tirto.id - Antusiasme peserta terlihat sejak awal pertandingan. Salah satunya dirasakan Choirul Ashar (10), pemain SSB Mengare. “Seru dan senang. Tapi tadi sempat tegang karena ada adu penalti,” katanya usai laga. Kiper yang meraih penghargaan Best Goalkeeper ini mengaku turnamen tersebut membuat timnya semakin solid dan bersemangat berlatih. Ia juga senang karena seluruh peserta mendapatkan sepatu sepak bola setelah kompetisi. FGT sendiri merupakan agenda tahunan hasil kolaborasi PTFI dengan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sejak 2024, dengan dukungan PT Garuda Sepak Bola Indonesia. Tahun ini, kompetisi diikuti masing-masing 10 tim kategori U-10 dan U-12. Sistem rotasi yang diterapkan memberikan kesempatan lebih luas bagi setiap SSB untuk menampilkan pemain mudanya. Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengapresiasi konsistensi PTFI dalam mendukung pembinaan sepak bola nasional. “Kepercayaan ini memperkuat komitmen PSSI untuk terus meningkatkan sepak bola usia dini, baik melalui kompetisi, kolaborasi, maupun pelatihan pelatih berkualitas yang sangat penting dan memberi pengaruh positif bagi perkembangan pemain muda," katanya. Dari sisi penyelenggara, Vice President External Affairs Smelter PTFI, Erika Silva, menyebut respons masyarakat Gresik terhadap FGT 2026 sangat positif. Kehadiran orang tua dan keluarga yang memadati stadion menjadi bukti dukungan terhadap pengembangan olahraga anak-anak. “Kehadiran PTFI di Gresik tidak semata-mata berfokus pada kegiatan industri, tetapi tumbuh dan berkembang bersama masyarakat, salah satunya melalui pengembangan generasi muda di bidang olahraga,” kata Erika. Tak hanya menghadirkan kompetisi, FGT 2026 juga menyalurkan bantuan berupa 300 pasang sepatu sepak bola untuk SSB di Gresik, 400 pasang untuk Timika, dan 300 pasang untuk Jayapura. Pelatih SSB Serdadu Sidowungu, Muhammad Ashori, menilai kehadiran turnamen ini memberi pengalaman berharga bagi anak-anak, termasuk kesempatan bermain di stadion besar dengan fasilitas memadai. “FGT sangat penting sebab untuk mencapai keberhasilan sepak bola di daerah maupun bangsa ini, harus dari grassroot. Hal ini mendasar sekali. Dari sini kemudian muncul bibit-bibit dan talenta yang kelak kemudian hari bertanding sepak bola profesional," ujarnya. Legenda timnas Indonesia Evan Dimas yang turut hadir juga menekankan pentingnya pembentukan karakter sejak dini. Menurutnya, kompetisi seperti FGT tidak hanya soal hasil pertandingan. “Kompetisi seperti FGT ini dibuat untuk menanamkan nilai-nilai yang lebih penting dibandingkan sepak bola itu sendiri, bukan sekadar menang atau kalah, tetapi bagaimana menanamkan kedisiplinan, fair play, mental dan attitude sejak dini,” kata Evan. Selama dua hari pelaksanaan, pertandingan berlangsung ketat. Di kategori U-10, SSB Nusa Gemilang keluar sebagai juara, disusul WCP Pasopati dan SSB Mengare. Penghargaan individu diberikan kepada M. Mirza Arkhan Al Fari sebagai Best Player dan Choirul Ashar sebagai Best Goalkeeper. Sementara di kategori U-12, SSB Gressia meraih gelar juara, diikuti Peganden FC di posisi kedua dan SSB Mengare di posisi ketiga. Penghargaan individu diraih Rasydhan Hiroshi El R sebagai Best Player dan M. Haikal Sahrul sebagai Best Goalkeeper. Turnamen ini menjadi salah satu bukti bahwa pembinaan sejak usia dini terus bergerak, membuka ruang bagi lahirnya talenta-talenta baru sepak bola Indonesia.

(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id































