Menuju konten utama

SDN 27 Kauman Solo Bertahan dengan Satu Murid Baru

SDN 27 Kauman Solo hanya memiliki satu murid baru tahun ini, imbas sistem zonasi dan meningkatnya minat orang tua terhadap sekolah swasta berbasis agama.

SDN 27 Kauman Solo Bertahan dengan Satu Murid Baru
SDN 27 Kauman. foto/Adisti

tirto.id - Abrizam Wahyu Irtaza, duduk sendiri dalam ruang kelasnya. Bukannya tak ada yang mau menemani bocah tujuh tahun itu. Tapi, kondisinya, ia menjadi satu-satunya peserta didik baru di kelas 1 Sekolah Dasar Negeri (SDN) 27 Kauman, Surakarta.

Abrizam yang mendaftar lewat jalur afirmasi, kini harus menerima fakta bahwa ia tidak memiliki teman kelas. Meski begitu Abrizam tetap semangat untuk pergi ke sekolah.

Abrizam memiliki kakak yang duduk di bangku kelas 2 SDN 27 Kauman. Sehingga sejak hari pertama masuk sekolah, Abrizam tidak merasa sendiri, karena kakak serta teman-temannya berkunjung ke kelas pada jam istirahat untuk mengajaknya bermain.

Selain itu, menurut cerita Wali Kelas 1 SDN 27 Kauman, Sri Handayani, Abrizam sering ikut ibunya menjemput sang kakak ketika ia masih di bangku TK. Jadi, Abrizam sudah familiar dan merasa betah bersekolah di sekolah yang berada di dekat Alun-Alun Utara Kota Surakarta tersebut.

Dari amatan kontributor Tirto, ketika mengunjungi SDN 27 Kauman, Kamis (17/07/25), suasana telah sepi karena para murid telah pulang pukul 10.00 WIB. Hal ini karena di minggu pertama, sekolah masih melakukan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan hari itu merupakan hari keempat.

Sri mengungkap pada hari itu Abrizam telah diberikan pengenalan akademis berupa menarik atau membuat garis serta diajak berkeliling sekolah.

SDN 27 Kauman

Abrizam saat mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, Kamis (17/7/25). foto/Adisti

Menjadi Support System

Sri Handayani, wali kelas Abrizam, bersyukur karena Abrizam mudah beradaptasi dan berbaur, meski teman-temannya kakak kelas. Menurut Sri, yang terpenting adalah Abrizam sudah merasa kerasan bersekolah di sana, meskipun ia tidak memiliki teman sekelas.

“Dukungan sangat berpengaruh. Walaupun Abrizam sendiri, tapi kami mengupayakan agar ia tidak merasa sendiri,” ujar Sri.

Selain dukungan dari sesama murid, Sri juga menyebut bahwa para guru SDN 27 Kauman juga akan sepenuh hati dan tidak membedakan dalam mengajar Abrizam.

Tiap guru memiliki keunggulan masing-masing dalam mengenal dan mengarahkan potensi anak didiknya. Hal itu yang ingin dimaksimalkan oleh para guru SDN 27 Kauman dalam mengajar Abrizam dan membuatnya betah dan semangat bersekolah.

“Pengelolaan tidak ada bedanya antara mengajar dengan banyak murid atau satu murid, malah saya lebih harus prioritas dan lebih fokus,” kata Sri.

Sri juga mengungkap bahwa Abrizam memiliki kecerdasan emosi yang cukup bagus untuk anak seusianya dan Sri juga dapat melihat potensi besar yang dimiliki Abrizam.

“Potensi Abrizam, seandainya kurang di kecerdasan intelegensi, namun kecerdasan emosinya sangat bagus,” ungkapnya.

SDN 27 Kauman

Abrizam saat mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, Kamis (17/7/25). foto/Adisti

Letak dan Sistem Zonasi Jadi Masalah

Menurunnya jumlah murid baru di SDN 27 Kauman telah terjadi semenjak sistem zonasi diberlakukan. Sistem zonasi merupakan sistem penerimaan siswa baru yang menggunakan jarak atau radius rumah peserta didik sebagai syarat pendaftaran.

Sistem zonasi di Indonesia mulai diberlakukan setelah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud, sekarang menjadi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikdasmen) mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 51 tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan.

Dalam peraturan tersebut, zonasi menjadi salah satu jalur pendaftaran di samping jalur prestasi dan perpindahan tugas orang tua atau wali. Tertulis juga bahwa jalur zonasi mendapat kuota sebanyak 90 persen dari daya tampung sekolah.

Lokasi SDN 27 Kauman sendiri berada di Jalan Alun-Alun Utara, bersebelahan dengan Polsek Pasar Kliwon. Letak sekolah dasar tersebut juga tidak tepat di pinggir jalan dan sedikit tersembunyi. SDN 27 Kauman juga cenderung jauh dari kawasan pemukiman.

SDN 27 Kauman

SDN 27 Kauman. foto/Adisti

Selain masalah zonasi, Sri, Wali Kelas 1 SDN 27 Kauman, juga mengungkap banyak orang tua murid saat ini lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta.

Pemerhati Kebijakan Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Dr. Bramastia, M.Pd., mewajarkan hal ini. Alasan orang tua murid lebih memilih sekolah swasta, menurut Bram, karena orang tua murid menganggap pelayanan dan inovasi pengajaran di sekolah swasta lebih baik.

“Sehingga orang tua cenderung mau membayar lebih dari sekolah negeri. Pelayanan dan model pengajaran sekolah negeri yang normatif, dianggap orang tua murid kurang menarik dan lebih tertarik menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta, yang mendapatkan kelebihan dalam kurikulumnya,” terang Bram kepada Kontributor Adisti Daniella yang melaporkan untuk Tirto, Jumat (18/7/25).

Bram lantas menambahkan, dalam kasus SDN 27 Kauman, ada beberapa sebab berkurangnya jumlah peserta didik baru. Mulai dari sosialisasi sekolah, berhasilnya program Keluarga Berencana (KB) di wilayah tersebut, serta adanya sistem zonasi.

Data terbaru, jumlah total peserta didik di SDN 27 Kauman adalah 64 anak, dengan rincian kelas 1 berjumlah satu anak, kelas 2 berjumlah 11 anak, kelas 3 berjumlah 13 anak, kelas 4 berjumlah 15 anak, kelas 5 berjumlah 10 anak dan kelas 6 berjumlah 14 anak.

Regrouping sebagai solusi

Sebelumnya, pada Rabu (16/7/25), Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta, Dian Rineta, berkunjung ke SDN 27 Kauman untuk melihat situasi dan memastikan Abrizam mendapat pengajaran yang baik. Dian mengatakan akan mempelajari dan memantau perkembangan SD yang sepi peminat. Ia menyebut SDN sepi peminat karena ada pergeseran pola orang tua yang memilih memasukan anaknya ke sekolah swasta berbasis keagamaan kuat sebagai fondasi pendidikan, mengutip Antara.

Sebagai solusi, kata Dian, Disdik akan mempertimbangkan opsi penggabungan/regrouping sekolah selain opsi pengurangan rombongan belajar. Langkah ini akan dilakukan setelah evaluasi menyeluruh. Disidik juga berencana mem-branding sekolah negeri dengan meningkatkan mutu pendidikan agar menarik minat masyarakat.

Saat disinggung mengenai program regrouping, Sri mengaku hanya akan menunggu dan akan patuh pada keputusan terbaik dari Dinas Pendidikan Kota Surakarta.

“Dari dinas (pendidikan) kalau ada regrouping iya kita manut,” tutur Sri.

Sekolah di Batang tidak mendapat siswa baru

Seorang guru duduk di kursi ruang kelas I yang tidak mendapat peserta didik baru di SDN Kranggan 01, Tersono, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Senin (14/7/2025). ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/rwa.

Regrouping (school regrouping) merupakan peleburan dua sekolah atau lebih. Regrouping ini menjadi upaya pemecahan permasalahan pendidikan seperti kurangnya jumlah peserta didik dan guru. Regrouping biasanya juga dilakukan pada sekolah-sekolah yang jaraknya berdekatan.

Studi dari Mariyadi, dkk (2023) menjabarkan, faktor serta dampak dari dilakukannya school regrouping. Dalam studi tersebut dijelaskan bahwa salah satu faktor implementasi peleburan sekolah adalah jumlah murid dan guru dalam satu sekolah, serta banyaknya sekolah dengan jarak berdekatan di satu wilayah yang sama.

Berkurangnya jumlah murid, menurut Mariyadi disebabkan karena beberapa hal, seperti berkurangnya jumlah anak-anak, adanya sistem zonasi dalam pendaftaran sekolah, serta perubahan orientasi orang tua murid lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta berbasis agama.

Konsekuensi regrouping

Regrouping memang seperti menjadi jawaban atas segala permasalahan di atas, namun adapula konsekuensinya. Paling menonjol tentu, munculnya kesulitan dalam beradaptasi yang dialami oleh murid, guru, dan tenaga pendidik lain. Mereka harus menyesuaikan dengan lingkungan baru, tak hanya lingkungan fisik namun juga terkait budaya kerja dan manajemen sekolah.

Kota Surakarta pada tahun 2023 telah melakukan regrouping beberapa sekolah dasar karena jumlah peserta didik baru yang terus menurun. Saat itu diketahui bahwa SDN Sriwedari juga hanya mendapat satu orang peserta didik baru.

Adapun belasan SD yang telah regrouping, yakni SDN Tegalrejo dan SDN Semanggi Lor; SDN Lojiwetan dan SDN Pasar Kliwon; SDN Yosodipuran dan SDN Kedung Lumbu; SDN Kemasan 1 dan SDN Kemasan 2; SDN Tugu dan SDN Tegalkuniran; SDN Dukuhan Kerten dan SDN Kerten; SDN Sriwedari dan SDN Panularan; SDN Begalon 1 dan SDN Begalon 2; SDN Kleco 1 dan SDN Kleco 2 serta SDN Ketelan dan SDN Bromantakan.

Tahun 2025, Kota Surakarta akan kembali melakukan regrouping beberapa sekolah dasar. Beberapa sekolah yang rencananya akan melebur, di antaranya:

  • SDN Sambirejo dan SDN Joglo jadi SDN Joglo;
  • SDN Sekip dan SDN Gebang jadi SDN Sekip;
  • SDN Dawung Tengah dan SDN Serengan 2 jadi SDN Serengan 2;
  • SDN Gading dan SDN Carangan jadi SDN Gading;
  • SDN Mangkuyudan dan SDN Purwotomo jadi SDN Mangkuyudan;
  • SDN Prawit 1, SDN Prawit 2, dan SDN Nusukan Barat jadi SDN Prawit 1;
  • SDN Pajang 1 dan SDN Pajang 3 jadi SDN Pajang 1;
  • SDN Purwoprajan dan SDN Kandangsapi jadi SDN Purwoprajan;
  • SDN Karangasem 1, SDN Karangasem 3, dan SDN Suropadan jadi SDN Karangasem 1;
  • SDN Bratan 2 dan SDN Bratan 3 jadi SDN Bratan 2;
  • SDN Sumber 5 dan SDN Banyuanyar II jadi SDN Banyuanyar II;
  • SDN Debegan dan SDN Krajan jadi SDN Krajan;
  • SDN Tegalrejo dan SDN Pajang 4 jadi SDN Tegalrejo.
Sejauh ini, masih belum diketahui apakah SDN 27 Kauman akan masuk dalam daftar sekolah dasar yang akan di-regrouping atau tidak.

Pengamat Pendidikan, Bram dari UNS menyebut, peleburan sekolah bisa menjadi alternatif akhir, apabila dalam kurun waktu 6 tahun sekolah tidak mendapatkan murid sama sekali.

Sekolah kekurangan murid di Trenggalek

Guru memberikan pengajaran baca tulis kepada satu-satunya murid kelas 1 di SDN 1 Kendalrejo, Trenggalek, Jawa Timur, Senin (14/7/2025). ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/rwa.

Upaya Promosi SDN 27 Kauman

Kendati masih terus menanti keputusan terbaik dari Dinas Pendidikan Kota Surakarta terkait masa depan mereka, SDN 27 Kauman juga tidak berpangku tangan. Mereka berupaya untuk melakukan promosi atau sosialisasi dengan mengikutkan anak muridnya dalam berbagai perlombaan mulai dari Mata Pelajaran dan Seni Islam (MAPSI), Olimpiade Sains Nasional (OSN), hingga kompetisi olahraga.

Menurut Bram, mengikutkan siswa dalam berbagai perlombaan merupakan hal yang wajar dan wajib seiring dengan minat dan bakat siswa masing-masing. Oleh karenanya, dalam upaya promosi, menurut dia perlu ada penyusunan program kerja yang lebih baik dan mempublikasikan keunggulan sekolah yang ada selama ini supaya masyarakat menjadi tahu dan paham akan keunggulan SDN 27 Kauman.

Di samping itu, SDN 27 Kauman harus memperbaiki manajemen pengelolaan lembaga, sehingga memiliki daya tarik dan keunggulan yang dapat dipahami masyarakat sekitarnya.

Selain itu, inovasi dan peningkatan layanan Pendidikan SDN 27 Kauman harus terus ditingkatkan supaya tidak kalah dengan sekolah swasta. Sekolah butuh sentuhan manajemen pendidikan yang lebih baik, agar menarik minat orang tua mau menyekolahkan anaknya di SDN 27 Kauman.

“Dengan masyarakat paham akan SDN 27 Kauman, maka dengan sendirinya akan tertarik untuk anaknya kelak sekolah di SDN 27 Kauman,” kata Bram.

Baca juga artikel terkait SOLO atau tulisan lainnya dari Adisti Daniella Maheswari

tirto.id - News Plus
Kontributor: Adisti Daniella Maheswari
Penulis: Adisti Daniella Maheswari
Editor: Alfons Yoshio Hartanto