Pembangunan Bendungan Bener Diduga untuk Suplai Air ke Bandara YIA

Reporter: Irfan Amin, tirto.id - 14 Feb 2022 18:24 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Pakar hukum lingkungan UGM menilai pemerintah terburu-buru menggarap Bendungan Bener agar bisa segera menyuplai air ke Bandara YIA Kulon Progo.
tirto.id - Pakar hukum lingkungan dari Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada (UGM) Wahyu Yun Santoso melihat penambangan quarry di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Purworejo, Jawa Tengah untuk pembangunan Bendungan Bener berkaitan dengan keberadaan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA).

Menurutnya air yang ada di Bendungan Bener nantinya akan dialirkan ke Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya menyuplai di kawasan Bandara YIA dan sekitarnya.

"Akan ada dua bendungan yang menjadi penyuplai air di Kulon Progo, yaitu Bendungan Kamijoro yang ada di Kecamatan Sentolo, dan Bendungan Bener yang ada di Purworejo," kata Wahyu saat dihubungi Tirto pada Senin (14/2/2022).

Wahyu menganggap alasan pemerintah terburu-buru dalam menggarap Bendungan Bener sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) karena berkaitan dengan Bandara YIA.

"Pemerintah sebelumnya berencana membangun Kulon Progo sebagai kawasan aerotropolis karena adanya Bandara YIA. Namun secara Amdal [Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) tidak boleh mengambil dari tanah Kulon Progo," terangnya.

Oleh karenanya, Wahyu memiliki kesimpulan Bendungan Bener yang ada di Purworejo menjadi alternatif pasokan air untuk kawasan aerotropolis yang sedang dibangun tersebut.

"Sebetulnya sudah ada Bendungan Kamijoro, namun secara kebutuhan air dirasa masih kurang, dan Bendungan Bener menjadi pilihan karena lokasinya yang paling dekat," ujarnya.

Dengan adanya Bendungan Kamijoro, Wahyu menyebut Pemda DIY sempat angkat tangan dan tidak memiliki korelasi terhadap Bendungan Bener.

"Sebelumnya Pemda DIY sempat angkat tangan, namun jika melihat dokumen Amdal maka kemungkinan untuk mencari lokasi sumber air tidak cukup bila hanya dipenuhi dari Bendungan Kamijoro," ungkapnya.

Selain itu, Wahyu juga menyoroti mengapa saat proses pengukuran tanah terjadi kerusuhan antara warga dengan aparat. Dirinya mencurigai ada proses yang belum selesai antara warga dengan pemerintah dalam proses pembebasan lahan.

"Seharusnya pengukuran tanah sudah selesai saat penentuan lokasi, kenapa sekarang baru ramai? Padahal proses pembebasan Desa Wadas sudah terjadi sejak lama," jelasnya.

Dirinya menuturkan bahwa masyarakat saat ini terutama di Desa Wadas sudah mulai belajar untuk memperhitungkan kebijakan yang ditawarkan pemerintah, terutama melihat dua kasus sebelumnya yaitu di Kendeng dan juga Tuban.

"Di Kendeng warga menolak sampai PTUN namun proyek tetap jalan, dan di Tuban warganya diberi ganti untung namun kebingungan saat lahannya hilang karena sudah tidak ada lagi pekerjaan. Dari sanalah warga belajar," jelasnya.

Tim Badan Pertanahan Nasional (BPN) mendatangi Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, untuk mengukur lahan yang akan dijadikan lokasi pertambangan quarry untuk pembangunan Bendungan Bener. BPN menurunkan 80 pengukur atau 10 tim, mereka menargetkan 200 bidang tanah yang diukur per hari.

Tujuan pengukuran untuk mengetahui fisik dan kepemilikan tanah. Kemudian, terdapat mata air pada quarry 114 hektare. Satu mata air ada di lokasi tersebut, 24 mata air ada di luar lokasi yang akan dilakukan penggalian. Berdasarkan penelitian tim, di titik-titik tersebut tidak ada cekungan air tanah. Jadi, sedikit air di patok-patok itu. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Kanwil ATR/BPN Provinsi Jawa Tengah, Dwi Purnama, di Polres Purworejo, Rabu, 9 Februari 2022.

Dari 114 hektare, 60 hektare akan diperuntukkan mengambil galian andesit, sementara sisanya untuk menyimpan humus. Humus itu akan dikembalikan lagi dan tanah bisa ditanami kembali.

Berdasar data Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas, Bendungan Bener total investasi bangunan ini mencapai Rp2,060 triliun, dengan skema pendanaan dari APBN.

Bendungan ini direncanakan akan memiliki kapasitas 100.94 m³, diharapkan dapat mengairi 15.069 hektare lahan, mengurangi debit banjir 210 m³/detik, menyediakan pasokan air baku sebesar 1,60 m³/detik, dan menghasilkan 6,00 MW listrik.



Baca juga artikel terkait PROYEK BENDUNGAN JOKOWI atau tulisan menarik lainnya Irfan Amin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Bayu Septianto

DarkLight