Pusara Digital COVID-19: Cara Masyarakat Hormati Nakes Yang Gugur

Oleh: Alfian Putra Abdi - 6 September 2020
Dibaca Normal 1 menit
Pusara Digital merupakan monumen peringatan tragedi kesehatan ini dengan cara menuliskan kisah hidup para tenaga kesehatan yang gugur.
tirto.id - Koalisi Warga untuk Lapor COVID-19 meluncurkan Pusara Digital untuk mengenang para tenaga kesehatan yang meninggal dunia akibat COVID-19. Pusara Digital dapat diakses melalui https://nakes.laporcovid19.org/.

Ketua Umum Jurnalis Bencana dan Krisis (JBK) sekaligus relawan Lapor COVID-19, Ahmad Arif mengatakan Pusara Digital merupakan upaya mencatat tragedi kesehatan ini dengan cara menuliskan kisah hidup para tenaga kesehatan yang gugur.

"Pusara Digital kami harapkan menjadi semacam museum pengetahuan, tempat kita mengingat dan berefleksi tentang mereka yang gugur," ujarnya dalam webinar peluncuran Pusara Digital, Sabtu (5/9/2020).

Pusara Digital menyediakan ratusan kisah tenaga kesehatan—dokter dan perawat—yang meninggal dunia saat bertugas melayani pasien COVID-19.

Setiap kisah dikumpulkan relawan dari media massa, media sosial, dan wawancara eksklusif bersama keluarga yang ditinggalkan. Ada pula pihak keluarga yang menuliskannya sendiri.

Upaya mendokumentasikan berpegang pada panduan WHO 11 April 2020, bahwa korban Covid-19, selain yang telah terkonfirmasi melalui tes molekuler juga termasuk orang yang diduga terpapar virus berdasarkan gejala klinis. Hal ini dikecualikan jika ada penyebab lain yang sudah terbukti tak terkait Covid-19, misalnya benturan.

"Tapi kedepannya kami harap—dengan kontribusi masyarakat luas—kita bisa dokumentasikan seluruh korban," ujarnya.

Arif juga mengajak untuk masyarakat berpartisipasi, dengan cara menginformasikan mengenai keluarga atau rekan sejawat/tenaga kesehatan meninggal terkait Covid-19 bisa disampaikan juga lewat ChatBot laporcovid di nomor 0812-9314-9546.

Per 5 September 2020, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat sudah genap 105 dokter yang gugur. Sementara Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) mencatat 77 perawat yang meninggal dunia akibat COVID-19.

Ketua Umum PPNI Harif Fadillah mengatakan sudah menjadi risiko dari profesi perawat. Ia berterimakasih atas inisiatif pendirian Pusara Digital untuk mengenang jasa para perawat yang gugur.

"Semoga ini jadi momentum mengingat jasa-jasa mereka yang telah berjuang, sekaligus pengingat bagi kita yang masih hidip untuk tetap waspada dan selalu disiplin dalam mengabdi pada kemanusiaan," ujarnya pada kesempatan tersebut.

Ketua Satuan Tugas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban juga mendukung inisiatif Pusara Digital sebagai bentuk mengapresiasi para pahlawan kesehatan yang telah gugur. Sekaligus mengingatkan kepada masyarakat agar mematuhi protokol kesehatan sebab jumlah nakes kian berkurang.

"Dengan makin banyak yang meninggal dan sakit, waktu yang diperlukan, jam kerja jadi berat bagi nakes yang hidup," ujarnya pada kesempatan yang sama.

Dokter Spesialis Paru Eva Sri Diana yang berkesempatan memberikan testimoni untuk para sejawatnya, berharap dengan banyaknya dokter dan nakes yang meninggal maka masyarakat dan pemerintah memahami beban mereka. Ia berharap masyarakat turut meringankan beban para dokter dengan taat protokol kesehatan dan tidak berpikir negatif.

"Ratusan nakes yang gugur bukan konspirasi kami para dokter dan nakes, itu fakta yang harus kita hadapi. Tolong jangan musuhi kami di lapangan. Kami juga takut COVID-19," ujarnya.

Ia juga berharap pada pemerintah agar para dokter dan nakes yang masih hidup beserta keluarganya diberikan kemudahan dalam berobat.

"Jujur kami yang sakit ini untuk berobat susah, swab saja berbayar. Padahal kami yang berisiko terpapar," tandasnya.


Baca juga artikel terkait TENAGA MEDIS CORONA atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Restu Diantina Putri
DarkLight