tirto.id - Ketegangan perang antara Pakistan dan Afghanistan terus meningkat. Pada Jumat (27/2/2026) pagi, Kabul dan dua provinsi Afghanistan lainnya diserang pesawat Pakistan. Serangan itu diklaim menargetkan fasilitas militer Afghanistan.
Menukil AP, setidaknya ada tiga ledakan yang dilaporkan terjadi di Kabul, meskipun informasi terkait skala serangan dan dampaknya belum dapat dikonfirmasi.
Dua sumber anonim AP menyebut bahwa serangan udara yang dilakukan Pakistan pada Jumat pagi itu menargetkan tiga lokasi, yakni Kabul, Kandahar, dan Paktia. Serangan ini diduga telah menghancurkan dua pangkalan brigade. Dua sumber anonim itu dijelaskan sebagai pejabat keamanan senior Pakistan.
Menanggapi eskalasi konflik bersenjata antara Pakistan dan Afghanistan, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mendesak agar kedua pihak melindungi warga sipil. Melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, Guterres juga mendesak kedua negara "untuk terus berupaya menyelesaikan perbedaan apa pun melalui diplomasi".
Pakistan dan Afghanistan Saling Berbalas Serangan
Serangan pesawat Pakistan ke Kabul pada Jumat pagi itu dilakukan setelah sehari sebelumnya Afghanistan melancarkan serangan lintas batas terhadap Pakistan. Kedua negara saling berbalas serangan dalam beberapa waktu terakhir.
Pada Kamis (26/2), Afghanistan menyerang pangkalan militer dan instalasi militer Pakistan di wilayah perbatasan sekitar Garis Durand. Juru bicara pemerintahan Taliban di Afghanistan, Zabihullah Mujahid, menyebut serangan ini sebagai operasi berskala besar dan bersifat ofensif.
"Operasi ofensif berskala besar diluncurkan terhadap pangkalan militer dan instalasi militer Pakistan di sepanjang Garis Durand," kata Mujahid dalam unggahan di X pada Kamis malam.
Afghanistan mengklaim telah merebut selusin pos militer Pakistan dari operasi di Garis Durand itu. Afghanistan juga mengklaim telah membunuh sejumlah tentara Pakistan.
Bagi Afghanistan, serangan pada Kamis lalu itu merupakan serangan balasan atas gempuran pesawat tempur Pakistan di wilayah perbatasan pada Minggu (22/2).
Namun, Pemerintah Pakistan menyebut bahwa gempuran pesawat tempur di perbatasan merupakan serangan terhadap kelompok militan yang bersembunyi di daerah tersebut.
Oleh karenanya, Pakistan membantah telah menyerang Pemerintah Afghanistan. Mereka juga menyebut serangan Afghanistan pada Kamis kemarin sebagai serangan tanpa provokasi, dan menolak klaim bahwa pos-pos militer telah direbut.
Jumlah Korban Jiwa Belum Pasti
Meskipun serangan udara di Kabul telah terkonfirmasi, jumlah korban jiwa akibat serangan udara itu belum bisa dikonfirmasi. Meski begitu, Pakistan menyebut bahwa jumlah korban dalam serangan pada Jumat diperkirakan mencapai ratusan orang.
Pernyataan itu disampaikan oleh juru bicara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Mosharraf Ali Zaidi. Dalam unggahan di X, Zaidi menulis bahwa "serangan di target militer Kabul, Paktia, dan Kandahar" kemungkinan akan lebih besar dari korban bentrok senjata kedua negara pada Kamis.
Zaidi mengisyaratkan hal itu sembari menjelaskan klaim bahwa Pakistan telah membunuh 133 pejuang Afghanistan dan lebih dari 200 lainnya terluka dalam baku tembak di perbatasan pada Kamis. Ia juga menyebut 27 pos Afghanistan telah dihancurkan.
Akan tetapi, jumlah korban dalam baku tembak pada Kamis juga belum bisa diverifikasi lebih jauh. Baik Pakistan maupun Afghanistan sama-sama mengklaim jumlah korban versi mereka sambil membantah keterangan satu sama lain.
Berbeda dengan Zaidi, Kementerian Pertahanan Afghanistan menyebut bahwa serangan pada Kamis telah menewaskan 55 tentara Pakistan. Beberapa jenazah tentara itu disebut dibawa ke Afghanistan, sementara "beberapa yang lainnya ditangkap hidup-hidup".
Kementerian Pertahanan Afghanistan juga menyebut bahwa hanya ada 8 orang dari pihaknya yang tewas, sementara 11 lainnya terluka. Klaim ini berlainan dengan klaim Zaidi.
Zaidi juga menolak klaim Afghanistan bahwa ada tentara Pakistan yang tewas. Sementara itu, Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar membenarkan adanya tentara Pakistan yang tewas, namun jumlahnya adalah dua orang.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id





























