Pekerja Kesehatan Mental Banyak Peminat, tapi Kuliahnya Mahal

Oleh: Aulia Adam - 6 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Masalah tersembunyi pendidikan psikologi di Indonesia: negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini kekurangan pekerja kesehatan mental.
tirto.id - Wan Luthfia mendapatkan skor 521 untuk nilai ujian tulis berbasis komputer (UBTK) demi seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) gelombang pertama. Meski panitia seleksi atau Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) menyatakan nilai rata-rata gelombang itu 400-600, Luthfia masih ragu atas pencapaiannya.

“Nilainya rata-rata tapi peluang ditolaknya besar. [Sementara] daya tampungnya sedikit, dengan nilai yang pertama, peluang enggak lulusnya besar,” katanya, mengincar jurusan psikologi Universitas Indonesia.

Daya tampung jurusan itu hanya 80 kursi untuk jalur SBMPTN. Tahun lalu, untuk jalur yang sama, jumlah pelamarnya mencapai 830 orang.

Alasan Luthfia masuk akal. Tapi ia tak menyerah begitu saja. Kini ia mempersiapkan diri mengikuti tes UBTK gelombang kedua pada 13 Mei nanti. Ia berharap nilainya bisa lebih tinggi biar bisa dipakai jalur SBMPTN.

Semangatnya merebut salah satu kursi di Psikologi UI bukan kaleng-kaleng. Jika gagal via jalur pertama, ia sudah berniat ikut jalur Seleksi Masuk (SIMAK) UI yang diadakan belakangan, meski daya tampungnya lebih sedikit lagi, hanya 60 kursi, dan biayanya besar.

Jurusan psikologi cukup populer. Tahun lalu, lewat tiga jalur yang disediakan UI, yakni SNMPTN, SBMPTN, dan SIMAK, total pelamarnya sampai 5.181. Setahun sebelumnya, lewat Riset Mandiri Tirto pada April 2017, jurusan psikologi adalah favorit kedua setelah ilmu komunikasi.


Selain akreditasinya yang bagus, Psikologi UI punya reputasi baik di mata calon mahasiswa sehingga peminatnya jarang sepi.

Ibrahim adalah salah satu calon mahasiswa yang tertarik jurusan Psikologi UI tahun lalu. Ia bercita-cita menjadi psikolog yang bisa buka praktik sendiri. “Belajar psikologi itu menarik, bisa tahu banyak hal tentang kejiwaan. Ilmu yang masih jarang dipahami orang Indonesia,” katanya.

Namun, ia gagal masuk lewat jalur SNMPTN, sementara keuangan orangtuanya tak mampu menyangga dia ikut jalur SIMAK UI. Atas saran ayah dan ibunya, Ibrahim akhirnya berganti cita-cita, pindah jurusan ke Ilmu Komputer. Kini, sambil bekerja, ia kuliah di perguruan tinggi swasta di Bandung.

“Alasan utamanya biaya. Orangtua saya terang-terangan bilang enggak sanggup kalau harus nunggu saya tamat ambil spesialis untuk jadi psikolog klinis,” Ibrahim berkata sambil tertawa.

Alasan lain, orangtuanya masih ragu bahwa pekerjaan psikolog bakal cepat menyejahterakan anaknya. Sebagaimana pandangan banyak orang, mereka ragu banyak orang butuh psikolog. Menurut orangtuanya, pekerjaan di teknologi informasi banyak dicari, thus peluang kerjanya lebih terbuka.

Biaya kuliah yang mahal, sementara keuangan orangtua yang terbatas, membuat tak semua anak di Indonesia bisa mewujudkan impian bisa kuliah di jurusan favorit.

Di kampus negeri seperti UI atau Universitas Gadjah Mada, biaya kuliah psikologi untuk kelompok Uang Kuliah Tunggal (UKT) 1 alias terendah bisa Rp500 ribu per semester. Artinya, tak semuanya bisa menampung anak dari keluarga pas-pasan sehingga perlu seleksi. Sementara biaya UKT 9 alias tertinggi mencapai Rp12,5 juta per semester untuk tahun ajaran 2019/2020, sehingga hanya anak-anak dari kelas lapisan menengah-kaya yang bisa mendapatkan bangku kuliah.

Di swasta, harganya bisa lebih mahal. Biaya kuliah psikologi satu semester di Universitas Atma Jaya Jakarta bisa Rp39 juta, dengan pembayaran awal Rp59,94 juta. Demi bisa mewujudkan impian seorang anak tahun ajaran 2019/2020 sebagai sarjana psikologi, orangtuanya harus menganggarkan sekitar Rp195,23 juta.


'Seperti dokter spesialis'

Apakah jurusan ini sepi peminat? Jawabannya tidak.

Dari data PPDIKTI pada pelaporan tahun ajaran 2018/2019, saat ini ada 83.230 mahasiswa psikologi yang terdaftar aktif di 240 perguruan tinggi di Indonesia. Tapi, bisa saja cuma diisi dari golongan kelas mampu.

“(Biaya kuliah) fakultas dan prodi (program studi) psikologi di Jabodetabek kira-kira Rp14-25 juta per semester,” kata Ade Iva Murty, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila. “More or less di sekitar itulah."

Ade Iva adalah sekretaris Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia, yang dari namanya perhimpunan ini berwenang mengesahkan fakultas atau prodi psikologi untuk masuk asosiasi tersebut.

Menurut Iva, biaya kuliah mahal itu terkait fasilitas yang harus dilengkapi kampus demi akreditasi dari Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

Belum lagi, untuk bisa jadi psikolog klinis, seorang sarjana psikologi harus melanjutkan konsentrasi di Psikologi Klinis, tentu saja memakan waktu dan biaya. “Kurang lebih kayak dokter yang ambil spesialis,” tambah Iva.

Jalannya juga berbelit. Mereka harus diverifikasi oleh Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia agar mendapatkan Surat Izin Praktek Psikolog Klinis. Aturan ini relatif baru karena profesi psikolog klinis baru diakui pemerintah pada 2008.

Ratna Yunita Setiyani di The Conversation menulis layanan kesehatan jiwa di Indonesia masih minim. Ia menyebut, tenaga psikolog klinis di Indonesia hanya berjumlah 451 sehingga tak cukup mengimbangi 250 juta penduduk Indonesia.

WHO menetapkan standar jumlah tenaga psikolog dan psikolog klinis dengan jumlah penduduk adalah 1:30.000 orang. “Dengan kata lain, untuk 250 juta penduduk Indonesia, diperlukan 7.500 tenaga profesional layanan psikologi,” tulis Setiyani memakai data Riskesdas 2013.


Infografik Psikolog Psikiater
Infografik Psikolog Psikiater Mahal


Menurut Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, jumlah profesi ini telah meningkat. Mereka sudah memverifikasi 1.143 psikolog klinis dari total anggota 1.719 per 5 Mei 2019. Tapi, angka ini belum mampu memenuhi standar WHO.

Dari data yang sama, persebaran para psikolog klinis masih terfokus di Pulau Jawa, dengan angka tertinggi di Jakarta (321 orang), Yogyakarta (246), Jawa Timur (228), Jawa Tengah (209), Jawa Barat (152) dan Sumatera Barat (54).

“Enggak bisa ditampik, memang (layanan) psikolog-psikolog di Indonesia masih terfokus di kota-kota besar,” kata Iva, yang menurutnya bisa disebabkan banyak faktor, terutama akses pendidikan yang lebih memadai di kota besar.

Iva juga berkata lapangan pekerjaan lulusan psikologi sudah cukup luas. “Bisa menjadi asisten psikolog (yang buka praktik), HRD (personalia), peneliti, bahkan guru di sekolah-sekolah,” katanya.

“Orang-orang kebanyakan memang tahunya masuk psikologi itu cuma bisa jadi psikolog yang buka praktik, padahal masih banyak bidang lain,” tambah dia. “Tapi, wajar, karena yang diatur cuma psikolog klinis. Kalau (profesi) lain, regulasinya belum cukup mewadahi.”


Arung Samudra Adam adalah salah satu sarjana psikologi UI yang kini bekerja sebagai assessor. Jasanya biasa dipakai perusahaan-perusahaan demi pengembangan sumber daya manusia. “Misalnya bikin tes buat karyawan yang mau naik jabatan atau menilai first recruit,” katanya.

Adam menilai celah dalam pendidikan psikologi di Indonesia adalah tiada jaminan jika seorang sarjana psikologi melanjutkan magister psikolog klinis akan berdampak pada kuantitas yang tersedia.

“Kalau di luar, setahuku, ada kampus yang bikin S-1 dan S-2 Psikolog Klinis satu paket. Jadi, setelah lulus S-1, dia udah langsung lanjut S-2 dan jadi Psikolog Klinis,” terang Adam.

Cara itu bisa mengantisipasi jumlah tenaga psikolog klinis di Indonesia yang masih minim dan belum tersebar merata.

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight