Perbedaan Hari Guru Nasional 25 November & Hardiknas Tanggal 2 Mei

Oleh: Yuda Prinada - 24 November 2021
Dibaca Normal 1 menit
Hari Guru Nasional dan Hari Pendidikan Nasional memiliki latar belakang yang berbeda, meski tujuan penetapannya sama. Berikut ini sejarahnya.
tirto.id - Hari Guru Nasional diperingati setiap tanggal 25 November. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap tanggal 2 Mei. Apa perbedaan Hari Guru Nasional dan Hardiknas, dua hari perayaan pendidikan Indonesia tersebut?

Hari Guru Nasional dan Hardiknas memiliki latar belakang yang berbeda, meski tujuannya sama. Perlu diketahui, tanggal 25 November juga bertepatan dengan Hari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Berikut ini sejarahnya.

Sejarah Hari Guru Nasional


Pemberian makna terhadap hari dalam setiap tahun ini memiliki latar belakang sejarah yang berbeda. Sejarah Hari Guru Nasional, misalnya, berkaitan erat dengan peristiwa lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November 1945.


Laman resmi PGRI menyebutkan bahwa pada 1912, guru-guru pribumi telah memiliki organisasi perjuangan yang bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Seluruh elemen pengajar masuk dalam organisasi ini, mulai dari para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah.

Namun, berkembangnya organisasi PGHB memicu kemunculan organisasi-organisasi baru seperti Persatuan Guru Bantu (PGB), Perserikatan Guru Desa (PGD), Persatuan Guru Ambachtschool (PGAS), Perserikatan Normaalschool (PNS), Hogere Kweekschool Bond (HKSB).

Lalu, terdapat organisasi guru yang bercorak keagamaan, kebangsaan, atau lainnya seperti Christelijke Onderwijs Vereneging (COV), Katolieke onderwijsbond (KOB), Vereneging Van Muloleerkrachten (VVM), dan Nederlands Indische Onderwijs Genootchap (NIOG) yang beranggotakan semua guru tanpa membedakan golongan.

Tahun 1932, dikutip dari buku Sejarah Singkat Persatuan Guru Republik Indonesia (2020), sebanyak 32 Organisasi guru yang berbeda latar belakangnya memutuskan untuk bersatu dan mengubah nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI).

Belanda terkejut menanggapi hal tersebut karena kata “Indonesia” dalam organisasi melambangkan semangat kebangsaan. Bahkan, pada zaman Jepang organisasi PGI tidak dapat melakukan aktivitasnya karena dilarang.

Pada 17 Agustus 1945, Indonesia merdeka. Setelah itu, tanggal 23-25 November diadakan Kongres Guru Indonesia di Surakarta. Hari terakhir kongres tercetuslah kelahiran PGRI.

Hingga saat ini, tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional setiap tahunnya.


Sejarah Hari Pendidikan Nasional


Berbeda dengan Hari Guru Nasional, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) memiliki latar belakang yang berbeda, yaitu dari kiprah Bapak Pendidikan Nasional dan pahlawan nasional, Ki Hajar Dewantara.

Hardiknas yang diperingati setiap 2 Mei merujuk pada tanggal lahir Ki Hajar Dewantara yakni 2 Mei 1889. Ki Hajar Dewantara lahir dari keluarga Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.

Ia mengenyam pendidikan di ELS (Sekolah Dasar Belanda), lalu ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) di Batavia. Semasa muda, Soewardi dikenal sebagai jurnalis dan aktivis pergerakan nasional.

Soewardi banyak mengkritik pemerintah Belanda terkait pendidikan di Indonesia yang hanya diperbolehkan untuk keturunan Belanda dan orang-orang kaya melalui tulisan-tulisannya.

Kritik ini membuat Soewardi diasingkan ke Belanda sejak 1913 dan baru dipulangkan pada 6 September 1919. Setelah itu, ia mendirikan perguruan Taman Siswa di Yogyakarta dan mengubah namanya menjadi Ki Hajar Dewantara.

Salah satu filosofi terkenal yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah “Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani” yang berarti “Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan”.

Ki Hajar Dewantara wafat pada 28 April 1959. Atas segala jasanya, tanggal lahir pendiri Taman Siswa ini ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tahunnya.


Baca juga artikel terkait HARI GURU NASIONAL atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight