Sejarah Kuliner

Sejarah Bakwan, Makanan Pembuka di Pertemuan Megawati & Prabowo

Oleh: Rachma Dania - 24 Juli 2019
Dibaca Normal 1 menit
Bakwan yang disajikan sebagai makanan pembuka dalam pertemuan Megawati dan Prabowo punya sejarah panjang di Nusantara.
tirto.id - Megawati Soekarnoputri menyajikan bakwan goreng sebagai makanan pembuka dalam pertemuan dengan Prabowo Subianto pada Rabu (24/7/2019) kemarin. Bakwan merupakan salah satu kuliner berjenis gorengan yang sangat populer dan punya sejarah panjang di Indonesia.

Pertemuan yang berlangsung di kediaman Megawati, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, ini merupakan perjumpaan pertama antara Ketua Umum PDIP itu dengan Prabowo Subianto setelah Pilpres 2019 lalu.

Seperti diketahui, keduanya di dua kubu yang berseberangan. Megawati dan PDIP beserta Koalisi Indonesia Kerja mengusung Joko Widodo (Jokowi), sedangkan Prabowo selaku Ketua Umum Gerindra maju dengan dukungan dari sejumlah partai politik dalam Koalisi Indonesia Adil Makmur.

Setelah bertemu Jokowi pada Sabtu (31/7/2019) lalu, Prabowo kini menyambangi Megawati yang tidak lain adalah capres pasangannya di Pilpres 2009 silam. Sang putri proklamator pun menyambut baik, bahkan menyiapkan hidangan khusus untuk Prabowo, termasuk bakwan sebagai sajian pembuka.


Ragam Penyebutan Bakwan

Bakwan adalah jenis gorengan berbahan dasar tepung ditambah beberapa jenis sayuran, seperti kubis, kecambah, dan wortel yang terlebih dulu dipotong kecil-kecil. Cemilan ini memiliki sebutan khas di sejumlah daerah, misalnya bala-bala di Jawa Barat atau pia-pia di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sebagian daerah di Jawa Timur lainnya, termasuk Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Blitar, dan Mojokerto mengenal bakwan dengan nama ote-ote. Sedangkan di Lumajang dan Madiun disebut weci.

Begitupula di luar Jawa. Sebagian orang Sulawesi Selatan menyebut bakwan sebagai kandoang, sementara di sebagian Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur (NTT) makanan ini populer dengan nama makao.

Bakwan ternyata juga dikenal di berbagai negara lain, tentunya sebutan dan tampilan yang sedikit berbeda. Di Jepang, misalnya, makanan ini dikenal dengan nama kakiage, terkadang mirip dengan tempura, atau di Korea dikenal penganan bernama twigim yang persis seperti bakwan.


Sejarah & Salah Kaprahnya

Sejarah atau asal-usul bakwan konon dari Cina. Kata bakwan berasal dari salah satu sub bahasa Tiongkok yakni “bak” yang berarti daging dan “wan” yang bermakna bola. Jadi, secara harfiah, bakwan dalam bahasa Cina berarti daging berbentuk bola.

Namun, bakwan di Indonesia biasanya tidak memakai daging, juga tidak berbentuk bulat sempurna seperti bola. Dari situlah muncul anggapan bahwa pemaknaan mengenai arti bakwan di Indonesia telah mengalami salah kaprah.

Dikutip dari Fimela, sebenarnya bakwan dalam istilah Cina lebih merujuk pada bakso yang dibuat dari campuran daging dan tepung. Maka tidak mengherankan jika di dalam menu bakso terkadang terdapat gorengan, meskipun tidak selalu berwujud seperti bakwan yang dikenal di Indonesia.


Lantas, mengapa pemaknaan bakwan di Indonesia berbeda dengan negara asalnya di Cina sana? Bisa jadi, hal tersebut disebabkan karena bakwan yang kita kenal sekarang merupakan campuran dari berbagai macam budaya yang masuk ke Nusantara.

Dahulu, Nusantara merupakan salah satu jalur pelayaran dan tujuan perniagaan paling potensial. Saudagar dari berbagai negeri, termasuk Cina, India, Arab, hingga bangsa-bangsa Eropa seperti Portugis, Spanyol, Inggris, hingga Belanda yang singgah sehingga terjadilah percampuran budaya, termasuk kuliner seperti bakwan.

Bakwan yang dikenal di Indonesia sekarang merupakan hasil adaptasi dan kreasi dari warga lokal. Tepung tetap dipertahankan, namun daging, yang harganya relatif mahal, diganti dengan sayur.

Uniknya, di Malang, Jawa Timur, istilah bakwan dipakai untuk menyebut bakso, sebagaimana arti aslinya dalam istilah Cina, berbeda dengan pemaknaan bakwan di daerah lain di Indonesia.

Baca juga artikel terkait PERTEMUAN MEGAWATI-PRABOWO atau tulisan menarik lainnya Rachma Dania
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Rachma Dania
Penulis: Rachma Dania
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight