Menuju konten utama
18 Juli 1936

Perang Sipil Spanyol Pecah Mengantar Diktator Franco ke Kekuasaan

Perang Sipil Spanyol meletus 86 tahun lalu. Ini adalah pertarungan klasik antara sayap kiri dan sayap kanan.

Perang Sipil Spanyol Pecah Mengantar Diktator Franco ke Kekuasaan
Header Mozaik Perang Sipil Spanyol. tirto.id/Fuad

tirto.id - Spanyol adalah tanah yang identik dengan berbagai pemberontakan, dari mulai revolusi sayap kiri sampai kediktatoran fasis. Kedua spektrum ideologi itu bahkan berhadap-hadapan dalam perang sipil yang terjadi pada dekade 1930-an.

Akar Perang Sipil Spanyol bisa ditarik sampai akhir abad ke-19, ketika pecah pemberontakan terhadap latifundia atau para tuan tanah. Sistem feodal memang menimbulkan ketidakadilan bagi masyarakat kelas bawah. Puncaknya ialah saat dua pimpinan monarki, Ratu Isabella II dari Dinasti Bourbon dan Raja Amadeo I dari Dinasti Savoy, turun dari takhta.

Setelah itu Republik Spanyol Pertama berdiri mulai 11 Februari 1873. Namun Republik Pertama yang diproklamasikan oleh para anggota parlemen hanya berumur singkat, sampai 29 Desember 1874. Mereka digulingkan dan monarki kembali dipulihkan.

Negara terus bergejolak. Perlawanan terhadap monarki terus dilakukan oleh republik, sosialis, anarkis, juga nasionalis dari Basque dan Catalonia. Pada 1909, terjadi serangkaian konfrontasi karena kemiskinan akut dan terutama kebijakan pemerintah menggaet warga untuk menjadi tentara di tanah kolonial.

Gejolak mulai muncul lagi pasca-Perang Dunia Pertama. Kelas pekerja dibantu oleh sebagian militer berupaya membersihkan pemerintahan yang korup tapi tidak berhasil. Tak lama berselang, kudeta militer pecah. Seorang perwira bernama Miguel Primo de Rivera berkuasa pada 1923.

Karena menjalankan pemerintahan dengan kediktatoran militer, dukungan terhadap penguasa baru perlahan memudar. Miguel Primo de Rivera akhirnya mengundurkan diri pada Januari 1930. Tampuk kekuasaan kini berada di tangan Raja Alfonso XIII. Tapi kekuasaannya pun hanya seumur jagung.

Satu tahun kemudian berdirilah Republik Kedua. Fase terakhir dari Republik Kedua sebelum pecah Perang Sipil adalah pemerintahan Front Populer, terdiri dari dan didukung oleh aliansi kiri, yang menang pemilu 1936.

Dalam buku The Battle for Spain: The Spanish Civil War 1936-1939, Antony Beevor menjelaskan Perang Sipil Spanyol merupakan puncak polarisasi politik yang telah berkembang selama beberapa dekade antara kaum republik dengan kaum nasionalis. Kaum republik terdiri dari pekerja, buruh tani, kelas menengah terdidik, dan kelompok kiri secara luas; sementara kelompok nasionalis adalah orang-orang kanan, dari mulai militer, gereja, aristokrat konservatif, dan abdi monarki.

Api mulai berkobar tatkala deklarasi melawan pemerintahan republik yang saat itu dipimpin Presiden Manuel Azaña dikumandangkan oleh sekelompok perwira angkatan bersenjata. Mereka semula tunduk pada Jenderal José Sanjurjo, tapi setelah ia tewas karena kecelakaan udara, kepemimpinan diambil oleh Jenderal Francisco Franco.

Mengutip laman History, pada 18 Juli 1936 atau tepat 86 tahun yang lalu, Perang Saudara Spanyol pecah. Awalnya adalah pemberontakan perwira sayap kanan di Maroko--yang saat itu dikuasai Spanyol--sampai menyebar ke negara itu sendiri. Franco kemudian menyebarkan pesan agar perwira lain turut serta menggulingkan pemerintahan sayap kiri.

Kudeta didukung oleh tentara di Pamplona, Burgos, Zaragoza, Cádiz, Córdoba, dan Sevilla. Namun, itu saja tak cukup karena kota-kota penting seperti Madrid, Barcelona, Valencia, Bilbao, dan juga Malaga masih berada di bawah kendali pemerintah.

Pasukan nasionalis juga mendapatkan bantuan dari rekan fasis mereka dari luar negeri seperti Jerman serta Italia. Sedangkan pihak republik memperoleh dukungan dari Uni Soviet (Komintern mendirikan Brigade Internasional yang terdiri dari tak kurang 60 ribu orang), Meksiko, serta Brigade Lincoln dari Amerika Serikat.

Nasionalis mulai mendapat kemenangan pada 1937. Mereka perlahan menduduki garis pantai utara. Pada Juni 1938 mereka berhasil memotong wilayah republik menjadi dua. Januari 1939 Franco berhasil merebut Barcelona. Catalonia jatuh.

Pada 29 Maret 1939, Partai Republik akhirnya menyerah. Mereka menyerahkan Madrid. Perang Sipil usai dengan kemenangan kelompok nasionalis pimpinan Franco.

Jumlah korban dalam Perang Sipil tidak dapat dipastikan secara akurat. Namun banyak yang menyebutkan sekitar 500 ribu sampai 1 juta orang. Ini tidak hanya mereka yang tewas dalam pertempuran, tetapi juga yang gugur dalam pengeboman, eksekusi, dan pembunuhan serta kekurangan gizi, penyakit, dan kelaparan.

Ribuan orang yang dianggap pendukung republik juga diasingkan.

Paul Preston lewat buku The Spanish War: Reaction, Revolution and Revenge (2006) menerangkan meski Perang Sipil sering digambarkan sebagai usaha penahbisan antara demokrasi dan fasisme, namun sejarawan lebih menganggapnya sebagai pertarungan antara revolusi sayap kiri dan revolusi sayap kanan. Apa pun itu, jalan perang dimenangkan kaum nasionalis dan Franco memegang kendali pemerintahan selama 36 tahun ke depan.

Tumbuhnya Kediktatoran

Nasionalisme versi Franco bertumpu pada otoritarianisme. Sebagaimana dicatat Stanley Payne dalam The Franco Regime, 1936-1975 (2011), semua aspek kehidupan berada di cengkeramannya.

Dari segi administrasi pemerintahan, Franco menolak memberlakukan segala bentuk desentralisasi. Ia menghapuskan otonomi dari kamus pribadinya dan mempertahankan pemerintahan terpusat dengan administrasi di bawah kontrol Dinasti Bourbon.

Hal ini berdampak pada timpangnya kesejahteraan daerah pusat dan pinggiran. Madrid, Catalonia, dan Basque bernasib jauh lebih baik dibanding, misalnya, Galicia atau Andalusia.

Penyeragaman budaya adalah konsekuensi kedua dari sentralisasi ala Franco. Ia mengontrol semua macam budaya dan kesenian dengan penyensoran yang sering kali kelewatan. Di sisi lain ia mengenalkan tradisi banteng dan flamenco sebagai tradisi nasional. Dalam Fear and Progress: Ordinary Lives in Franco’s Spain, 1939-1975, Antonio Cazorla Sánchez menyatakan bahwa cara Franco “menasionaliskan” masyarakat justru menghancurkan keragaman budaya setempat.

Bahasa juga terdampak. Ia mewajibkan menggunakan bahasa Spanyol. Semua dokumen pemerintahan, hukum, sampai kontrak-kontrak dagang mesti disusun dalam bahasa tersebut. Pun dengan institusi pendidikan, keagamaan, bahkan periklanan.

Walaupun Franco seorang Galician, ia tak takut mencabut undang-undang serta pengakuan terhadap bahasa Basque, Galicia, serta Katalan sebagai bahasa nasional--yang di masa lampau disahkan oleh republik.

Infografik Mozaik Perang Sipil Spanyol

Infografik Mozaik Perang Sipil Spanyol. tirto.id/Fuad

Kebebasan berpendapat, berekspresi, serta berserikat jadi kemewahan luar biasa di bawah rezim Franco. Kota dan desa diisi oleh aparat yang berpatroli. Mereka berfungsi sebagai alat kontrol dan pengawasan.

Dalam Fascism in Spain, 1923-1977 (1999), Stanley Payne mengemukakan bahwa Franco melarang keberadaan spektrum politik di luar nasionalisme yang dipromosikan pemerintah. Pihak-pihak yang melontarkan kritik, terlebih mahasiswa, dibungkam. Pembangkangan dibalas dengan represi.

Orang-orang komunis, liberal, demokrat, hingga separatis yang memperjuangkan wilayah Catalonia dan Basque dibubarkan dan dilibas. Franco mengganyang Partai Nasionalis Basque serta berusaha melenyapkan gerakan kemerdekaan Basque. Serikat pekerja Confederación Nacional del Trabajo (CNT) dan Unión General de Trabajadores (UGT) dilarang. Partai Pekerja Sosialis Spanyol dan Esquerra Republicana de Catalunya diberhentikan. Sementara Partai Komunis terpaksa bergerak di bawah tanah.

Situasi penuh teror ini berlangsung selama hampir empat dekade. Ia tidak digulingkan sebagaimana banyak pemerintahan lalim lain. Rezim ini berakhir karena Franco meninggal pada 20 November 1975.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 31 Juli 2017 dengan judul "Perang Sipil Spanyol dan Naiknya Diktator Franco". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait DIKTATOR atau tulisan lainnya dari Faisal Irfani

tirto.id - Politik
Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf & Rio Apinino