Menuju konten utama
Pandemi COVID-19

Potensi Blunder Pemerintah: Mau Buka Wisata saat Corona Belum Reda

Rencana pemerintah untuk membuka kembali pintu pariwisata selebar-lebarnya di akhir tahun 2020 berpotensi membawa masalah.

Potensi Blunder Pemerintah: Mau Buka Wisata saat Corona Belum Reda
Petugas membersihkan area Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang sepi pengunjung di Badung, Bali, Sabtu (21/3/2020). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/nym/hp.

tirto.id - Di tengah kecamuk pandemi COVID-19, pemerintah pusat melempar wacana untuk kembali membuka pintu pariwisata bagi turis asing. Rencana ini diucapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yang menilai Indonesia perlu mengambil peluang saat negara penyumbang wisatawan asing seperti Cina sudah mulai pulih dari COVID-19.

Luhut yakin banyak turis dari negara itu mau segera berwisata dan karena itu, ia sudah menyiapkan daerah wisata seperti Bali untuk menyambutnya. Sebagai antisipasi ia juga mengaku telah menyiapkan pengetesan COVID-19 yang lebih baik lagi dengan menggandeng universitas ternama.

“Kita harus lihat kalau Cina recovery cepat. Kan, sekarang sudah mulai, Korea Selatan-Jepang dalam 1-2 bulan ini, tentu turis mereka sudah mau keluar stress selama ini,” ucap Luhut dalam siaran live di akun Kemenkomarves, Selasa (14/4/2020).

Bak gayung bersambut, dua hari setelahnya Presiden Joko Widodo optimistis wabah COVID-19 tak akan melanda Indonesia hingga akhir tahun. Ia meyakini pariwisata sudah bisa kembali bergairah di kuartal IV 2020 dan berlanjut ke tahun berikutnya.

Karena itu, ia meminta jajarannya membangun kembali pariwisata dan tak membiarkan dampak COVID-19 berujung pada PHK pekerja di sektor tersebut “Tahun depan akan terjadi booming di bidang pariwisata," kata Jokowi dalam rapat via teleconference, Kamis (16/4/2020).

Ariyo Dharma Pahla, peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai optimisme tersebut terlalu berlebihan dan sangat mungkin meleset. Menurutnya, sektor pariwisata belum dapat diandalkan untuk tahun 2020 dan pemerintah perlu berpikir ulang untuk membuka pintu lebar-lebar bagi wisatawan asing.

Jika dipaksakan maka taruhannya keselamatan masyarakat dan nyawa pekerja di daerah tujuan wisata agar jangan sampai terpapar COVID-19. “Pandangan itu saya rasa terlalu optimis sebab perkembangan penemuan vaksin juga membutuhkan waktu,” ucap saat dihubungi reporter Tirto, Selasa (21/4/2020).

Lagi pula, pemulihan pariwisata sangat bergantung pada bagaimana pemerintah menekan penyebaran COVID-19. Sementara hingga saat ini, pemerintah belum punya "gebrakan" dalam pengendalian wabah dan pasien positif COVID-19 terus mengalami eskalasi.

Di sisi lain, ia menilai perlunya jeda waktu untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi di akhir tahun dengan memprioritaskan sektor-sektor yang dapat mengkatrol daya beli masyarakat.

Kalau pun pemerintah memaksakan sektor pariwisata kembali normal, masih ada risiko pembatasan gerak berbagai negara dan layanan penerbangan. Alhasil upaya itu bisa sia-sia karena pandemi di dunia belum menunjukkan tanda berakhir dalam waktu dekat.

Pariwisata Belum Pulih

Peneliti pariwisata dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Muhammad Baiquni, juga melihat kecilnya kemungkinan pariwisata Indonesia akan kembali pulih. Sebabnya, banyak turis asing yang telah membatalkan pesanan paket perjalanannya ke Indonesia hingga akhir tahun 2020.

Selain itu, daerah wisata belum tentu siap menghadapi kedatangan turis saat mereka sendiri masih berusaha bangkit dari kondisi krisis. Menurut Baiquni, banyak pula daerah yang perlu menata ulang wilayahnya sebagai destinasi pariwisata.

Di luar itu, kata Baiquni, pemerintah juga perlu mengevaluasi minimnya multipler effect pariwisata terhadap kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, kurang adil bila masyarakat sekitar tempat pariwisata seperti pelaku UMKM dan pengusaha lokal tidak ikut sejahtera.

“Turis belum tentu mau ke Indonesia. Saya tanya teman-teman Bali. ‘Itu blunder’ kata mereka. Jadi benahi dulu sebagai bangsa mengelola usaha dan kemandirian ekonomi,” ucap Baiquni saat kepada Tirto, Selasa (21/4/2020).

Anggota Kelompok Ahli Gubernur Bali Cipto Gunawan mengatakan, daerahnya sendiri belum punya wacana kapan pariwisata akan kembali dibuka. Cipto, yang juga pelaku usaha di segmen diving, menyatakan, Pemprov Bali masih fokus pada penanganan krisis COVID-19.

Kalau pun provisinya ingin kembali dibuka sebagai salah satu destinasi prioritas, hal itu hanya memungkinkan jika pandemi dinyatakan berakhir. Di samping itu, Bali juga punya masih perlu menjalankan rencana pemulihan pariwisata selama 3 bulan dengan mempromosikan paket-paket wisata yang dapat menarik para pelancong baik dalam maupun luar negeri.

Setelahnya, masih ada lagi fase normalisasi 6-12 bulan sejak masa pemulihan untuk memperbanyak kegiatan wisatawan dan swasta agar bisa sebaik dulu.

“Selama pandemi masih berlangsung saya yakin baik pemerintah maupun pengusaha di Bali lebih mementingkan keselamatan masyarakat Bali dari pada yang lainnya,” ucap Cipto saat dihubungi Tirto, Selasa (21/4/2020).

Baca juga artikel terkait PARIWISATA atau tulisan lainnya dari Vincent Fabian Thomas

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Hendra Friana