Ranking Bukan yang Utama, Kenali Potensi Kecerdasan Majemuk Anak

Infografik Kecerdasan Majemuk
Ilustrasi anak kecil dan otak. FOTO/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 28 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Ada sembilan tipe kecerdasan pada manusia, temukan bakal kecerdasan anak Anda dan gali potensinya.
tirto.id - Nilai-nilai studi eksak yang bagus, peringkat tiga teratas di kelas, lulus dengan nilai sempurna, begitulah kira-kira harapan sebagian orangtua atas pendidikan anaknya. Demi mewujudkan ambisi itu, orangtua tak segan menekan jam belajar anak, memarahi, hingga memberi sanksi ketika sang anak nilai-nilainya terpuruk. Para orangtua ini tak menyadari bahwa potensi kecerdasan anak tak tunggal.

“Ada calon seniman yang tak perlu mengerti matematika.
Ada calon pengusaha yang tidak butuh pelajaran sastra atau bahasa.
Ada calon musisi yang nilai biologinya tidak akan terlalu berarti.
Ada calon olahragawan yang lebih mementingkan fisik dibanding fisika di sekolah.
Ada calon fotografer yang lebih berkarakter dengan sudut pandang art berbeda, yang tentu ilmunya bukan dari sekolah ini.”

Penggalan kalimat itu tercantum dalam surat yang diberikan kepada orangtua siswa, tepat sehari sebelum pengumuman kelulusan di SD Islam Al-Bina Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, Senin (10/6/2019). Aksi serupa sebelumnya juga pernah dilakukan oleh Kepala Sekolah SD Mutiara Persada, Bantul, Yogyakarta, saat kelulusan di tahun 2018 lalu.


Kedua kepala sekolah hebat itu meniru surat yang lebih dulu diedarkan oleh sebuah sekolah di Singapura pada 2018. Mereka berupaya membesarkan hati orangtua berapa pun nilai yang diraih anaknya. Dan, yang paling penting, agar rasa percaya diri dan harga diri anak tidak dirampas hanya karena nilai yang tidak sesuai harapan orangtua.

Surat tersebut ditutup dengan sebuah kalimat yang mendobrak standar umum kesuksesan yang disematkan masyarakat: “Dan mohon, berhentilah berpikir bahwa hanya dokter, insinyur, pegawai negeri, atau polisi dan tentara yang bahagia di dunia ini.”

SD Islam Al-Bina Masohi dan SD Mutiara Persada hanya sedikit contoh dari sekian institusi pendidikan yang mulai sadar bahwa tiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda. Tingkatan kecerdasan mereka tak bisa diukur hanya dengan beberapa mata pelajaran saja, apalagi dikompetisikan dengan lingkup sebatas jumlah siswa di kelas.

Taman Kreativitas Anak Indonesia adalah contoh lain sekolah yang sudah menerapkan pendidikan multiple intelligence (kecerdasan majemuk). Pemiliknya, Psikolog Rose Mini, atau lebih akrab dipanggil Bunda Romi, mengolaborasi kurikulum dari Dinas Pendidikan dengan konsep kecerdasan majemuk rancangannya sejak pertama kali sekolah dibuka pada 2002.

“Saya tanamkan pada orangtua bahwa sistem peringkat tak selalu membuat anak berhasil di masyarakat. Itu nyata dan ada penelitiannya,” katanya ketika berbincang bersama Tirto.


Setiap periode tertentu, Romi akan mengumpulkan para orangtua untuk mengikuti kelas. Di dalam kelas itu, ia akan memberi informasi soal sistem belajar-mengajar serta pemahaman konsep kecerdasan majemuk. Taman Kreativitas Anak Indonesia tidak menerapkan sistem Pekerjaan Rumah (PR) yang memberatkan siswa.

“Paling mereka kita suruh ukur badan orangtua dengan satuan depa atau menganalisis binatang yang ada di kebun dengan kaca pembesar. Jadi, bahan analisis dan logikanya matematikanya jalan.”

Sekolah ini cenderung memilih membekali siswanya dengan keterampilan hidup dan cara berpikir kreatif. Misalnya, mengajak siswa pergi ke pasar dengan dibekali sejumlah uang. Perjalanan mereka bisa mencoba naik beragam jenis transportasi seperti bajaj, bus, angkutan kota, atau delman. Sesampainya di pasar, mereka diminta berinteraksi dengan penjual dan membeli barang.

Dari aktivitas itu, anak diajari mengenal beragam transportasi, tempat jual beli selain supermarket, sekaligus mengaplikasikan ilmu matematikanya saat bertransaksi. Selain itu, kecerdasan interpersonal mereka juga terasah dengan berinteraksi dengan penjual. Para guru juga dituntut memiliki kreativitas, bukan hanya mengurus produk hasta karya tapi menularkan kepada siswa, cara pikir yang inovatif dan pantang menyerah.

“Meski masih ada orangtua yang minta PR, susunan peringkat, dan segala macam, tapi pada akhirnya mereka akan menyerah sama saya,” ujar Romi, sambil berkelakar.

Apa yang Dimaksud Kecerdasan Majemuk?

Hal yang menjadi dasar Romi saat mendirikan sekolah itu dibahas dalam karya H. Gardner: "Intelligence Reframed: Multiple Intelligences" (1983). Ia membagi model kecerdasan menjadi sembilan bentuk. Pertama, kecerdasan logika matematika yang meliputi kemampuan berhitung, memahami proposisi dan hipotesis, serta menyelesaikan persoalan matematika.

Tipe kecerdasan kedua menyasar kemampuan linguistik yang meliputi cara berpikir dan penggunaan bahasa. Kecerdasan spasial adalah jenis kecerdasan lain, dimana individu dengan tipe ini punya kemampuan berpikir tiga dimensi, yaitu daya khayal ruang bidang, penalaran spasial, manipulasi gambar, keterampilan grafis dan seni. Yang keempat ada kecerdasan musik, yakni kapasitas seseorang membedakan nada, ritme, dan timbre.

Jenis kecerdasan kelima menyangkut kinestetik, biasanya, anak dengan kecerdasan ini cenderung lebih aktif bergerak, menonjol di olahraga atau tari. Tipe keenam adalah kecerdasan naturalis, yakni ketika anak peka dan menyayangi alam, manusia, hewan, dan tumbuhan. Kecerdasan keenam dimiliki oleh individu yang lihai berinteraksi, disebut juga sebagai kecerdasan interpersonal.


Kecerdasan intra-personal merupakan bagian kecerdasan yang dibutuhkan untuk menyusun arah hidup. Individu yang unggul di tipe ini biasanya sering menyendiri dan berpikir, mereka punya kapasitas untuk memahami diri sendiri. Terakhir adalah kecerdasan eksistensial, memiliki kepekaan terhadap asal usul, keberadaan manusia, arti hidup, kematian, dan proses semesta. Mereka berpotensi menjadi filsuf, pemuka agama, atau ilmuwan.


Anak Anda Berhak Unggul dengan Tipe Kecerdasannya

Pola pikir orangtua yang memaksakan nilai-nilai tinggi pada hasil belajar anak merupakan produk dari sistem pendidikan usang. Ketika siswa dibungkam kekritisannya dengan metode catat buku, atau slogan ‘guru tak pernah salah’. Ketika itu, standar kepandaian anak dilihat dari mereka yang nurut perintah guru, rajin belajar, dan nilai sempurna di semua mata pelajaran.

Nyatanya, pola pikir usang ini masih bercokol kuat di masyarakat. Masih banyak orangtua yang merasa bangga ketika anak mendapat peringkat dan nilai tinggi dalam ujian. Beragam les diikuti dengan maksud menambah kemampuan anak mencerna pelajaran. Saking fokusnya, mereka lupa mempelajari dan kurang peka dengan kemampuan sang anak.

“Tekanan-tekanan tersebut bisa membentuk standar tinggi bagi anak sehingga mereka kurang bisa menerima kesalahan kecil atau kegagalan,” ungkap Jane Cindy Linardi, Psikolog dari RS Pondok Indah.

Akibatnya anak akan stres ketika mendapati potensi dirinya tidak setara dengan tuntutan orangtua. Di sisi lain, potensi asli milik si anak, justru jadi tidak terasah.




“Nah, orangtua perlu memiliki kepekaan bahwa kecerdasan itu sifatnya majemuk, bukan satu bidang saja,” kata Jane.

Jane kemudian memberikan pedoman bagi para orangtua untuk bersikap ideal dalam mendorong pendidikan anaknya. Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengevaluasi kemampuan anak melalui tes untuk mendapat gambaran kemampuan kognitif anak. Dari hasil tes tersebut, orangtua dapat melihat tipe sekolah yang cocok dan sesuai kemampuan anak.

Proses belajar anak juga harus mendapat stimulus dengan menyediakan kursus bidang yang diminati. Jika mereka gagal, hindari marah apalagi memaki. Orangtua perlu menghargai hasil yang diraih anak, sambil tetap menguatkan. Bantu anak dalam proses belajar dengan memahami kesulitan anak, ikut mempelajari, kemudian jelaskan dengan cara dan bahasa yang mudah dipahami anak.

Baca juga artikel terkait UJIAN NASIONAL atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight