tirto.id - Jelang siang, tepatnya pukul 11.50 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertolak ke zona merah, dengan posisi di level 6.568,703. Posisi tersebut mengalami penurunan 18,38 poin atau 0,28 persen dari posisi pembukaan perdagangan Rabu (26/2/2025), yang berada di level 6.587,087. Bila dirinci, sebanyak 219 mengalami penaikan, 364 saham melemah dan 198 saham tidak bergerak.
Berdasarkan data RTI Business, volume saham yang diperdagangkan pada sesi I pagi ini mencapai 8,31 miliar, dengan nilai transaksi sebesar 4,82 triliun dan frekuensi perdagangan yang terjadi sebanyak 594.263 kali.
Menilik ke belakang, anjloknya harga saham telah terjadi sejak awal Februari 2025, di mana pada perdagangan Senin (3/2/2025), pasar saham dibuka di level 7.030,06 atau turun 1,11 persen dari perdagangan Jumat (31/1/2025). Bahkan, RTI mencatat, secara akumulatif dalam sebulan terakhir IHSG telah mengalami penurunan 603,16 poin atau sekitar 8,6 persen.
Meski pada pekan lalu indeks harga saham mengalami perbaikan, yang terlihat dari aksi jual bersih (net sell) investor pada periode 17-21 Februari 2025 hanya senilai 70,53 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp1,16 triliun. Sedang berdasar data yang dihimpun Bursa Efek Indonesia (BEI) investor melakukan aksi jual bersih pada periode 10-14 Februari 2025 hingga 183,63 juta dolar AS atau Rp3 triliun.
Kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi, terperosoknya IHSG hingga kini hanya berada di kisaran 6.000-an disebabkan oleh kondisi ketidakpastian global yang lantas juga membuat rupiah turut mengalami pelemahan. Pada pagi tadi, hingga pukul 9.25 WIB, Bloomberg mencatat rupiah mengalami pelemahan sebesar 0,05 persen atau 9 poin ke level Rp16.380 per dolar AS, dari Rp16.371 per dolar AS di penutupan perdagangan Selasa (25/2/2025).
“Memang Gelombang uncertainty-nya luar biasa. Lalu, juga gimanapun pelemahan rupiah berpengaruh juga terhadap hal tersebut (pelemahan IHSG),” ujarnya, di Komplek Parlemen, Selasa (26/2/2025).
Selain itu, ada pula laporan dari perusahaan bank investasi dan jasa keuangan asal AS, Morgan Stanley yang memutuskan untuk menurunkan rating saham Indonesia dari equal weight menjadi underweight. Mengutip laman resmi Morgan Stanley, rating equal weight diberikan apabila kinerja saham sejalan dengan rata-rata saham di sektor yang sama atau pasar secara keseluruhan. Sementara peringkat underweight diberikan apabila kinerja saham atau indeks tertentu rentan memiliki performa yang lebih rendah dari rata-rata saham atau indeks di lingkup yang sama.
“Di samping itu, mungkin kalau yang (pelemahan) hari ini terkaitnya, trigger-nya kepada (laporan) Morgan Stanley yang menurunkan ratingnya,” imbuh Inarno.
Kendati begitu, mantan Bos BEI itu mengakui, bahwa saat ini kinerja saham nasional mengalami penurunan cukup dalam. Meski penurunan kinerja juga sedang terjadi secara keseluruhan di bursa saham regional.
“Tapi, secara keseluruhan regional itu turun. Memang kita agak lebih dalam,” akunya.
Sementara itu, pada 19 Februari 2025, Morgan Stanley memangkas peringkat saham Indonesia dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi underweight. Namun, pada saat yang sama lembaga investasi tersebut menaikkan rating saham Cina menjadi equal weight.
Penurunan peringkat ini dilakukan karena Morgan Stanley melihat bahwa prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan akan semakin lemah dan adanya tekanan terhadap profitabilitas perusahaan di sektor siklikal yang kemudian membuat Return of Equity (ROE) alias kemampuan perusahaan untuk mencetak laba juga semakin tipis. Beda halnya dengan Cina, yang kini justru mengalami perbaikan kinerja operasional dan efisiensi neraca keuangan, khususnya pada perusahaan-perusahaan yang direkomendasikan MSCI.
“Tren return on equity kini lebih menguntungkan Cina, terutama karena upaya perbaikan sektor-sektor dengan bobot besar dalam indeks. Sementara Indonesia menghadapi hambatan pertumbuhan. Di sisi lain, ROE Indonesia menunjukkan momentum penurunan, terutama karena memburuknya lingkungan pertumbuhan bagi sektor siklikal domestik,” kata Equity Strategist Morgan Stanley, Jonathan Garner dalam laporan tersebut, dikutip Rabu (26/2/2025).
Sementara itu, menurut Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, penurunan peringkat saham Indonesia dalam indeks MSCI merupakan bagian dari review yang dilakukan oleh lembaga tersebut secara periodik. Sehingga, ke depannya ia berharap akan ada perubahan positif pada review-review selanjutnya.
“Naik turunnya indeks tentu adalah mekanisme pasar berdasarkan permintaan dan penawaran,” kata dia, melalui aplikasi perpesanan kepada Tirto, Rabu (26/2/2025).
Karenanya, untuk mendorong agar IHSG terus mengalami perbaikan, BEI akan terus melakukan pendalaman pasar dengan menambah produk dan juga investor domestik.
“Dengan investor domestik yang kuat, tentu akan membuat pasar kita lebih stabil menghadapi keluar masuknya dana asing,” tambah Jeffrey.
Community Lead PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Angga Septianus, menilai peningkatan peringkat saham Cina pada indeks MSCI sebagai sinyal awal akan terjadinya pemulihan ekonomi secara garis besar pada negara tirai bambu itu. Perbaikan perekonomian domestik tersebut disebab oleh stimulus besar-besaran yang digelontorkan pemerintah Cina di Sepanjang tahun lalu.
Sebaliknya, rating underweight yang disandang saham-saham Indonesia pada indeks MSCI merupakan tanda bahwa ekonomi nasional sedang mengalami perlambatan. Hal ini pun sebenarnya telah terlihat dari inflasi Januari yang sangat rendah, yakni sebesar 0,76 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski di bawah target Bank Indonesia (BI) yang sebesar 2,5 ± 1 persen, namun inflasi pada awal tahun kemarin disumbang oleh diskon tarif listrik yang diberikan pemerintah kepada pelanggan PT PLN (Persero) dengan daya listrik 450-2.200 Volt Ampere (VA).
“Hal ini menandakan adanya penurunan daya beli, terutama masyarakat kelas menengah ke bawah yang akan berdampak terhadap permintaan barang dan jasa dari berbagai sektor industri,” kata Angga, kepada Tirto, Rabu (26/2/2025).
Namun demikian, menurut catatan Indo Premier, pasar saham Indonesia sudah mengalami penurunan sejak November 2024, ketika kemenangan Donald Trump pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 berbuntut aksi proteksionisme terhadap AS. Sehingga, kondisi ini lantas membuat dolar AS perkasa dan melemahkan nilai tukar negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ketidakpastian di pasar keuangan global itu semakin diperparah dengan potensi perang dagang antara AS, Cina dan negara-negara lain yang terkena dampak tarif perdagangan tinggi dari Trump.
“IHSG juga pada 4 November (2024) breakdown support 7.450 dan membuat struktur downtrend, sampai saat ini ditulis mendekati level support krusial IHSG di 6.500. Terlihat aset agresif mulai dikurangi karena ketidakpastian ini dan aset safe haven emas terus mengalami kenaikan level tertinggi,” jelas Angga.
Dengan pelemahan kinerja saham yang telah terjadi sejak akhir tahun lalu, penurunan peringkat saham Indonesia dalam indeks MSCI menjadi underweight dinilai Praktisi Pasar Modal, Teguh Hidayat, cukup terlambat. Selain itu, dia pun menyoroti level support IHSG saat ini yang hampir mendekati masa COVID-19 yang rata-rata juga berada di level 6.000-an.
“Dan bahkan bukan hanya zaman COVID, ada banyak saham yang balik lagi ke tahun 2008 (saat krisis keuangan global). Unilever itu saya kaget, dia sekarang (harga saham) tinggal 1.100,” kata dia, saat dihubungi Tirto, Rabu (26/2/2025).
Setidaknya, ada tiga penyebab merosotnya kinerja saham nasional. Pertama, kebijakan proteksionisme AS membuat banyak investor, baik di pasar keuangan maupun saham berbondong-bondong mengalihkan asetnya dari negara-negara berkembang ke AS. Di Indonesia, terlihat dari keluarnya dana asing yang pada pekan kedua Februari mencapai Rp9,61 triliun. Jika dirinci, jual neto oleh nonresiden yang terjadi di pasar saham mencapai Rp2,42 triliun, Rp2,51 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp4,68 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Selain itu, bursa saham negara-negara di Asia Tenggara juga mengalami tekanan. Bursa saham Malaysia yang juga dikenali sebagai Kuala Lumpur Composite Index (KLCI) misalnya, yang pada perdagangan Rabu (26/2/2025) dibuka di level 1.566,27, lebih rendah dari penutupan perdagangan hari sebelumnya yang masih di level 1.68,03. Sementara VN Index, milik Vietnam pada pembukaan perdagangan pagi tadi tercatat di level 1.303,16, tidak bergerak dari saat penutupan perdagangan Selasa (26/2/2025).
“Bukan Asia ya, jadi Asia Tenggara saja. Jadi kalau misalnya kita lihat ke Cina atau Jepang itu masih naik. Kenapa? Karena mereka beda dengan kita, mereka itu ekonomi kuat. Kalau misalnya Asia Tenggara itu memang yang lain-lainnya, termasuk kita masih lemah lah,” imbuh Teguh.
Faktor lain yang mempengaruhi penurunan kinerja saham nasional adalah harga komoditas, utamanya batu bara. Selain konsumsi masyarakat, belanja pemerintah dan juga investasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi oleh harga batu bara. Hal ini dikarenakan dari berbagai komoditas yang ada di Tanah Air, porsi ekspor emas hitam cukup dominan dibanding konsumsi domestiknya.
Menukil data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada 2024 Indonesia berhasil memproduksi batu bara hingga 830,96 juta ton, naik dibanding produksi tahun sebelumnya yang sebesar 770,9 juta ton. Meski begitu, realisasi ekspor emas hitam yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) di Sepanjang 2024 hanya senilai 2,69 miliar dolar AS, turun 10,36 persen (yoy).
Penurunan nilai ekspor ini salah satunya disebab oleh harga batu bara acuan dunia -ICE Newcastle yang pada 2024 hanya sebesar 127 dolar AS per ton di penghujung 2024. Harga batu batu bara masih terus melanjutkan tren penurunan, hingga pada Selasa (25/2/2025), batu bara diperdagangkan di harga 102,1 dolar per ton.
“Komoditas itu kan kalau harga batu bara naik, ekspor kita naik. Kalau ekspor kita naik, pertumbuhan ekonomi kita naik. Terus kalau harga batu bara turun ya sudah, kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi kita turun,” ucapnya.
Bak jatuh tertimpa tangga, ketika pertumbuhan ekonomi nasional mengalami pelemahan, pemerintah justru mengerem belanja melalui kebijakan efisiensi anggaran yang dianggap serampangan oleh banyak ekonom. Asal tahu saja, di sepanjang 2024 ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,03 persen, lebih rendah dari capaian 2023 yang masih sebesar 5,05 persen. Sementara efisiensi ditarget Presiden Prabowo akan mencapai Rp750 triliun, dengan dilakukan dalam tiga putaran.
“Pemerintah kan pangkas anggaran sana-sini, ya. Kemudian banyak kebijakan yang sebenarnya aneh-aneh juga. Kayak Danantara lah, kemudian kemarin katanya mau menambah efisiensi (menjadi Rp750 triliun). Jadi kebijakan-kebijakan itu bikin kepercayaan masyarakat juga anjlok. Banyak unjuk rasa dan sebagainya,” sambung Teguh.
Sementara itu, selain penurunan rating saham Indonesia yang menggambarkan bahwa perekonomian domestik sedang tidak baik-baik saja, Morgan Stanley juga menyorot pengawasan pasar modal yang sebenarnya tak lagi optimal. Hal ini diperlihatkan dari didepaknya tiga saham dari indeks SMCI: PT indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
Jumlah saham yang keluar ini sebetulnya sama dengan tahun sebelumnya, namun pada 2024 SMCI memasukkan satu saham ke dalam indeks, yakni PT Chandra Asri Pasifik Tbk (TPIA). Dus, MSCI juga memangkas bobot saham Indonesia dari sebelumnya 2,2 persen menjadi hanya 1,5 persen.
“Nah itu juga kan berarti ada problem juga di pengelolaan pasar model kita. Penilaian dari saham brand dan lain-lain (oleh SMCI) itu tidak wajar naik turunnya. Lalu, valuasinya mahal. Fundamentalnya nggak jelas, tapi kok bisa naik terus?” ujarnya.
Padahal, ketika mengetahui ada ketidakwajaran dalam penaikan atau penurunan harga saham, baik BEI maupun OJK harus segera turun tangan dan mengevaluasi, apakah ada potensi permainan harga saham di dalam transaksinya. Namun, dalam hal ini kedua otoritas tersebut justru diam saja, sehingga yang bertindak adalah Morgan Stanley dengan cara mengeluarkan saham-saham berpotensi bermasalah dari indeks MSCI.
“Kalau MSCI itu menyebutnya investability issues. Jadi kelayakinvestasiannya itu dipertanyakan gitu. Jadi harusnya BEI itu ada tindakan. Tapi ini dibiarkan saja. Nah itu yang kemudian dalam pandangan MSCI ini jadi underweight lah saham-saham. Jadi, akhirnya seluruh saham kita kena semua,” tukas Teguh.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Anggun P Situmorang