Agum Gumelar vs Prabowo: Sejarah Rivalitas Dua Danjen Kopassus

Agum Gumelar dan Prabowo Subianto. tirto.id/Fuad
Oleh: Petrik Matanasi - 13 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Agum Gumelar adalah orang yang ikut mengakhiri karier militer Prabowo. Kini ia pun hendak menghambat karier politik bekas menantu Soeharto itu.
tirto.id - Meski di masa Pilpres ada perbedaan, antara Agum Gumelar dan Prabowo Subianto Djojohadikusumo ada kesamaannya. Mereka sama-sama pernah dinas di baret merah, sama-sama pernah jadi orang nomor satu di korps baret merah, dan beberapa kesamaan lainnya. Agum Gumelar punya cerita mirip Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Keduanya menikahi anak jenderal yang pernah jadi orang nomor satu di akademi pencetak perwira ABRI.

Jika SBY menikahi putri Sarwo Edhi Wibowo, maka Agum menikahi putri Mayor Jenderal Ahmad Tahir. Menurut buku Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD (1989: 438), Tahir adalah Gubernur Akademi Militer Nasional (AMN) dari 1966 hingga 1968 dan pernah menjadi Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi. Soal mertua, semua tahu Prabowo Subianto adalah menantu daripada Jenderal Soeharto.

Sudah menjadi fakta umum, karier militer Prabowo Subianto boleh dibilang gemilang dalam sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI). Apalagi di tahun-tahun terakhir Soeharto berkuasa. Dari 1996 hingga 1998, Prabowo Subianto berkali-kali naik bintangnya.

Prabowo—yang di tahun 1995 masih kolonel—pada paruh pertama 1998 sudah berpangkat letnan jenderal. Artinya, dalam tiga tahun itu, rata-rata setiap tahunnya dia naik satu bintang. Rekor Prabowo tersebut baru-baru ini sudah dipecahkan Jenderal Andika Perkasa, yang semua tahu adalah menantu Jenderal A.M. Hendropriyono.

“Kenaikan pangkat yang cepat dari anak saya itu sudah jelas mengundang ketidaksenangan bagi beberapa orang,” kata Sumitro, ayahanda Prabowo, seperti dikutip dalam Sumitro Djojohadikusumo, Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (2000: 428).

Karier Agum tidak sesangar karier Prabowo. Menantu jenderal bukan jaminan seorang perwira akan meraih puncak. Agum bukan perwira yang dikenal sering jadi komandan pasukan. Dia kerap menjabat asisten intelijen, termasuk di Kopassus. Meski begitu, jabatan paling mentereng di baret merah pernah disandang Agum Gumelar dari 1993 hingga 1994, sebelum Prabowo menduduki jabatan itu pada 1996.

Sebelum Danjen Kopassus, Agum pernah jadi Direktur A Badan Intelijen Strategis (BAIS) dan sebelumnya menjabat Komandan Korem Garuda Hitam di Lampung. Menurut Fenty Effendi dan Retno Kustiati dalam Agum Gumelar: Jenderal Bersenjata Nurani (2004), Lampung dianggap “daerah pelarian bagi orang-orang garis keras yang bersebrangan sikap dengan pemerintah. Diantaranya mereka yang terlibat peristiwa DI/TII” (hlm. 41).

Hendropriyono juga pernah mengisi jabatan yang diemban Agum itu pada akhir 1980-an. Ingat Hendropriyono di Lampung, orang bisa teringat tragedi Talangsari.


Simpatisan Musuh Orba vs Loyalis Orba

Agum Gumelar, seperti dicatat Fenty Effendi dan Retno Kustiati, adalah lulusan AMN tahun 1968. Dia termasuk lulusan yang cemerlang (hlm. 28-30). Prabowo Subianto dari generasi yang lebih muda dari Agum Gumelar. Prabowo juga dikenal sebagai taruna pintar, meski pernah tidak naik kelas. Prabowo masuk Akmil pada 1970 dan baru lulus pada 1974. Setelah lulus keduanya berdinas di korps baret merah, yang membuat mereka dikirim ke berbagai daerah konflik di Indonesia.

Di masa Orde Baru, Prabowo termasuk jenderal mujur. Semua orang tentu mengaitkannya dengan sang mertua. Jika Prabowo loyal kepada Soeharto, dan juga Orde Baru, tentu saja itu bukan hal aneh. Di masa Orde Baru Agum dianggap jenderal yang tidak dekat dengan penguasa, bahkan tidak loyal kepada Soeharto. Agum setidaknya dianggap tidak “tegas” kepada musuh daripada Soeharto.

Ketika menjadi Danjen Kopassus, dalam rapat pimpinan ABRI, Agum menyebut, “kalau kita menganggap Megawati dan para pendukungnya musuh, kalau kita menganggap Gus Dur dan pengikutnya musuh, kalau kita menganggap kelompok petisi 50 musuh dengan pengaruh-pengaruhnya musuh, maka sesungguhnya kita kebanyakan musuh. Padahal falsafah Cina Sun Tzu, menyatakan bahwa seribu kawan masih kurang, satu musuh kebanyakan.”

Buntut dari ucapan itu tidak main-main. Bagaimanapun, Gus Dur, Megawati, juga Petisi 50 adalah musuh besar daripada Soeharto. Posisi Danjen Kopassus pun tidak awet padanya. Dalam hal ini Agum tidak sendiri. Jenderal lain yang seperti dirinya adalah A.M. Hendropriyono. Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016) menyebut, Agum bersama Hendropriyono dianggap jenderal yang bersimpati kepada Megawati (hlm. 136-137).

Agum pun dibuang dari Jakarta. Dia dimutasi ke Medan, daerah di mana mertuanya terlibat Pertempuran Medan Area di tahun kelahiran Agum. Di sana dia dijadikan Kepala Staf Kodam Bukit Barisan, yang membawahi Sumatra belahan utara.

Seperti disebut Fenty Effendi dan Retno Kustiati (hlm. 57), Agum merasa jabatan itu seperti hukuman. Jabatan itu membuatnya terpisah dari istri, yang masih jadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan dua anaknya. Ada yang memprediksi karier militer Agum mandek. Setelah di Medan, Agum menjadi staf ahli Panglima ABRI, yang kala itu dijabat Feisal Tandjung. Itu pun tidak lama.


Pada pertengahan 1996 Agum mendapat jabatan baru. Ia memimpin komando teritorial yang cukup besar di Pulau Sulawesi sebagai Panglima Kodam Wirabuana yang berpusat di Makassar. Waktu itu pangkatnya sudah mayor jenderal. Di kota yang panas itu Agum Gumelar mengalami kerusuhan berbau SARA sebelum jatuhnya Soeharto pada 1998.

Agum tidak lama di Makassar. Pada awal Mei 1998 dia dijadikan Gubernur Lemhanas yang berkedudukan di Jakarta. Ketika Soeharto semakin keras dituntut untuk mundur, Agum Gumelar pun jadi jenderal tanpa pasukan. Sementara Prabowo Subianto sejak Maret 1998 sudah menjadi Panglima Kostrad, seperti mertuanya di tahun 1965. Namun Prabowo ikut apes di tahun 1998. Belum seminggu sang mertua lengser, Prabowo pun kena copot sebagai orang nomor satu di Kostrad.




Ikut Menyidang Prabowo

Apes Prabowo berlanjut ketika namanya terseret dalam kasus penculikan aktivis pada 1997-1998. Hingga para seniornya yang sudah jenderal pun “mengadilinya.” Agum adalah salah satu jenderal yang menyidang Prabowo dalam Dewan Kehormatan Perwira (DPK).

Kasus penculikan aktivis yang melibatkan Prabowo bukan kasus biasa, tapi merupakan pelanggaran HAM berat. “Berjalanlah DKP, bekerjalah DKP, sebulan lebih memeriksa yang namanya Prabowo Subianto, periksa. Dari hasil pemeriksaan mendalam, ternyata didapat fakta bukti yang nyata bahwa dia melakukan pelanggaran HAM yang berat,” aku Agum Gumelar baru-baru ini.

Prabowo memilih bungkam. Agum mengaku tidak sulit baginya memeriksa para perwira lapangan yang melakukan penculikan di Tim Mawar.

“Tim Mawar yang melakukan penculikan itu, bekas anak buah saya semua dong. Saya juga pendekatan dari hati ke hati kepada mereka, di luar kerja DKP,” aku Agum. “Di sini lah saya tahu bagaimana matinya orang-orang itu, di mana dibuangnya, saya tahu betul.”


Bukan di tahun 2019 ini saja Agum bicara soal masa lalu daripada menantu Soeharto itu. Di tahun 2014 pun Agum tampil sebagai orang yang tak ingin Prabowo Subianto menjadi Presiden. Ini seperti siklus lima tahunan. Mirip Titiek Soeharto yang tiap pilpres ingin rujuk dengan Prabowo.

Agum seperti anggota DKP lain, termasuk SBY, yang menandatangani rekomendasi pemberhentian Prabowo dari TNI. Agum juga tidak ragu untuk menyebut bahwa dalam sejarah korps baret merah hanya Prabowo yang dipecat dari jabatan danjen.

Baca juga artikel terkait ORDE BARU atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight