Menuju konten utama

Saat Pertanyaan 'Are You OK?' Jadi Pembuka Hati

Pertanyaan yang mungkin terdengar klise, namun tak ada salahnya untuk mulai kamu ajukan pada orang-orang di sekitarmu sebagai bentuk kepedulian.

Saat Pertanyaan 'Are You OK?' Jadi Pembuka Hati
Header Diajeng Are You Ok. tirto.id/Quita

tirto.id - Meghan Markle tak sanggup menyembunyikan kesedihannya ketika mengalami keguguran pada pertengahan tahun 2020 silam.

Pengalaman berat ini kemudian ia bagikan ke publik dalam sebuah surat pribadi yang ditulisnya di The New York Times beberapa bulan kemudian.

Tak hanya cerita soal menghadapi masa-masa sulit itu, Markle juga menuliskan bagaimana kala itu tak banyak orang yang menanyakan kondisinya.

“Aku sadar inilah bahaya dari hidup terkurung, di mana momen-momen sedih, menakutkan atau sakral dijalani sendirian. Tak ada seorang pun yang berhenti untuk bertanya apakah kamu baik-baik saja,” tulis Markle.

Markle sadar, meski terbilang sederhana, pertanyaan ‘are you OK?—apakah kamu baik-baik saja?’ menjadi hal penting yang bermakna baginya dan orang lain di luar sana.

Ia pun mengajak untuk tetap terhubung dan bertanya ke orang lain apakah mereka dalam keadaan baik-baik saja, meski terpisah jarak fisik.

Well, ajakan Markle itu tidak berlebih.

Rina Eko Widarsih, M. Psi., Psikolog, setuju bahwa ‘apakah kamu baik-baik saja’ memang pertanyaan yang penting karena merupakan sebuah bentuk kepedulian terhadap kondisi orang lain.

Lebih krusial lagi, pertanyaan itu juga menjadi pintu masuk untuk mengenali apakah seseorang mengalami krisis diri atau masalah tertentu.

“Itu adalah pertanyaan challenging. Awalnya mungkin mereka merasa tidak apa-apa. Namun setelah ada pertanyaan 'apakah kamu baik-baik saja' mereka menjadi berpikir ulang,” kata Rina, psikolog klinis yang berpraktek di RSJ Grhasia Yogyakarta.

Pertanyaan tersebut ibarat sebuah momen kontemplasi atau jeda buatmu—suatu kesempatan untuk bertanya pada diri sendiri, “Apakah diriku benar-benar baik saja atau tidak?”

Momen itu juga termasuk mengingat kembali berbagai hal yang dialami yang mungkin saja terlewatkan, seperti permasalahan hidup yang sedang dihadapi.

Header Diajeng Are You Ok

Header Diajeng Are You Ok. foto/Istockphoto

Rina menyebut pula, adanya pertanyaan ‘apakah kamu baik-baik saja?’ juga merupakan validasi perasaanmu. Validasi itu akhirnya membuat dirimu diperhatikan—dianggap—karena mungkin seperti yang dialami Markle, selama ini tidak ada yang bertanya kepadanya.

Tidak heran, saat ditanya ‘apakah kamu baik-baik saja?’, seseorang mengalami pergolakan dalam diri sehingga membuat “benteng pertahanan” yang tadinya tertutup rapat bisa jadi terlepas. Hal itu disebut Rina seperti membuka ventilasi emosi seseorang.

Mendengar pertanyan itu, kamu bisa saja jadi tersentuh, bahkan hingga menangis tersedu-sedu.

Secara fisiologis, pertanyaan ‘are you OK?’ dapat menghasilkan dopamin pada orang yang ditanya. Hormon yang memengaruhi suasana hatinya pun akan meningkat. Akibatnya, ia merasa menjadi lebih nyaman, aman, dan juga rileks untuk menceritakan problem yang dihadapi.

Eits, tapi perlu diingat, bukan berarti semua orang dengan mudah membuka diri saat ditanya kondisinya baik-baik saja atau tidak.

Apalagi apabila mereka sedang di tengah-tengah situasi sedih atau berada dalam krisis diri. Pertanyaan tersebut malah bisa menjadi sesuatu yang sulit untuk dijawab.

Beberapa orang pun memilih untuk tidak menceritakan masalahnya atau merespons pertanyaan dengan jawaban pendek, “I’m fine!”.

Salah satu hal yang mendasarinya, menurut Rina, adalah tuntutan profesionalitas. Artinya, seseorang tidak bisa serta merta mengungkapkan kondisi yang sedang ia hadapi.

Pilihan seseorang untuk mengatakan bahwa kondisi mereka baik-baik saja juga merupakan bagian dari upaya untuk melindungi diri sendiri dari perasaan menyakitkan dan membebani.

Dengan mengakui masalah pada orang lain, artinya kita harus menghadapinya dan mengakui pada diri sendiri bahwa kita mungkin sedang tidak bahagia, memiliki hidup yang tidak sempurna, atau membutuhkan bantuan.

Sharon Martin, MSW, LCSW, seorang psikoterapis berlisensi mengatakan, berpura-pura tidak mempunyai masalah terkadang merupakan sebuah kedok yang ingin ditampilkan kepada orang lain.

Seseorang ingin orang lain berpikir bahwa semuanya baik-baik saja karena ada ketakutan, rasa malu, dan mungkin penghakiman yang mungkin terjadi jika orang-orang mengetahui kebenaran tentangnya.

Pengingkaran sering menjadi jalan tengah, yang kita tahu sendiri, bukanlah solusi jangka panjang. Sering kali, semakin lama kita mencoba mengabaikan sesuatu, semakin besar pula masalahnya.

Kita perlu bersikap lebih jujur pada diri sendiri untuk keluar dari penyangkalan itu: yup, it’s me… yang memang sedang berjuang, terluka, takut, atau marah.

Apabila kita memang belum siap untuk membagikan perasaan atau pengalaman pada orang lain, yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan mengakui perasaan sendiri. Misalnya, menyediakan waktu untuk memahami diri sendiri melalui meditasi atau journaling.

Langkah di atas bisa menjadi katarsis sebelum nantinya kita bertemu orang yang tepat untuk berbagai.

Pilihan untuk merespons pertanyaan ‘apakah kamu baik-baik saja’ pada akhirnya memang kembali pada masing-masing individu.

Header Diajeng Are You Ok

Header Diajeng Are You Ok. foto/IStockphoto

Nah, kalau kamu peduli pada teman atau keluarga, dan ingin menanyakan bagaimana keadaannya, ada sejumlah rambu yang perlu kamu perhatikan, ya!

Poin penting yang diingatkan Rina adalah menghindari bertanya pada orang lain jika tujuannya sekadar memuaskan rasa ingin tahu pribadi.

“Lebih baik tidak usah bertanya jika hanya untuk kepo,” katanya.

Untuk menghindari pertanyaan yang menyudutkan, kamu dapat mencoba untuk menanyakan kondisi seseorang berdasarkan pengamatan yang sudah dilakukan sebelumnya.

Misalnya, “Kamu kelihatan capek ya, lagi kurang tidur atau kepikiran sesuatu yang mengganggu?”

Supaya lebih cair, Jo Loughran, mantan direktur gerakan anti-stigma kesehatan mental Time to Change, menyarankan untuk menghindari suasana formal. Acap kali orang merasa lebih mudah berbicara saat bersantai, seperti jalan-jalan, memasak, atau menonton TV.

Kamu juga tak perlu menjadi seorang ahli untuk mulai menanyakan perasaan kepada orang lain.

“Temanmu tidak mengharapkan kita untuk menyelesaikan masalahnya. Berada di sana saja sudah sangat berarti,” kata Loughran.

Apabila pertanyaanmu direspons dengan jawaban tidak apa-apa, jangan lantas mencoba untuk menggali atau mendorong mereka untuk bercerita lebih lanjut. Santai saja, beri mereka waktu sampai siap membuka diri.

Namun, apabila percakapan sudah terjadi, tunjukkan kepedulianmu dengan mendengarkan secara aktif tanpa menghakimi. Rasa takut dihakimi merupakan hambatan besar bagi banyak orang untuk berbagi tentang hal-hal yang mereka alami.

Beri dukungan pula pada mereka untuk mengunjungi pakar apabila dirasa memerlukan bantuan profesional.

Memang betul, pertanyaan ‘are you OK?’ mungkin terdengar klise. Meski begitu, di tengah hiruk pikuk dunia seperti saat ini, tak ada salahnya luangkan waktu untuk menanyakannya pada orang-orang di sekitarmu.

Who knows, perhatianmu akan akan menjadi salah satu proses penyembuhan luka batin bagi mereka.

Baca juga artikel terkait METIME atau tulisan lainnya dari MN Yunita

tirto.id - Diajeng
Kontributor: MN Yunita
Penulis: MN Yunita
Editor: Lilin Rosa Santi