Menuju konten utama

Riset: Rokok Elektronik Bantu Halau Obesitas

Rokok elektronik dinilai mampu menggantikan peran rokok tembakau dalam menekan nafsu makan dengan risiko kesehatan yang lebih kecil.

Riset: Rokok Elektronik Bantu Halau Obesitas
Seorang pedagang rokok elektronik (e-cigarette) memperlihatkan tiga buah roko elektrik di pusat penjualan rokok elektrik di jl Rajawali, Palembang, Kamis (21/5). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/Rei.

tirto.id - Rokok elektronik berpotensi untuk membantu mengontrol nafsu makan dan menghindari obesitas bagi perokok aktif yang ingin berhenti merokok.

Informasi ini dikemukakan oleh para peneliti dari Inggris dan Irlandia serta dimuat dalam jurnal Penelitian Nikotin dan Tembakau. Para ahli menemukan, rokok elektronik atau “vape” dapat menggantikan fungsi rokok tembakau untuk menekan nafsu makan, dengan risiko gangguan kesehatan yang lebih minim.

Rokok tembakau, yang dapat menyebabkan penyakit fatal, diakui bisa menekan nafsu makan. Hal ini menyebabkan orang-orang tetap merokok demi menjaga berat badan mereka, dan mengurungkan niat untuk berhenti.

"Masalah berat badan mencegah beberapa perokok untuk berhenti, sehingga kita perlu mengeksplorasi cara-cara alternatif untuk membantu (orang) mengkontrol berat badan mereka saat menghilangkan risiko tembakau," kata profesor kebijakan kesehatan Universitas Stirling Linda Bauld.

Banyak ahli kesehatan publik berpikir rokok elektronik atau "vapes" beresiko lebih rendah dan menjadi alternatif bagi perokok, namun beberapa mempertanyakan keamanannya ketika digunakan dalam jangka panjang serta memperingatkan bahwa rokok elektronik tidak bebas risiko.

"Manfaat rokok elektronik bagi perokok, jauh lebih besar daripada bahayanya, dikarenakan 'vaping' hanya memiliki sekitar lima persen risiko merokok," kata Bauld yang juga merupakan Wakil Direktur Pusat Studi Tembakau dan Alkohol Inggris.

Kendati menilai jauh lebih aman, Bauld menekankan bahwa dia dan timnya untuk mendukung promosi dari rokok elektronik bagi non perokok yang ingin tetap langsing.

Bagaimanapun, para peneliti dalam ulasannya mengatakan bagi perokok yang mencoba untuk berhenti dan menjaga berat badan, rokok elektronik dengan aroma makanan mungkin dapat menciptakan sensasi makan.

Hal tersebut ditambah dengan uap dalam rokok elektronik dan gerakan tangan ke mulut saat "vaping" bisa memainkan peran potensial dalam membantu perokok yang mencoba untuk berhenti, agar makan lebih sedikit.

Ahli kesehatan yang tidak terlibat secara langsung dalam ulasan mengatakan temuan tersebut menarik, namun harus diperhatikan dengan kehati-hatian yang besar, terutama yang berkaitan dengan non perokok dan non "vaper".

"Rokok elektronik adalah strategi yang efektif untuk membantu orang berhenti merokok dan meningkatkan kesehatan mereka. Jika mereka juga membantu perokok yang berhenti untuk membatasi kenaikan berat badan, akan menjadi bonus meskipun belum terbukti," kata seorang profesor bidang diet dan kesehatan masyarakat Universitas oxford Susan Jebb.

"Akan tetapi rokok elektronik bukan bebas bahaya dan atau terbukti membantu menurunkan berat badan, tidak ada bukti mengenai itu, sehingga tidak direkomendasikan untuk non-perokok," Jebb menegaskan.

Rokok elektronik yang memanaskan nikotin dalam cairan beraroma, telah berkembang cepat dalam pasar global dan diperkirakan bernilai sekitar 7 miliar dolar AS pada tahun 2015 lalu.

Baca juga artikel terkait ROKOK

tirto.id - Kesehatan
Sumber: Antara
Penulis: Putu Agung Nara Indra
Editor: Putu Agung Nara Indra