Penculikan Anak Charles Lindbergh yang Jadi "Pengadilan Abad ke-20"

Charles Lindbergh Jr. FOTO/New York Times
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 2 Agustus 2018
Dibaca Normal 4 menit
Uang tebusan dibayar, tapi Lindbergh Jr. (1 tahun 8 bulan) dikembalikan sebagai mayat yang membusuk sebagian dengan bekas digigiti binatang.
tirto.id - Pada 1 Maret 1932, sekitar pukul 19.30, Betty Gow menidurkan Charles “Egg” Lindbergh Jr. ke ranjangnya, di rumah wilayah Highfields, East Amwell, New Jersey, Amerika Serikat. Betty adalah pengasuh bayi laki-laki yang baru berusia 1 tahun dan 8 bulan itu.

Ayah Lindbergh Jr., Charles Lindbergh, sedang berada di perpustakaan pribadi yang berada persis di bawah kamar anaknya. Pada pukul 21.30, tiba-tiba ia mendengar suara yang ia kira berasal dari patahnya peti-peti kayu di dapur.

Pada pukul 22.00 Betty menyadari bahwa Lindbergh Jr. sudah tidak ada di ranjangnya. Ia makin panik saat tahu bahwa si bayi tidak sedang ditimang oleh ibu kandungnya, Anne Morrow Lindbergh, yang saat itu baru selesai mandi.


Betty melaporkan hal tersebut kepada Charles. Saat memeriksa ambang jendela kamar anaknya, Charles menemukan selembar kertas. Di dalamnya berisi tuntutan tebusan dari penculik Lindbergh Jr. yang ditulis dengan tata bahasa dan tulisan tangan yang buruk.

Intinya si penculik meminta uang tebusan sebesar $50.000 dalam berbagai pecahan. Dalam dua hingga empat hari usai si penculik akan menginformasikan ke mana uang mesti dikirim. Ada keterangan agar keluarga Lindbergh tidak menghubungi polisi atau nyawa Lindbergh Jr. akan terancam.

Charles kemudian memeriksa seisi rumah ditemani kepala pelayan Olly Whateley dan sepucuk senjata. Di tembok luar rumah mereka menemukan potongan tangga untuk pelaku naiki hingga ambang jendela kamar Lindbergh Jr. Bukan tangga biasa, namun yang dirancang khusus untuk aksi penculikan.


Whateley kemudian menelpon kepolisian setempat. Charles menghubungi pengacara dan teman baiknya, Henry Skillman Breckinridge, juga kepolisian negara bagian New Jersey. 20 menit berselang, polisi sudah dalam perjalanan menuju tempat kejadian perkara (TKP).

Kisah nyata tersebut diambil dari Hauptmann's Ladder: A Step-by-Step Analysis of the Lindbergh Kidnapping yang ditulis oleh Richard T. Cahill Jr. Buku tersebut diterbitkan oleh Kent State University Press pada 1 Maret 2014 atau tepat di peringatan ke-82 tahun penculikan Lindbergh Jr.

Charles Lindbergh, Pionir Penerbangan Lintas Atlantik

Kabar penculikan menyebar dengan cepat serta segera menjadi perhatian publik di seantero AS. Pasalnya, Charles Lindbergh bukan orang biasa. Ia adalah orang pertama yang melintasi Atlantik melalui penerbangan solo, dan oleh karenanya memenangkan Penghargaan Orteig.


Lindbergh bukan siapa-siapa saat sebelumnya bekerja sebagai pilot di U.S. Air Mail. Namun kehidupannya berubah 180 derajat saat memecahkan rekor penerbangan dari Rosevelt Field, Long Island, New York, menuju Paris, Perancis, pada tahun 1927. Kala itu usianya masih amat belia: baru 25 tahun.

Charles mengendarai pesawat monoplane yang dirancang khusus dengan menggunakan mesin tunggal, bernama Spirit of St. Louis. Selama 33,5 jam, ia menempuh jarak total 5.800 kilometer. Prestasi ini juga membuat pria kelahiran Detroit, 4 Februari 1901, itu diganjar Medal of Honor— dekorasi militer paling prestisius di Amerika Serikat.

Karier Charles selanjutnya merentang di bidang penerbangan, penulis (yang bukunya juga diberi penghargaan prestisius), penemu, petualang, hingga aktivis lingkungan. Ia hidup di tengah-tengah lingkungan elite AS yang dihuni oleh para pemegang jabatan penting di pemerintahan, juga pebisnis sukses dan profesi lain.


Kembali mengutip T. Cahill, polisi kesusahan melacak pelaku sebab tak ada bekas sidik jari di TKP. Cuma ada sidik jari Lindbergh Jr. di ranjangnya. Ahli kemudian menyimpulkan pelaku menggunakan sarung tangan atau jenis aksesori penutup tangan lain.

Berangkat dari analisis tulisan dalam catatan yang ditinggalkan penculik, Charles dan kawan-kawan elitenya berasumsi pelaku adalah seseorang yang sehari-hari berbicara memakai bahasa Jerman. Mereka juga menengarai pelaku adalah organisasi kriminal profesional.

Kabarnya, sejumlah pentolan organisasi kriminal yang masih berada di balik jeruji penjara turut menawarkan pertolongan. Al Capone adalah salah satunya. Ia menawarkan bantuan yang diklaim akan lebih efektif ketimbang kerja-kerja kepolisian.


Charles menolaknya. Ia dan kepolisian New Jersey justru menawarkan kepada siapa saja yang bisa menemukan anaknya akan diberi hadiah total $75.000. Nilai uang tersebut tergolong amat fantastis di era Amerika Serikat yang kala itu sedang menderita krisis ekonomi hebat (dikenal dengan nama Depresi Besar).

Arsip Biro Investigasi Federal AS (FBI) mencatat seminggu setelah penculikan ada surat dari pelaku yang dikirim langsung ke rumah Charles. Surat itu diberi cap pos tertanggal 4 Maret 1932 di Brooklyn, New York.

Isinya meminta John Condon mesti jadi perantara antara Charles dan pelaku. John Condon adalah pensiunan kepala sekolah salah satu tokoh berpengaruh asal Bronx, New York.

Pelaku meminta pemberitahuan dari pihak Charles dipublikasikan dalam surat kabar. Ada pula instruksi kotak uang tebusan dan lagi-lagi peringatan agar Charles tidak menghubungi kepolisian.


Pada satu sore Condon sempat menghadiri pertemuan yang diatur oleh pelaku di Pemakaman Woodlawn di Bronx. Pelaku mengaku bernama John. Bagi Condon suaranya terdengar seperti orang luar AS. Pelaku bilang Lindbergh Jr. masih aman dan akan segera dikembalikan saat tebusan sudah diterima.

Uang tebusan dikemas dalam kotak kayu yang dibuat khusus dengan harapan nanti dapat diidentifikasi. Disertakan pula sertifikat emas, yang akan ditarik dari peredaran, dan diharapkan akan menarik perhatian siapa pun yang membelanjakannya. Uangnya tidak ditandai tetapi nomor serinya dicatat.

Pada tanggal 2 April Condon bertemu pelaku yang mengaku sebagai John dan berkata kepada bahwa pihak korban hanya mampu mengumpulkan $50.000. Pelaku menerima uang tersebut dan memberi Condon sebuah catatan yang mengatakan bahwa Lindbergh dalam perawatan dua perempuan baik-baik.


Entah pelaku berbohong atau perlakuan dan kondisi di tempat Lindbergh Jr. ditahan memang tidak manusiawi. Kenyataannya Lindbergh Jr. ditemukan sudah tak bernyawa pada 12 Mei 1932 di sebuah hutan yang berjarak sekitar 7 km dari selatan rumahnya.

Kriminal Jerman

Seorang supir truk bernama William Allen saat itu ingin buang air kecil dan melihat mayat Lindbergh dalam kondisi tengkoraknya retak parah, sebagian membusuk, sebagian seperti bekas digigiti binatang. Mayat seperti sempat dikubur dengan buru-buru. Identifikasi polisi mengungkap indikasi kematian korban akibat pukulan di kepala.

Berita soal kekejaman pelaku menyebar dengan cepat, menekan pihak kepolisian untuk bekerja lebih keras. Upaya mereka, selain dicatat oleh FBI, juga dipaparkan dalam Douglas Linder, akademisi University of Missouri at Kansas City bertajuk The Trial of Richard "Bruno" Hauptmann: An Account (2007).


Douglas menulis pihak kepolisian fokus melacak kemana uang tebusan dibelanjakan. Hasil dari penyelidikan selama 30 bulan menyatakan uang dibelanjakan di sekitar New York. Salah satu transaksi merujuk ke pembelian bensin di sebuah pom di kota tersebut.

Manajer pom sempat mencatat pelat mobil sebab pemiliknya bersikap mencurigakan seperti seorang penipu. Setelah diperiksa, pelat mobil merujuk pada sedan kepunyaan Richard Hauptmann yang beralamat di 1279 East 222nd Street di Bronx. Hauptmann adalah imigran dari Jerman yang punya catatan kriminal.

Saat polisi menangkap Hauptmann di rumahnya, ia masih kedapatan menyimpan sertifikat emas senilai $20 dolar dan uang tebusan senilai lebih dari $14.000 di garasinya. Saat diinterogasi, Hauptmann ngotot mengklaim uang itu ditinggalkan oleh temannya yang pulang dan meninggal di Jerman.


Hauptmann mengelak dari segala tuduhan bahwa yang dipegangnya adalah uang tebusan. Sayangnya bukti-bukti yang ditemukan polisi di rumahnya berkata sebaliknya. Banyak yang mengaitkan dirinya kepada kasus penculikan Lindbegrh.



Ada buku catatan yang berisi sketsa pembuatan tangga yang serupa dengan model tangga yang ditemukan di rumah Charles. Alamat dan nomor telepon John Condon tertulis di lantai kloset rumat. Sepotong kayu yang setelah diperiksa ahli sama persis dengan kayu yang dipakai untuk membuat tangga penculikan juga jadi bukti utama.


Semuanya memberatkan Hauptmann di persidangannya yang digelar di Hunterdon County Courthouse di Flemington, New Jersey. Acara hari itu dijuluki “Pengadilan Abad Ini (ke-20)” mengingat popularitas kasusnya. Media lokal dan nasional rajin meliput. Masyarakat AS menonton langsung atau menyimak persidangan dengan rasa muak kepada Hauptmann.

Di akhir persidangan, Hauptmann akhirnya didakwa bersalah atas penculikan, pembunuhan, dan pemerasan dalam kasus Lindbergh Jr. Ia dijatuhi hukuman mati di kursi listrik, yang eksekusinya dijalankan pada 4 April 1936.

Baca juga artikel terkait PENCULIKAN atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Hukum)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight