Prabowo Subianto dan Barisan Purnawirawan di Partai Gerindra

Oleh: Petrik Matanasi - 12 Juli 2019
Dibaca Normal 2 menit
Prabowo memberdayakan dukungan para purnawirawan. Mereka aktif di Gerindra dan banyak memegang jabatan penting dalam partai.
tirto.id - Setelah pencoblosan berlangsung, para purnawirawan pendukung Prabowo begitu yakin capres yang mereka dukung terpilih menjadi Presiden RI. Dalam sebuah video, terekam adegan bagaimana mereka memberi selamat kepada Prabowo sambil melakukan hormat ala tentara dan berucap "Siap, Presiden."

Belum ada partai yang punya sayap purnawirawan sesemangat Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Persatuan Purnawirawan Indonesia Raya (PPIR), yang dipimpin Mayor Jenderal (purnawirawan) Musa Bangun, sudah membuktikan diri sebagai legiun veteran yang begitu militan mendukung Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto Djojohadikusumo maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2019.

Para purnawirawan yang berada di belakang Prabowo bukan cuma junior atau bawahannya, tapi juga seniornya, bahkan bekas komandannya pun ada.

Konco dari Lembah Tidar

"Komandan kamu di lapangan yang pertama itulah komandan yang akan memengaruhi kamu seumur hidup," kata Jenderal Yogi S. Memet.

Ucapan jenderal baret merah ini diingat Prabowo. Dan perwira penting yang jadi komandan pertama Prabowo adalah laki-laki asal Rappang bernama Muhammad Yunus Yosfiah. Sedari muda di Kopassus, Yunus adalah perwira yang bisa membereskan masalah. “[Yunus] perwira berwatak keras, tegas dan lurus," aku Kiki Syahnakri dalam Timor Timur The Untold Story (2013: 45).

Yunus kini merupakan salah satu purnawirawan yang mendukung penuh Prabowo untuk maju menjadi Presiden RI.


Senior Prabowo yang paling kesohor, tapi bukan dari baret merah, tentunya Kivlan Zen. Di masa lalu, senior Prabowo yang dekat tak hanya Kivlan Zen, ada juga Ismed Yuzairi Chaniago. Keduanya sama-sama lulusan Akabri tahun 1971, dan sama-sama berpangkat terakhir mayor jenderal. Hanya saja Ismed sudah tutup usia pada 2005. Kivlan kini jadi tersangka kasus makar bersama mantan Danjen Kopassus Mayor Jenderal (purnawirawan) Soenarko, Akabri Angkatan 1978.

Prabowo Subianto masuk Akabri Magelang bersama-sama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Judi Magio Jusuf, dan Glenny Kairupan. Glenny dan Judi lulus tahun 1973 bersama SBY, tapi tidak bersama Prabowo. Namun di Pilpres 2019 mereka bersama lagi untuk mendukung Prabowo.

Prabowo lulus dari Akabri Magelang di tahun 1974 bersama dua pemuda yang dalam 10 tahun belakangan jadi orang penting di Kementerian Pertahanan, Ryamizard Ryachudu dan Sjafrie Sjamsoeddin. Jusuf Wanandi dalam Menyibak Tabir Orde Baru (2014: 377) menyebut Sjafrie, yang pernah jadi ajudan Soeharto, lebih dipercaya Soeharto ketimbang Prabowo.

Dua tahun di bawah Prabowo ada juga Letnan Jenderal (purnawirawan) Johannes Suryo Prabowo, yang punya hubungan kekerabatan dengan keluarga Cendana. Dialah “Macan Sosmed” Prabowo di Twitter, Facebook, dan Instagram.


Jauh bertahun-tahun di bawah Prabowo, tentu saja ada bekas bawahannya di Kopassus, Mayor Jenderal (purnawirawan) Chairawan Kadarsyah Nusyirwan dan Kolonel (purnawirawan) Fauka Noor Farid. Dua orang itu adalah bekas anggota Tim Mawar.

Pendukung penting di antara barisan purnawirawan itu tentunya Jenderal (purnawirawan) Djoko Santoso. Lulusan Akabri 1975 ini pernah menjadi Panglima TNI 2007-2010, di zaman kepresidenan SBY. Kini dia masuk lingkaran Prabowo. Kehadirannya tentu menambah kesangaran bagi PPIR, dan tentunya Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.


Di Luar Lembah Tidar

Kolega pendukung Prabowo tidak hanya dari kalangan jenderal, tapi banyak yang berpangkat di bawah jenderal. Di PPIR, ada 300-an jenderal dan setidaknya tergabung pula para purnawirawan TNI (semua matra) dan Polri. Para jenderal itu tidak hanya dari Angkatan Darat, tapi juga Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Kepolisan.

Dari Angkatan Laut ada Laksamana (purnawirawan) Tedjo Edhy Purdijanto, yang pernah jadi menteri dalam kabinet Presiden Jokowi di awal-awal berkuasa. Mantan Kepala Staf Angkatan Laut periode 2008-2009 ini pernah setahun (dari 27 Oktober 2014 hingga 12 Agustus 2015) menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukkam). Tedjo waktu itu bernaung di Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Dia kemudian hijrah ke partai yang terobsesi kembali era Soeharto, Partai Berkarya.

Infografik Barisan Purnawirawan Prabowo
Infografik Barisan Purnawirawan Prabowo. tirto.id/Sabit


Ada pula jenderal Angkatan Laut lain, yaitu Laksamana Madya (purnawirawan) Moekhlas Sidik. Dia ikut Gerindra dari 2012. Dia menjadi Ketua Harian Gerindra yang membantu tugas Ketua Umum merangkap Ketua Dewan Pembina, Prabowo Subianto.

Dari Angkatan Udara, ada Marsekal (purnawirawan) Imam Sufaat. Dia adalah Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) dari 17 November 2009 hingga 17 Desember 2012.

Dari jajaran kepolisan, ada Komisaris Jenderal (purnawirawan) Sofyan Jacob. Mantan Kepala Kepolisan Daerah Jakarta Raya ini sekarang jadi tersangka kasus makar, terkait kerusuhan 22 Mei 2019. Bukan kali ini saja Jacob dapat tuduhan macam itu. Di zaman Gus Dur, bersama Suroyo Bimantoro, Jacob pernah akan diciduk karena membangkang kepada presiden. Jacob pun pada 2001 memilih mundur dari kepolisian.

Prabowo tampaknya belajar dari mertuanya, Jenderal Besar Soeharto, soal pentingnya memelihara (hubungan dengan) mantan jenderal. Apalagi dalam usaha memenangkan pertarungan politik. Bukan hanya lingkaran dekat yang sudah lama dijalin, mendekati yang lain pun juga perlu. Itulah kenapa PPIR harus ada.

Baca juga artikel terkait PARTAI GERINDRA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan