Satan in Skirt dari Rusia Membunuh Belasan Lansia demi Miras

Penulis: Felix Nathaniel - 13 Mei 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Irina Gaidamachuk dari Rusia membunuh belasan korban--semua lansia--hanya demi dapat memuaskan hasratnya terhadap minuman keras.
tirto.id - Alkohol memiliki sejarah panjang di Rusia. “Minum alkohol,” kata Vladimir I Sviatoslavich atau Vladimir Agung (Vladimir The Great), Pangeran Kiev di abad ke-10, “adalah sukacita bagi orang Rusia. Kita tidak bisa hidup tanpa adanya kegembiraan.”

Tren ini bertahan hingga sekarang. Menurut survei Statista pada 2015 lalu, Rusia menempati di peringkat keempat konsumsi alkohol terbanyak. Rata-rata konsumsi per orangnya mencapai 14,5 liter per tahun. Di atasnya ada Lithuania, Belarusia, dan Republik Moldova dengan konsumsi alkohol 17,4 liter per tahun. Tiga negara ini dulu juga merupakan bagian dari Uni Soviet.

Meski tinggi, sebenarnya konsumsi alkohol di Rusia telah menurun sejak 2003 sampai 2016 sebanyak 43 persen, menurut survei dari World Health Organization (WHO). Sebanyak 40 persen mengurangi konsumsi alkohol bermerek dan 48 persen memilih membatasi konsumsi alkohol ilegal dan oplosan.

Penurunan ini bukan karena mereka bosan atau menemukan keasyikan lain, tapi disebabkan ketakutan akan dampaknya. Para ahli berpendapat 37 persen laki-laki Rusia akan meninggal sebelum usia mereka mencapai 55. Sebagai perbandingan, di Inggris, tingkatannya hanya 7 persen pada 2005.

Penelitian ini dilakukan oleh The Lancet kepada 200 ribu pria dewasa selama 1999-2008 di tiga kota (Barnaul, Biysk, dan Tomsk). Sebagian responden diwawancara ulang pada 2010.

The Lancet menyimpulkan bahwa alkohol, terutama vodka, “penyebab penting risiko kematian prematur pada orang dewasa di Rusia.” Bisa jadi karena penyakit, tapi bisa juga sebab lain seperti tabrakan karena menyetir sambil mabuk.

Tapi dampak konsumsi alkohol berlebihan di Rusia bukan hanya itu. Sebuah kasus paling ekstrem terjadi pada seseorang bernama Irina Gaidamachuk. Gaidamachuk punya ketergantungan pada minuman keras yang parah dan demi memenuhi hasrat itu ia mampu membunuh banyak orang.

Gaidamachuk menjadi salah satu pembunuh berantai terpopuler dalam sejarah Rusia. Orang-orang menjulukinya Satan in Skirt.


Menarget Lansia

Rusia bukan tempat baru bagi pembunuh berantai, tetapi sedikit–jika bukan tidak ada–dari mereka yang perempuan. Gaidamachuk juga bukan maniak yang membunuh untuk kepuasan pribadi seperti Andrei Chikatilo atau Mikhail Popkov. Gaidamachuk adalah kriminal biasa yang membunuh demi uang. Uang itu dia pakai untuk membeli alkohol.

Awalnya Gaidamachuk hanya ingin merampok dengan cara pura-pura menjadi tukang di rumah lansia. Namun karena ketahuan mengutil, dia menyerang tuan rumah dengan palu. Hal ini menjadi kebiasaan hingga delapan tahun lamanya.

Sepanjang 2002-2010, Gaidamachuk membunuh 17 orang. Semua targetnya adalah orang-orang lanjut usia yang cenderung lemah secara fisik. Umur korban berkisar antara 61 hingga 81. Terkadang setelah membunuh Gaidamachuk berusaha membakar rumah korban untuk menutupi kejahatan.

Modusnya selalu sama: Gaidamachuk menyamar sebagai pekerja sosial agar dapat masuk ke rumah korban.

“Buka, aku dari bantuan sosial, aku membawakan belanjaan,” kata Bilbinur Makshaeva, satu-satunya selamat dari total 18 perampokan yang pernah dilakukan Gaidamachuk. Suara Gaidamachuk, menurut Makshaeva, terdengar begitu manis dan penuh perhatian.

Dia tidak menyangka begitu pintu dibuka, sebuah palu mendarat di kepalanya sebanyak tiga kali. Meski cukup fatal, Makshaeva masih sadar. Dia pun berteriak sekencang-kencangnya dan menarik perhatian para tetangga.

Gaidamachuk panik dan meninggalkan lokasi. Senjatanya tertinggal.

Korban lantas lapor polisi. Dari sana polisi tahu bahwa pembunuh yang selama ini mereka cari berjenis kelamin perempuan, bukan laki-laki.


Poster pemburu lansia cepat tersebar di sekitar Krasnoufimsk–kota kecil berjarak ribuan kilometer dari Moscow–bahkan sampai ke depan pintu rumah Gaidamachuk. Dari sana orang-orang jadi tahu bahwa pelaku pembunuh berantai lansia adalah perempuan berusia 30-an (Gaidamachuk berumur 31 kala itu), berambut pendek sebahu berwarna pirang ditarik ke belakang sehingga tidak menghalangi dahi, dan mengenakan celana panjang. Dia juga digambarkan kerap membawa tas kecil, yang di kemudian hari diketahui selalu berisikan palu.

Lansia di Krasnoufimsk lekas memperketat penjagaan rumah dengan memasang pintu besi.

Sementara polisi segera menyelidiki para wanita yang profilnya sama dengan keterangan korban selamat. Perburuan membuat para perempuan berambut pirang cukup tidak nyaman sampai-sampai mengecat rambut ke warna lain. Polisi mengecek hingga 15 ribu sidik jari perempuan.

Namun semua upaya ini tidak berbuah hasil.

Salah satu kelemahan para polisi adalah mereka hanya mengecek perempuan dengan dokumen lengkap. Gaidamachuk tidak punya identitas diri lengkap, semacam paspor misalnya. Dia akhirnya lolos tanpa pernah diperiksa di kantor polisi.

Pembunuhan berhenti di Krasnoufimsk, tapi merembet ke kota-kota tetangga seperti Serov dan Yekaterinburg. Dia pergi ke kota lain dengan naik bus atau kereta. Menghentikan perburuan di Krasnoufimsk adalah upaya Gaidamachuk menghindari kecurigaan. Ia juga memakai rambut palsu.

Seorang perempuan bernama Marina Valeeva ditangkap karena dianggap sebagai pelaku pembunuhan berantai tanpa bukti yang cukup pada 2008. Ini terjadi setelah seorang relasi pejabat polisi menjadi korban Gaidamachuk. Valeeva mengakui perbuatannya, tapi tidak lama kemudian korban ke-16 muncul. Pengakuan Valeeva ternyata karena tekanan dan polisi sedang mencari kambing hitam.

Polisi baru bisa menangkap Gaidamachuk pada 2010, sekitar 8 tahun setelah kasus pertama.


Seorang investigator menyebut Gaidamachuk merasa tidak akan tertangkap setelah sekian lama lolos. Setelah itu “dia mulai menyasar kenalan-kenalannya sendiri,” kata investigator tersebut. Korbannya adalah Anna Povaritsyna yang berusia 81. Tetangga melihatnya pergi dari rumah korban di sekitar waktu kejadian. Gaidamachuk akhirnya dibekuk polisi di kota tempat dia tinggal, Krasnoufimsk.

Dalam persidangan, orang-orang sadar mengapa para lansia terbujuk; senantiasa membukakan pintu untuknya. Caranya bicaranya ternyata begitu tenang dan halus.

Meski pengacara Gaidamachuk meminta keringanan hukuman, pengadilan menjatuhkan vonis 20 tahun penjara yang jika dirata-rata berarti hanya sekitar satu tahun lebih sedikit untuk setiap korban yang dibunuh.

Persidangan juga membuktikan bahwa Gaidamachuk tidak terlihat menyesal sama sekali. Dia juga nihil simpati pada korban.

Ahli-ahli psikologi yang mempelajari kasus ini memperkirakan Gaidamachuk menganggap lansia adalah warga negara kelas dua yang tidak penting hidupnya. Dalam satu kesempatan, Gaidamachuk menyatakan bahwa orang-orang tua ini “punya banyak uang, hidup sendiri, tapi mereka tidak membagikan harta kekayaan kepada anak muda di bawahnya.”

Namun, berdasarkan penyelidikan terhadap latar belakang Gaidamachuk, ada pula yang memperkirakan bahwa tindakannya adalah manifestasi dari dendam pada orang tua kandung yang menelantarkannya.

Kecanduan Sejak Dini

Dalam buku Killer Women (2018), Nigel Cawthorne menulis Gaidamachuk yang lahir tahun 1972 di Nyagan, Siberia bagian barat, sudah gemar meminum alkohol sebelum menginjak usia 21. Pada usia tersebut dia melahirkan satu anak bernama Alina. Karena kebiasaan itu Gaidamachuk harus menyerahkan hak asuh anaknya ke negara.

Ia sendiri kemudian pindah ke Krasnoufimsk. Setelah pindah, Gaidamachuk menjalin hubungan dengan seorang buruh kereta api dan punya dua anak lagi.

Yuri, suami Gaidamachuk, selalu menyimpan sendiri uang hasil kerjanya karena khawatir jika diberikan ke Gaidamachuk hanya akan dibelikan miras. Dia takut anaknya akan diambil negara seperti Alina.


Infografik Irina Viktorovna Gaydamachuk
Infografik Irina Viktorovna Gaydamachuk. tirto.id/Fuad


Karena tidak tidak punya penghasilan, Gaidamachuk berutang kepada para tetangga sebanyak 200 hingga 500 rubel atau sekitar (3 hingga 7 dolar AS) hingga berbulan-bulan. Beberapa kali Gaidamachuk menghilang dan muncul kembali untuk membayar utang itu. Menurut pengakuan tetangga, dia mendapatkannya dari orang tua.

Faktanya, Gaidamachuk tidak pernah lagi mengunjungi mereka. Uang itu tidak lain didapat dari hasil merampok (dan kemudian membunuh korban).

Berdasar penyelidikan, uang rampokan Gaidamachuk hanya sekitar 40 hingga 50 ribu rubel atau sekitar 568 atau 710 dolar AS–sekitar Rp10 juta. Uang itu dihabiskan untuk berfoya-foya membeli vodka.

Hanya demi uang sebanyak itulah Gaidamachuk menghabisi 17 nyawa dan meninggalkan luka hati mendalam kepada para kerabat korban. Belum lagi jiwa-jiwa lain yang terkena imbas dari perbuatannya seperti Yuri dan dua anaknya, serta Alina yang ia tinggalkan sedari kecil.

“Aku sayang ibuku, tapi dia pembunuh. Dia akan diadili,” kata Dasha, salah satu anak Gaidamachuk hasil pernikahan dengan Yuri. “Ibuku adalah seorang yang gila.”

Baca juga artikel terkait PEMBUNUH BERANTAI atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Hukum)

Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Rio Apinino

DarkLight