Menuju konten utama
Periksa Fakta

Salah: Kedatangan Pengungsi Rohingya untuk Menambah Suara Capres

KPU Kabupaten Tulungagung memastikan telah mencoret atau menghapus nama WNA asal Myanmar (etnis Rohingya) dari DPT Pemilu 2024.

Salah: Kedatangan Pengungsi Rohingya untuk Menambah Suara Capres
HEADER PERIKSA FAKTA Salah: Kedatangan Pengungsi Rohingya untuk Menambah Suara Capres. tirto.id/Fuad

tirto.id - Gelombang kedatangan pengungsi Rohingya ke wilayah Aceh akhir tahun lalu membuat banyak narasi terkait isu ini berseliweran di media sosial. Tak sedikit yang mengaitkan kedatangan pengungsi Rohingya dengan penyelenggaraan Pemilihan Umum (pemilu) 2024.

Akun Facebook bernama “BundanyaRyan BundanyaRyan BundanyaRyan” misalnya, menyebarkan klaim bahwa tujuan Rohingya ke Indonesia yakni menambah suara salah satu calon presiden (capres).

Narasi tersebut dibubuhi gambar seorang perempuan membuka surat suara. Dalam gambar terdapat teks “pengungsi Rohingya di Tulungagung Jatim, masuk dalam DPT pemilu 2024, kok bisa?”

PERIKSA FAKTA Kedatangan Pengungsi Rohingya untuk Menambah Suara Capres

PERIKSA FAKTA Salah: Kedatangan Pengungsi Rohingya untuk Menambah Suara Capres

Selain itu, akun pengunggah juga menambahkan takarir yang mempertanyakan kinerja Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, yang saat ini juga berstatus sebagai capres. Ia menyebut, Rohingya yang hanya pakai kapal kayu saja bisa jebol, bagaimana dengan musuh.

Sejak beredar pada Kamis (11/1/2024) sampai Jumat (19/1/2024), unggahan ini sudah mendapat 9 reaksi emoji dan 9 komentar. Narasi soal tujuan pengungsi Rohingya datang ke Indonesia untuk meyumbang suara di pemilu 2024 juga dijumpai di unggahan akun Facebook “Nih Andi Abdillah”.

Namun, bagaimana faktanya?

Penelusuran Fakta

Tim Riset Tirto melakukan penelusuran Google untuk menelusuri klaim pengungsi Rohingya yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024.

Dilansir Antara, warga Myanmar (etnis Rohingya) yang namanya sempat masuk DPT Pemilu 2024 diidentifikasi bernama Mohammad Sofi. Ia sudah lama menetap di wilayah Ngunut, Tulungagung, dan terdaftar memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) serta masuk daftar Kartu Keluarga (KK) tempatnya tinggal sejak 2006.

Atas dasar itulah, Sofi berhasil menyusup menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dan terdaftar dalam beberapa kali gelaran pemilu/pemilihan kepala daerah (pilkada), mulai 2009, 2014, 2018, dan terakhir 2024.

Namun demikian, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tulungagung memastikan telah mencoret atau menghapus nama yang bersangkutan.

"Kami di akhir bulan Desember 2023, mendapat saran perbaikan dari Bawaslu bahwa ada satu orang dalam DPT yang tidak mempunyai KTP, intinya sudah dicabut hak kewarganegaraannya di Indonesia, sehingga yang bersangkutan sudah tidak memenuhi persyaratan sebagai pemilih," kata Komisioner KPU Tulungagung, Muchamad Arif, Jumat (5/1/2024).

Masih dari sumber yang sama disebutkan, warga Myanmar yang saat ini tinggal dan bermukim di Tulungagung sebenarnya ada dua orang. Selain Sofi, ada satu orang lagi yang diidentifikasi bernama Hasan.

WNA asal negara yang dikuasai junta militer itu bahkan sempat memiliki KTP elektronik sejak 2012 dan namanya terdeteksi sempat masuk Daftar Calon Tetap (DCT) pemilu 2018.

Awal mula kedatangan warga Rohingya ke Indonesia sendiri didasari oleh peristiwa penyiksaan dan genosida yang dilakukan militer Myanmar kepada etnis Rohingya, tahun 2017 silam. Kondisi itulah yang menyebabkan warga Rohingya kabur mencari suaka ke negara terdekat untuk menyelamatkan diri.

Menukil situs Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pengungsi atau United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), pengungsi Rohingya tidak ingin meninggalkan Myanmar dan mereka terpaksa mengungsi. Kebanyakan pengungsi Rohingya mengatakan kepada UNHCR bahwa mereka berharap dapat pulang ke Myanmar jika kondisinya memungkinkan.

Sebagian besar pengungsi Rohingya (sekitar 1 juta orang) melarikan diri ke kamp-kamp di negara tetangga Bangladesh sejak tiga dekade terakhir dan kebanyakan pada tahun 2017 setelah beberapa insiden kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berskala besar.

Pengungsi Rohingya tidak hanya mencari keselamatan di Indonesia. Mayoritas pengungsi Rohingya telah melarikan diri dan diberi status pengungsi di Bangladesh, Malaysia, dan India.

Kesimpulan

Hasil penelusuran fakta yang sudah dilakukan menunjukkan kalau klaim pengungsi Rohingya datang ke Indonesia untuk menambah suara calon presiden (capres) tertentu bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

Warga Myanmar (etnis Rohingya) yang namanya sempat masuk Daftar Pemilih Tetap Pemilu 2024 diidentifikasi bernama Mohammad Sofi. Ia sudah lama menetap di wilayah Ngunut, Tulungagung, dan terdaftar memiliki KTP serta masuk daftar KK tempatnya tinggal sejak 2006.

Namun demikian, KPU Kabupaten Tulungagung memastikan telah mencoret atau menghapus nama Sofi dari DPT.

Selain itu, tak ada bukti dari klaim narasi bahwa kedatangan Rohingya ke Indonesia adalah untuk menambah suara capres.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Periksa Data, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan lainnya dari Fina Nailur Rohmah

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Farida Susanty