Termasuk ketika dirinya bertugas di Timor Timur. Di era 1970-an Agum pernah ditugaskan ke Taiwan. Sebagai orang dari baret merah, sebelum jadi jenderal, Agum sering menjadi asisten intelijen (hlm. 28-30).

Menyunting Putri Jenderal

Di tahun terakhir sebagai taruna di Lembah Tidar, Agum menjalin hubungan dengan Linda Amelia Sari. Mereka pertama kali bertemu di stadion AMN Magelang. Mereka tidak langsung berkenalan. Linda biasa ikut ayahnya ke stadion itu.

Waktu itu ayah Linda, Mayor Jenderal Ahmad Tahir, adalah orang nomor satu di AMN. Menurut buku Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD (1989: 438), Tahir adalah Gubernur AMN dari 1966 hingga 1968. Jabatan tinggi yang pernah disandangnya adalah Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi.

Tahir kerap mengajak anak-anaknya nonton sepakbola di AMN. Kala itu Linda masih sekolah di Magelang. Dia hanya sampai kelas 2 SMA di Magelang, sebelum akhirnya pindah ke Jakarta.

Perkenalan terjadi ketika perayaan ulang tahun Linda yang ke-17, ketika Linda masih di Magelang. Agum tidak datang sendiri. “Dia datang rame-rame sama temannya,” aku Linda dalam biografi Agum (hlm. 44).

Setelah itu Agum sering datang ke rumah Linda. Agum tentu bernyali besar. Gadis yang sedang disambanginya adalah anak jenderal yang disegani di Magelang. Tahir tentu tahu siapa yang dekat dengan putrinya. Dan Tahir membiarkan putrinya pacaran dengan salah satu taruna di sana.

Setelah Agum berdinas sebagai perwira Angkatan Darat, statusnya juga masih kekasih Linda. Setelah enam tahun pacaran, pada 12 Mei 1974, ketika Agum sudah berpangkat kapten di Kopassandha, mereka berdua menikah. Jadilah Agum Gumelar sebagai menantu jenderal. Sementara Linda menjadi seperti ibunya: ikut Persatuan Istri Tentara (Persit).

Hidup sebagai kapten ABRI tentu bukan hal mudah. Apalagi jika sudah menikah. Mereka yang berasal dari kalangan atas akan sulit menyesuaikan diri dengan gaji yang tidak terlampau besar.

Sebagai istri tentara, Linda juga harus ikut ke mana pun suami ditempatkan, termasuk ketika Agum ditugaskan di Taiwan. Begitu juga kala Agum ditempatkan di Lampung. Sementara pekerjaannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta tak bisa ditinggalkan. Terpaksa dirinya harus bolak-balik antarkota.

Di Lampung, Kolonel Agum Gumelar menjadi Komandan Korem 043. Menurut Fenty Effendi dan Retno Kustiati, Lampung di masa itu dianggap “daerah pelarian bagi orang-orang garis keras yang bersebrangan sikap dengan pemerintah. Di antaranya mereka yang terlibat peristiwa DI/TII” (hlm. 41).

Sebelum Agum Gumelar menjadi komandan Korem, Kolonel A.M. Hendropriyono pernah menduduki jabatan yang sama di daerah itu. Di masa Hendropriyono, pecah peristiwa pembantaian Talangsari. Seperti Agum, Hendro juga dari Kopassus dan lebih senior. Selama menjadi perwira intelijen maupun teritorial, Agum kerap berseberangan dengan para aktivis HAM.


Dihukum dan Jadi Panglima

Setelah di Lampung, Agum ditarik ke Jakarta. Pangkatnya naik menjadi brigadir jenderal sebagai Direktur A Badan Intelijen Strategis (BAIS). Setelahnya dia dijadikan Komandan Jenderal Kopassus sejak 1993 hingga 1994.

Dalam sebuah rapat pimpinan ABRI, sebagai komandan Kopassus, dia bilang: “Kalau kita menganggap Megawati dan para pendukungnya musuh, kalau kita menganggap Gus Dur dan pengikutnya musuh, kalau kita menganggap kelompok Petisi 50 musuh dengan pengaruh-pengaruhnya musuh, maka sesungguhnya kita kebanyakan musuh. Padahal falsafah Cina Sun Tzu, menyatakan bahwa seribu kawan masih kurang, satu musuh kebanyakan.”

Ucapan itu rupanya dianggap gila di zaman Orde Baru.

Kala itu Megawati tak disukai rezim Soeharto. Begitu juga Gus Dur dan para tokoh Petisi 50. Maka “sudah sepantasnya” Agum diberi pelajaran oleh Orde Baru. Agum sendiri, seperti dicatat Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016: 136-137), bersama Hendropriyono, dianggap jenderal yang bersimpati kepada Megawati. Jadi tak heran jika dirinya yang baru setahun jadi orang nomor satu di Kopassus langsung dimutasi. Untung saja mutasinya ke Medan.

Di sana dia dijadikan Kepala Staf Kodam Bukit Barisan. Mertua Agum berasal dari daerah itu. Ahmad Tahir termasuk salah satu tokoh dalam Pertempuran Medan Area pada 1945. Namun, Menurut Fenty Effendi dan Retno Kustiati, Agum merasa jabatan itu seperti hukuman. Jabatan tersebut membuatnya terpisah dari istri, yang masih jadi anggota dewan, dan anaknya (hlm. 57).

Pada 1996 Agum ditarik ke Jakarta dan menjadi Staf Ahli Panglima ABRI, yang kala itu dijabat Feisal Tandjung. Ada yang memprediksi karier Agum bakal mandek. Itu tidak lama. Pada pertengahan 1996 dia ditunjuk menjadi Panglima Kodam Wirabuana di Makassar. Pangkatnya pun naik jadi mayor jenderal.




Di kota tersebut, Agum bertemu pemuda tukang becak yang jujur bernama Mustafa dalam sebuah kerusuhan pada September 1997. Pemuda asal Jeneponto itu memilih duduk-duduk di becak ketika orang-orang sibuk menjarah. Mustafa pun ditanyai Agum—yang tidak berseragam layaknya jenderal—mengapa tidak ikut menjarah.

“Itu perbuatan haram, dan saya tidak pernah diberi makan barang haram oleh orang tua saya,” kata Mustafa seperti diingat Agum.

Agum terkagum-kagum pada sikap Mustafa itu. Ia pun memberikan uang Rp20 ribu sebagai hadiah. Mustafa awalnya menolak. Setelah bawahan-bawahan Agum mendesak, Mustafa menerimanya.

Kala itu Mustafa tidak tahu siapa yang memberinya uang. Mustafa baru tahu setelah Agum mencari-carinya dengan bantuan awak media, karena Mustafa hendak diberi Penghargaan Wirabuana. Tepat pada HUT ABRI 5 Oktober 1997, Agum mengumumkan Mustafa sebagai anak angkatnya. Biaya hidup, biaya sekolah, dan pakaian pun ditanggung semua oleh Agum.

Agum ditarik ke Jakarta jelang lengsernya Soeharto. Dia dijadikan Gubernur Lemhanas sejak 7 Mei 1998. Ketika di Jakarta, Agum mendengar kabar anak angkatnya itu meninggal dunia. Rupanya Mustafa menyembunyikan penyakitnya dari Agum.

Sebagai jenderal, Agum adalah salah satu anggota Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti). Agum juga termasuk jenderal yang menyidang Prabowo Subianto pada 1998 terkait kasus penculikan.

Di era kepresidenan Jokowi, laki-laki yang menjadi Jenderal Kehormatan TNI ini ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Untuk urusan pencapaian, Agum tidak kalah dengan bapak mertuanya.

Baca juga artikel terkait AGUM GUMELAR atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight