Raden Saleh di Antara Diponegoro dan Para Patron Eropa

Kontributor: Christopher Reinhart, tirto.id - 4 Sep 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Lewat lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, Raden Saleh dianggap Proto-Nasionalis. Di sisi lain, ia ditemukan dan dibesarkan oleh para patron Eropa.
tirto.id - Sejak tayang perdana pada tanggal 25 Agustus 2022, sampai hari ini film Mencuri Raden Saleh masih hadir di sejumlah bioskop. Film ini mengisahkan sekelompok pemuda yang berusaha mencuri lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh.

Bagaimana sebenarnya proses kreatif di balik lukisan tersebut?

Raden Saleh Syarif Bustaman menggugat pelukisan Nicolaas Pieneman tentang peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro. Gugatan itu dilakukan selama setahun dari 1856 hingga 1857. Ia menyuarakan gugatannya lewat sebuah lukisan baru yang menjungkirbalikkan perspektif versi Pieneman. Lukisan inilah yang kemudian diberi nama Penangkapan Pangeran Diponegoro.

Lukisan Penaklukan Diponegoro (1835) karya Pieneman sarat akan simbolisme kolonial: Diponegoro yang berdiri kebingungan dan lebih rendah dari Jenderal Hendrik Merkus de Kock, angin “Eropa” yang berembus dari barat, dan bendera Belanda yang berkibar di atas gedung.

Pertama-tama, penggambaran Pieneman punya kelemahan di beberapa sisi. Bentang alam hingga etnisitas Diponegoro dan orang Jawa secara fisik kurang akurat. Pakaian Diponegoro dan pengiringnya dibuat seakan-akan menyerupai orang Persia. Rupa langit dan pepohonannya juga tidak menggambarkan Jawa.

Selain itu, di tengah zaman permulaan proyek imperialisme, tujuan utama Pieneman dapat dibaca sebagai propaganda senyap tentang superioritas Eropa terhadap Jawa yang liyan.

Raden Saleh membongkar pandangan ini. Diponegoro dilukisnya sama tinggi, bentang alamnya benar-benar melukiskan Jawa, dan—seakan menyindir—ia melukiskan orang Eropa dengan kepala yang lebih besar dari proporsi badannya.

Menurut sejarawan Peter Carey, pada lukisan itu tersembunyi simbol-simbol penggugatan senyap terhadap buto sabrang (raksasa dari seberang lautan) yang terselip di sana sini.

Saat memandu saya di Ruang Diponegoro (di Museum Sejarah Jakarta) pada 25 Juli 2022, Carey menunjukkan sosok Kolonel Jan Baptist Cleerens yang dilukis dekat tiang sebelah Diponegoro.

Berbeda dengan sosok lain yang mengarahkan pandangan mereka di dalam lukisan, Cleerens justru memandang kita. Ia mengarahkan pandangan kepada audiens lukisan.


Cleerens, Si Yudas Iskariot

Mengapa penggambaran ini penting?

Pertama-tama, menurut Carey, Cleerens sebenarnya tidak hadir, “…ia digambar di sana sebagai seorang Yudas Iskariot.” Kolonel itulah yang meyakinkan Diponegoro untuk datang ke Magelang dan berunding dengan De Kock.

Dalam Ras, Kuasa, dan Kekerasan Kolonial di Hindia Belanda, 1808–1830 (2022) karya Peter Carey dan Farish A. Noor, pertemuan itu terjadi pada 16 Februari 1830 di Remokamal, Banyumas.

Sebagai tanda percaya, Diponegoro memberikan Keris Kiai Nogo Siluman kepada Cleerens. Keris ini dikembalikan Raja Willem-Alexander pada tahun 2020 kepada Pemerintah Indonesia.

Raden Saleh mengkritisi Cleerens sebagai pembisik yang berkhianat. Ia menaruhnya di sebelah Diponegoro, mengarahkan pandangannya kepada khalayak seakan meminta refleksi. Dalam kata lain, ia dihukum oleh Raden Saleh untuk memeriksa diri terus-menerus dengan memandang khayalak.

Orang lain yang tidak berada di tempat tetapi dilukis oleh Raden Saleh adalah salah satu istri atau raden ayu Diponegoro, yang kemungkinan besar adalah Raden Ayu Retnoningsih. Sosok perempuan ini digambar duduk bersimpuh di samping Diponegoro dengan memegang baju sang pangeran.

Di samping itu, tentu saja penggambaran Diponegoro yang tegas dan gagah menjadi pantulan yang terjungkir balik dari Diponegoro yang kebingungan versi Pieneman.

Gugatan Raden Saleh dalam lukisannya akurat, “…orang-orang yang Anda lihat di sini adalah tokoh nyata, kita dapat menelusuri siapa mereka masing-masing,” jelas Carey, dan “Raden Saleh sendiri menggambarkan dirinya dalam seragam unik.”

Ia berada di antara rombongan pengikut Diponegoro dan pejabat Eropa. Ia menciptakan sendiri seragam yang digunakan di dalam lukisan karena tidak boleh memakai seragam militer Eropa. Namun, untuk menggambarkan diri sebagai Jawa sepenuhnya pun akan membohongi diri sendiri.

Oleh sebab itu, pertarungan indentitas Raden Saleh terlukis dalam dirinya sebagai makhluk berbudaya setengah-setengah yang ia letakkan di antara orang Eropa dan orang Jawa.


Raden Saleh sebagai Proto-Nasionalis

Setelah lukisannya yang diberi judul Penangkapan Diponegoro (1857) selesai, Raden Saleh menghadiahkan karya itu secara pribadi kepada Raja Willem III.

Sejarawan seni Werner Kraus dalam “Raden Saleh’s Interpretation of the Arrest of Diponegoro: An Example of Indonesian ‘proto-nationalist’ Modernism” (2005) berpendapat, kematian Diponegoro pada 1855 boleh jadi menjadi pemicu kerja seni Raden Saleh untuk mendekonstruksi lukisan Pieneman.

Mungkin tanpa sadar maksud aslinya, lukisan ini dijadikan koleksi kerajaan dan dipajang di Istana Het Loo, Istana Huis ten Bosch, serta Istana Bronbeek sebelum akhirnya diserahkan kepada Presiden Soeharto oleh Ratu Juliana dalam kunjungannya ke Indonesia pada 1976.

Di mata pengamat dan peneliti kiwari, lukisan itu adalah suara awal nasionalisme Indonesia yang ingin ditunjukkan Raden Saleh.

Apakah pandangan itu benar?

Kita harus meletakkan wajah dunia pada saat itu dan riwayat Raden Saleh ke atas timbangan untuk menjawabnya. Namun, untuk permulaan, terlihat jelas bahwa lukisan itu memang menyuarakan penolakan atas simbol-simbol kolonial.

Setidaknya, terlihat bahwa suasana lukisan sengaja dibuat tanpa embusan angin dan pada waktu peralihan—entah menuju pagi atau menuju sore. Bangunan tempat perundingan terlihat pula tanpa bendera. Ini adalah bentuk protes dari angin kolonialisme yang berembus kuat dari barat—mengibarkan bendera Belanda—pada lukisan Pieneman.


Infografik Mozaik Raden Saleh
Infografik Mozaik Raden Saleh. tirto.id/Tino

Patron-Patron Eropa Raden Saleh

Seperti yang ditulis Cees van Dijk dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600–1950 (1986), pertemuan Raden Saleh dengan pekerjaan yang akan mengubah hidupnya tampak sebagai sebuah kebetulan.

Kebetulan yang menguntungkan Raden Saleh itu berawal dari ekspedisi Antoine Auguste Joseph Payen, pelukis kelahiran Belgia, di Hindia Belanda pada mula pendirian negara kolonial (sekitar 1820-an).

Tiket Payen untuk berkarier di Hindia saat itu diberikan oleh Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt, pendiri dan kepala pertama Kebun Raya Bogor. Tugas kelembagaan dan minat akademik Reinwardt membuatnya harus mengeksplorasi Jawa.

Pada masa prakamera itu, Reinwardt membutuhkan bantuan pelukis untuk merekam temuan-temuannya. Di sini, peran Payen sangat penting. Tim mereka juga diperkuat dengan Adrianus Johannes Bik—yang menggambar sketsa wajah Diponegoro semasa ia bertugas menjadi hakim di Batavia—dan J. Th. Bik.

Raden Saleh merupakan bangsawan keturunan bupati di Semarang. Waktu ia berusia 12 atau 15 tahun (1820-an, sekitar Perang Jawa), pertemuan yang menentukan antara ia dan Payen terjadi.

Payen dan rombongan singgah di kediaman Residen Priangan Robert van der Capellen dan bertemu dengan Raden Saleh yang juga singgah di situ. Terpukau dengan bakat artistik Raden Saleh, Payen mengangkatnya menjadi murid. Raden Saleh pun beberapa kali ikut Payen dalam ekspedisi menggambar.

Karier profesional Raden Saleh sebagai pelukis dimulai di bawah naungan Payen. Namun, di samping pelukis Belgia itu, banyak petinggi kolonial Hindia yang juga menaruh minat kepada pemuda berbakat ini.

Di antara orang banyak itu, ada Residen Van der Capellen—yang merekomendasikan Raden Saleh kepada saudaranya, Gubernur Jenderal Godert van der Capellen; inspektur keuangan Jean Baptiste de Linge; dan bahkan gubernur jenderal yang kelak menjadi menteri jajahan Jean Chrétien Baud.

Di samping itu, Profesor Reinwardt juga turut andil dalam menyukseskan pemberian beasiswa bagi Raden Saleh untuk studinya ke Eropa.

Ia merupakan orang paling depan dalam barisan mahasiswa Hindia yang mendapat pendidikan modern di Eropa. Namun, kenyataan ini juga yang meletakkan Raden Saleh dalam posisi yang cukup sulit.

Baca juga artikel terkait PANGERAN DIPONEGORO atau tulisan menarik lainnya Christopher Reinhart
(tirto.id - Politik)

Kontributor: Christopher Reinhart
Penulis: Christopher Reinhart
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight