Menuju konten utama

Pemerintah Sadari Potensi Risiko Kurs Jika Gandeng Investor Asing

Pemerintah mengajak investor asing untuk ikut serta dalam pembiayaan infrastruktur dan menyadari potensi risiko kurs atas keputusan tersebut.

Pemerintah Sadari Potensi Risiko Kurs Jika Gandeng Investor Asing
Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati menyampaikan sambutannya pada rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018). ANTARA FOTO/ ICom/AM IMF-WBG/Nicklas Hanoatubun.

tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyadari potensi risiko kurs saat mengajak investor asing untuk ikut serta dalam pembiayaan infrastruktur. Selain risiko dari sisi mata uang, sejumlah hal lain yang juga perlu diperhatikan ialah terkait dengan risiko jatuh tempo dan durasi komitmen yang panjang.

“Pemerintah Indonesia terus mengupayakan agar kebijakan moneter bisa menciptakan proyek dengan keseimbangan yang baik, memperbanyak instrumen, serta lebih banyak pembiayaan ekuitas,” kata Sri Mulyani dalam forum Indonesia Investment Forum 2018 di Conrad Hotel, Bali pada Selasa (9/10/2018).

Lebih lanjut, Sri Mulyani mengatakan pemerintah juga tengah mengadaptasi sejumlah skema pembiayaan yang inovatif. Menurut Menkeu, perlu adanya pemahaman terhadap apa yang menjadi fokus dari sektor privat sehingga dapat menggerakkannya untuk ikut serta dalam pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan risiko kerugian kurs bisa diantisipasi dengan mendiversifikasi produk lindung nilai (hedging). Berdasarkan penuturan Perry, risiko yang timbul memang tak hanya dari sisi kurs, melainkan juga dapat menimbulkan risiko likuiditas maupun risiko suku bunga.

Adapun Perry mengatakan penarikan pinjaman berupa valas dalam jumlah besar merupakan salah satu pemicu dari risiko tersebut. “Komitmen BI dalam hal infrastruktur ialah untuk memastikan manajemen risiko pasar dalam pembiayaan. Kami sudah maju dalam foreign exchange swap (penukaran valas dengan rupiah),” kata Perry.

Masih dalam kesempatan yang sama, Menteri BUMN Rini Soemarno menyebutkan mata uang rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS malah berpotensi menguntungkan investor. Menurut Rini, sejauh perencanaan pembangunan proyek infrastruktur berjalan baik, maka iklim investasi di Indonesia tidak akan mengalami kendala.

“Dengan dolar rupiah melemah sedemikian, untuk investor asing malah menjadi potensi bagus. Mereka mengonversi dolarnya dengan harga seperti [saat] ini,” ungkap Rini di Conrad Hotel, Bali pada Selasa (9/10/2018).

Lebih lanjut, Rini mengindikasikan tren perekonomian negara ke depannya dengan mengacu pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini berada di kisaran 5 persen. Rini meyakini akan ada peningkatan jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia ke depannya. Dengan demikian, ketika mata uang Indonesia menguat, situasinya bisa menjadi lebih atraktif.

“Tentunya 5 tahun dari sekarang bukan hanya return of investment saja yang diharapkan, tetapi juga dari return of exchange,” ucap Rini.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR atau tulisan lainnya dari Damianus Andreas

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Damianus Andreas
Penulis: Damianus Andreas
Editor: Maya Saputri