Presiden Jokowi Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Q3 Minus Tiga Persen

Oleh: Andrian Pratama Taher - 2 November 2020
Dibaca Normal 1 menit
Untuk itu, Jokowi ingin agar seluruh jajaran memberikan pesan positif jika angka pertumbuhan ekonomi tetap minus sesuai prediksi pemerintah.
tirto.id - Presiden Joko Widodo meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia akan minus pada kuartal ketiga tahun 2020, yakni berada di sekitar minus 3 persen. Untuk itu, Jokowi ingin agar seluruh jajaran memberikan pesan positif jika angka pertumbuhan ekonomi sesuai prediksi pemerintah.

Dalam rapat sidang paripurna kabinet yang digelar di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (2/11/2020), Presiden Jokowi menyinggung soal pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada triwulan kedua, pertumbuhan ekonomi Indonesia jatuh pada minus 5,32 persen. Angka ini lebih rendah daripada kuartal pertama yang berada pada 2,97 persen. Jokowi pun memberikan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal ketiga masih minus.

"Di kuartal 3 kita juga mungkin sehari-dua hari ini akan diumumkan oleh BPS juga masih berada di angka minus. perkiraan kita di angka minus 3. Naik sedikit," kata Jokowi, Senin.

Jokowi pun menyebut, angka minus 3 persen jauh lebih baik daripada pertumbuhan ekonomi dunia. Setidaknya, dalam pandangan mantan Walikota Solo itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak lebih rendah daripada kuartal kedua. Oleh karena itu, Jokowi ingin agar pesan positif pertumbuhan ekonomi lebih baik jadi penekanan jajaran kabinet.

"Jadi kuartal yang ketiga minus 3 lebih sedikit dan itu adalah trennya membaik, trennya positif. Ini yang harus ditekankan nanti kalau ada pengumuman di BPS. Trennya membaik, trennya positif dari 5,32 minus menjadi minus 3 koma sekian," tutur Jokowi.

Sebagai catatan, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang diprediksi negatif di kuartal ketiga pemerintahan Jokowi-Maruf Amin pada tahun 2020. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2020 Indonesia akan terkontraksi minus 2,9-1% melengkapi kondisi Q2 yang terkontraksi 5,3%. Kontraksi dua kuartal berturut-turut membuat Indonesia resmi memasuki jurang resesi.

Situasi ini merupakan situasi pertama setelah 22 tahun reformasi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia terburuk dalam 22 tahun terakhir terjadi pada saat krisis 2009 yang menyebabkan pertumbuhan melambat menjadi 4,6%.

Resesi sendiri terakhir dialami pada 1998. Saat itu Q1 terjadi kontraksi 4,88% dan Q2 kontraksi 13,47%. Kontraksi bahkan berlanjut hingga akhir 1998 dan Q1 1999 di angka 6,41%.

Pemerintah pun memprediksi potensi lonjakan pengangguran. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan jumlah penganggur mencapai 10,7-12,7 juta di awal 2021. Artinya, ada kenaikan dari posisi Februari 2020 yang hanya 6,88 juta.

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan jumlah penganggur 2020 mencapai 13,3 juta. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperkirakan tahun 2020 ada 17 juta penganggur.




Baca juga artikel terkait PERTUMBUHAN EKONOMI atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Restu Diantina Putri
DarkLight