Menuju konten utama

Rencana Aksi Penolakan Konser Coldplay & Imbas yang Menanti

Jika konser Coldplay batal karena gelombang penolakan, maka akan membawa dampak negatif bagi industri hiburan di Indonesia.

Rencana Aksi Penolakan Konser Coldplay & Imbas yang Menanti
Coldplay. foto/Rilis Coldplay

tirto.id - Rencana kedatangan grup musik Coldplay dinanti-nanti oleh ribuan penggemarnya di Indonesia. Grup musik asal Inggris ini akan menggelar konser di Jakarta pada 15 November mendatang. Namun, jelang hari H, ada pihak yang justru menolaknya.

Konser bertajuk ‘Music of The Spheres World’ ini dibanjiri animo masyarakat yang dibuktikan dengan ludesnya tiket konser Chris Martin cs. Tiket pertunjukan Coldplay dibanderol mulai dari Rp800 ribu hingga Rp11 juta. Harga tiket yang cukup tinggi tak menghentikan penggemar untuk melihat aksi panggung Coldplay.

Menjelang hari H konser yang tinggal hitungan jari, gelombang penolakan atas hadirnya grup musik Coldplay kian bereskalasi. Sebelumnya, saat Coldplay diumumkan akan konser di Indonesia, beberapa pihak sudah menyatakan akan menolak kehadiran mereka. Alasannya, grup musik asal Inggris ini akan membawa kampanye dukungan terhadap komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) dipertunjukan mereka.

Gelombang penolakan tersebut ternyata bukan sekadar isapan jempol. Kali ini, kelompok yang menolak konser Coldplay tergabung dalam GERANATI (Gerakan Nasional Anti LGBT). Mereka menyatakan akan tetap menolak kedatangan Coldplay jika tidak ada pernyataan dan perjanjian resmi dari penyelanggara, soal kepastian tidak ada kampanye pro-LGBT.

“Apa yang kami perjuangkan? Adalah untuk keutuhan bangsa, menjaga moral bangsa. Dan kesepakatan kita bersama adalah sama-sama untuk kita menjaga nilai-nilai Pancasila, terutama khususnya Ketuhanan Yang Maha Esa,” ucap Juru Bicara GERANATI, Novel Bamukmin, ditemui di Jakarta Selatan, Kamis (9/11/2023).

Novel menyatakan, Coldplay kerap mengkampanyekan dukungan kepada kelompok LGBT dalam konsernya. Hal ini tidak bisa diterima oleh kalangan umat beragama, khususnya umat Islam. GERANATI sendiri, terdiri dari beberapa tokoh agama dan anggota yang berasal dari Persaudaraan Alumni (PA) 212.

Menurut dia, upaya penolakan ini bukan sekonyong-konyong muncul saat ini. Namun, sudah diupayakan sejak lama dan telah meminta beberapa pihak terkait untuk dapat memberikan kepastian tidak ada kampanye LGBT di konser Coldplay.

“Setiap minggu kami bahas, setiap habis pembahasan kami ada upaya, mulai dari Menkopolhukam, Menparekraf berkali-kali kami suratin. Begitu juga beberapa instansi yang terkait, itu enggak ada follow up-nya,” jelas Novel.

Ia menegaskan, pihaknya tidak benci terhadap musik apalagi melarang musik. Novel juga menyatakan tidak melarang adanya konser di Indonesia. Pihaknya, kata dia, hanya ingin jaminan agar konser Coldplay tidak diisi dengan kampanye LGBT.

“Kami besok (Jumat, 9 November 2023), akan melaksanakan demo pemanasan. Dan kalau memang tidak ada jawaban yang jelas, maka kami akan sambungkan tanggal 15 hari H-nya, bisa kemungkinan kami kepung GBK (lokasi konser) atau sebelumnya kami kepung bandara atau bisa hotelnya,” tegas Novel.

Novel mengklaim, pihaknya sudah menemui pihak promotor dan dijanjikan bahwa konser Coldplay tidak akan membawa kampanye LGBT. Namun, ia menilai tidak ada jaminan resmi dari janji tersebut sehingga akan melakukan aksi penolakan.

“Karena tidak ada satu komitmen pun untuk tidak ada jaminan kampanye LGBT. Itu tidak ada sampai saat ini,” ujar Novel.

Potensi Konser Coldplay Batal

Pemerhati musik Rio Jo Werry menyatakan, dalam beberapa konser Coldplay di sejumlah negara dengan mayoritas muslim, memang terjadi hembus penolakan terkait isu LGBT. Kendati demikian, menurut Rio, Coldplay merupakan grup musik yang sudah melanglang buana di industri berskala internasional, sehingga bisa mengerti audiens sesuai dengan tempat mereka manggung.

“Mereka tidak sih membawakan campaign itu aku kira di Indonesia, kalau memang seperti yang diklaim memang mereka punya tendensi untuk kampanye LGBT. Agak mustahil sih dari rekam jejak Coldplay begitu kalau di sini (Indonesia),” ujar Rio dihubungi reporter Tirto, Kamis (9/11/2023).

Rio menilai, bahkan sempat ada permintaan maaf dari Chris Martin sebagai vokalis Coldplay, bahwa mereka hanya ingin bermain musik dan bisa didengar banyak khalayak. Menurut Rio, kemungkinannya kecil sekali Coldplay membawakan kampanye LGBT untuk audiens Indonesia.

“Aku juga punya keyakinan (penolakan) ini tidak akan jadi faktor yang membatalkan konser di Indonesia,” ujar Rio.

Ia menambahkan, batalnya konser grup musik dan penyanyi internasional yang akan manggung ke Indonesia karena diboikot atau ditolak memang pernah terjadi. Kejadian tersebut ketika penyanyi Lady Gaga, batal manggung akibat ditolak sejumlah kalangan karena kerap dinilai menampilkan hal vulgar dan tidak sesuai norma.

“Kalau potensi batal, sih kalau lihat histori baru Lady Gaga ya tahun 2012, atau sekitar 11 tahun lalu. Ini yang masuk kategori gagal konser karena ditolak ya, namun waktu itu memang harus ditelusuri apakah murni masyarakat yang menolak atau pesanan,” kata Rio.

Terkait alasan penolakan grup musik Coldplay yang dilandasi perbedaan ideologi dan berunsur agama, Rio menilai, memang musik menjadi sarana ekspresi yang berkelindan dengan hal tersebut. Maka dari itu, butuh respons yang bijak dari berbagai pihak agar dapat menanggapinya tidak dengan cara-cara intoleran.

“Langkah bijak yang harus dilakukan penyelenggara menurut saya harus ada konsolidasi bersama ormas penolak dan kepolisian untuk mencari titik temu,” terang Rio.

Batalnya konser Coldplay atau jika terjadi kerusuhan akibat gelombang penolakan tentu membawa dampak negatif bagi industri hiburan di Indonesia. Menurut Rio, artis dan grup musik internasional bisa trauma dan memandang Indonesia sebagai tempat yang tidak aman untuk menggelar konser.

“Contohnya ketika Metallica di Lebak Bulus tahun 1993 itu chaos besar-besaran sampai ada aksi bakar di stadion, dan membuat grup musik ini cukup lama tidak hadir di Indonesia lagi,” ungkap Rio.

Ketika membicarakan topik ini bersama Tirto pada 22 Mei 2023, pengamat musik Aris Setyawan menyatakan, isu penolakan terhadap konser Coldplay tidak bisa dianggap hanya angin lalu. Gelombang penolakan yang tidak terbendung bisa saja dapat membatalkan konser grup musik yang tidak sesuai dengan budaya ketimuran.

Pemerintah, menurut Aris, harus menjadi penengah antara pihak yang menolak dan juga promotor yang ingin memboyong Coldplay ke Indonesia. Ia menambahkan, akan ada beberapa kerugian yang akan berimbas pada industri hiburan di Indonesia, jika grup musik raksasa asal Inggris tersebut berakhir batal manggung.

“Karena jika bicara industri musik, pertunjukan musik seperti ini tidak hanya memberikan hiburan bagi para penikmat musik, namun kita juga bicara tentang ekonomi kreatif dan uang yang tidak sedikit nominalnya,” jelas Aris saat itu.

Pengamat sosial dan politik Universitas Negeri Medan (Unimed) Bakhrul Khair Amal menyampaikan, aksi penolakan grup musik Coldplay datang karena masyarakat Indonesia memiliki latar belakang religius di mana norma-norma yang dianut mengajarkan tentang larangan terhadap LGBT.

Ia menilai memang ada perbedaan pandangan di masyarakat dalam menangkap pesan universal musik sebagai media berekspresi dan sebagai pesan-pesan untuk membawa sikap ideologis.

“Agama sendiri sudah menjadi role of life masyarakat Indonesia yang majemuk, jadi ketika muncul isu-isu yang bertentangan dengan norma-norma agama tersebut maka akan secara otomatis masyarakat menentangnya,” ujar Bakhrul dihubungi reporter Tirto, Kamis (9/11/2023).

Menurut Bakhrul, masyarakat dan kelompok penolak memang tidak menentang ekspresi bermusik Coldplay. Namun, penolak memiliki kekhawatiran bahwa grup musik ini membawa sesuatu yang bertentangan dengan norma dan agama di Indonesia.

“Hal inilah yang menjadi dasar penolakan oleh masyarakat, karena ada ketidaksesuaian dan pertentangan nilai,” kata Bakhrul.

Coldplay

Chris Martin dari Coldplay tampil selama Tur Dunia Music Of The Spheres di Stadion Mercedes Benz pada Sabtu, 11 Juni 2022, di Atlanta. (Foto oleh Paul R. Giunta/Invision/AP)

Polisi Siap Mengamankan Konser Coldplay

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko menyatakan, hingga saat ini tidak ada masalah dalam rencana penyelenggaraan konser Coldplay. Konser yang digelar 15 November 2023 itu, disebutnya akan mendapatkan pengamanan sebagaimana biasanya acara internasional dilangsungkan.

“Tidak ada masalah ya, GBK digunakannya venue ada stadion madya, lap A, B, dan pelatihan,” kata Trunoyudo di Polda Metro Jaya kepada awak media, Kamis (9/11/2023).

Ia menyampaikan, pengamanan akan dilakukan secara sinergis dan kooperatif. Trunoyudo menilai tidak ada hambatan dalam pengamanan jelang konser mendatang.

“Kami selalu melakukan secara sinergi dan kooperatif baik itu nanti seperti dari TNI, stakeholder terkait, tentu semua kegiatan masyarakat akan kita lakukan pengamanan,” tambahnya.

Tirto sudah menghubungi pihak Kemenparekraf, melalui Kepala Biro Komunikasi I Gusti Ayu Dewi Hendriyan dan Koordinator Hubungan Masyarakat Djoko Waluyo. Namun hingga berita ini ditulis, keduanya belum menjawab pertanyaan yang dilayangkan Tirto ihwal konser Coldplay mendatang.

Akan tetapi, pada Mei 2023, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menyatakan, tidak keberatan dengan adanya pendapat yang menolak kedatangan Coldplay untuk manggung di Indonesia. Ia menilai negara demokrasi memberikan ruang untuk memberi pendapat dan kritik.

“Yang (nolak) silakan saja, ada kanalnya. Kami tugasnya mempersiapkan kalau ada yang mau menyampaikan tentunya," ujar Sandi kepada wartawan usai menghadiri Halal Bihalal MUI, di Hotel Bidakara, Kamis malam (18/5/2023).

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah bertugas untuk memastikan perizinan dan keamanan. Sandiaga berharap penolakan tersebut tidak berujung pada pelanggaran hukum yang merugikan banyak pihak.

Baca juga artikel terkait KONSER COLDPLAY atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Abdul Aziz